Namanya Syahroni, paling senang dipanggil Roron. Entah kenapa dan bagaimana orang tuanya bisa memberi nama yang rada mirip dengan penyanyi yang lagi tenar di Indonesia. Tapi Alhamdulillah yah, nama itu mampu bertengger di barisan mahasiswa Unlam Banjarbaru. Do’i merupakan anak perantauan yang berasal dari kampung nan jauh di hulu dan sedang mencoba menyelami kehidupan di Banjarbaru. Tinggal di kota besar yang serba maju, maju pemerintahannya, maju fasilitasnya, maju juga congornya (lho.. ga nyambung) membuat Roron termotivasi untuk mengikuti style ala anak kota. Kalau bicara masalah gaya, Roron yang jadi nomor satunya. Bagaimana tidak, dari rambut sampai ujung kuku kaki selalu ia perhatikan. Entah kenapa anak itu sangat terobsesi untuk menjadi sosok yang mirip dengan tokoh Edward di film Twilight Saga. Kalau dari fisik, bisa dibilang Si Syahroni hampir nyamain si cakep Robert Pattinson itupun jika dilihat dari mahkota patung Liberti saja. Kalau dari dekat, ampun cing, siap-siap pakai kacamata hitam berlapis biar tidak bisa melihat wajah aslinya.
Roni yang aslinya merupakan anak kampung biasa ternyata bisa boros juga. Maklum, dia adalah anak seorang petani sukses di kampungnya sehingga uang bulanan pun terus mengalir kaya derasnya air di kali. Bahkan, kadang-kadang dia dikasih uang lebih untuk membeli pakaian baru plus perlengkapan untuk perawatan tubuh dari shampo, pembersih wajah, dan lain-lain pokoknya komplit, tapi tetep aja kodrat wajah tidak laku menempel pada dirinya.
Di hari yang tidak panas, tidak dingin, tidak juga keduanya. Terlihat Roron sedang duduk di bangku panjang dengan wajah yang tertunduk lesu. Tangannya memegang sebungkus kacang kulit rasa bawang. Melihat wajah Roron yang layu kaya pohon lagi kekurangan air memancing temannya Afri untuk mendekat.
“Oi Ron, , busyet dah!!!” ekspresi Afri begitu terkejut melihat Roron yang tengah memakan kulit kacang bawang. “Lu doyan isi kacang apa kulitnya sih?”tanya Afri lagi.
“Hikss..hancur reputasi gua sebagai orang terkeren gara-gara ketahuan suka makan kulit kacang.”Roron berkata dengan lelehan air mata yang menganak sungai.
“Kenapa lu Ron?, ada masalah?”Afri kembali bertanya masih dengan nada heran plus bingung.
“Gue lagi sedih Fri, Emak gue barusan nelpon dan ngasih kabar buruk kalo bisnis abah di kampung gatot, gagal total. Itu sama artinya, uang bulanan gua bakalan makin kering Fri,,.Huaaaaa gue rasanya ga sanggup!!!”tangis Roron makin meledak.
“Ya elah, gara-gara bakal ga dapat uang jajan lebih aja nangisnya kaya anak yang baru lahir.”
“Gimana gue ga nangis Fri, lo tau aja kan gue ini paling seneng shopping, pokoknya apa yang gue butuhin selalu bisa kebeli biar ga ketinggalan sama style anak kota gitu. Lo tau juga kan, itu semua gua lakukan demi bisa mendapatkan si cakep, manis, asem, asin rame rasanya alias Tina yang gue udah idemin dari zaman baheula.” kata Roron dengan mulut yang masih bersumpal kulit kacang.
“Ah lu Ron, mau-maunya ketipu ma anak-anak kota. Lu ga mikir apa?, pentingan mana si style sama cita-cita elu buat jadi sarjana? kalo cuman mikirin buat ngikutin zaman modern doang mah belum tentu ada untungnya, mendingan elu fokus ke kuliah aja dulu. Buat tuh Abah-Emak lu jadi angkat kerah baju alias bangga sama anak semata kayang kaya lu.”
“Semata wayang kali.”sanggah Roron.”Benar juga kata lu Fri, gue mesti bisa ngebahagiain Mak-Abah gua di kampung. Mungkin gue bisa nyari tambahan ongkos dengan bekerja apa aja, yang penting halalan bang thoyyib.”sambung Roron kembali.
“Bang Thoyyib?, ternyata lu sama oon nya juga kaya gue,,hehe. Ya udah lah Ron, gue setuju aja deh ama jalan hidup yang lo pilih. Gue mah cuman bisa doain aja moga lu berhasil menjalani tantangan kehidupan di kota besar ini. Biar lebih memotivasi, buat tuh proposal hidup lo dengan judul ‘Syahroni vs Banjarbaru’, isinya lu harus mampu menaklukan kota yang maju ini untuk menjadi seorang yang sukses. Keren kan?”
“Bener juga kata lu, thanks ya sob, lu udah jadi lampu penerang di hidup gue, walaupun kulit lu ga terang-terang amat.” canda Roron sambil mengamati warna kulit Afri yang hitam gelap mirip orang Afrika.
“Dasar lu, Gue mau pergi dulu nih. Eh, kacangnya buat gue aja ya,mubazir kalo lu cuman makan kulitnya doang.” ucap Afri sambil menyabet bungkusan kacang dari tangan Roron. Roron hanya diam dan tersenyum melihat tingkah temannya yang satu itu.
Setelah pulang dari kuliah, Roron langsung menuju kosnya dan memanjat balkon lantai atas. Entah kenapa dia merasa seakan mendapat suntikan semangat dari kata-kata Afri tadi. Dengan penuh emosi dia memasang kuda –kuda layaknya orang yang ingin main silat, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“Ga ada kata menyerah dalam hidup gue buat menaklukan tantangan Banjarbaru, Gue akan berusaha untuk merebut titel sukses dan memajangnya di dada gue, dinding kamar gue, kaca WC gue, atau perlu mading kampus sekalian. Pokoknya duel Syahroni Vs Banjarbaru bakal gue menangin. Hidup Syahrini, eh Syahroni…!!!”
‘Pletakkk’ tiba-tiba sebuah gayung terbang dengan sasaran yang tepat mengenai dahi Roron.
“Aduh” Roron meringis sambil memegang jidatnya.
“Woy, kalau mau latihan drama jangan teriak-teriak di sini, gue udah cape nidurin anak gue kebangun lagi gara-gara denger suara lo yang cempreng itu. Pergi sana lo!” ucap seorang ibu yang ada di seberang jalan penuh emosi. Mukanya merah padam kaya kepiting rebus.
“Waduhh berabe gue. Cabut dulu ah.” tanpa wajah bersalah, Roron langsung ambil langkah sejuta meninggalkan ibu-ibu yang lubang hidungnya membesar karena marah.
Hari pertama harapan pertama. Dengan pedenya Roron melangkah menelusuri jalan besar Banjarbaru. Bermodalkan ijazah SMA, KTP, uang secukupnya, air mineral, plus minyak kayu putih (takut kalo ntar masuk angin.Eitss buat anak jangan coba-coba), Roron berharap bisa menemukan pekerjaan nantinya. Namun, mencari pekerjaan di kota besar dengan modal ijazah SMA saja tak bisa menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya hari pertama itupun hanya berujung nihil.
Iseng-iseng, Roron mencoba mencari lowongan pekerjaan di koran. Tiba-tiba matanya membulat ketika melihat sebuah tulisan yang tercetak dikolom paling kiri, “DICARI OFFICE BOY”. Tanpa pikir panjang kali lebar, Roron langsung tancap gas menuju alamat yang di maksud. Sesampainya di TKP, dengan wajah lugu selugu-lugunya, Roron memasuki ruang penerimaan pegawai baru.
“Kamu mahasiswa?, apa kamu ga malu jadi office boy?”, tanya bapak-bapak yang kumisnya tebal. Saking tebelnya Roron jadi geli ketika melihat bapak itu berbicara kumisnya juga ikut bergerak
“Kenapa harus malu Pak, yang penting kan halal.” ucap Roron senyum-senyum dan masih memerhatikan kumis bapak itu. (wah ga konsen ni anak)
“Baiklah nak, Syahrini.”
“Syahroni Pak.”
“Oh iya, Syahroni. Mulai besok kamu sudah bisa menjadi officeboy. Ini ada peraturan kepegawaian di perusahaan, jangan hanya dibaca, namun juga diterapkan.”ucap bapak itu tegas.
“Oh iya, Syahroni. Mulai besok kamu sudah bisa menjadi officeboy. Ini ada peraturan kepegawaian di perusahaan, jangan hanya dibaca, namun juga diterapkan.”ucap bapak itu tegas.
Wah, girang banget tuh si Roron karena sudah diterima kerja walaupun hanya sebagai Office boy. Ga tanggung-tanggung, pas sampai rumah dia langsung sujud syukur 5 jam, alias 5 menit sujud syukurnya sisanya ketiduran. Walaupun agak gengsi, mau tidak mau dia menerima pekerjaan itu dari pada harus keluyuran gak jelas buat mencari pekerjaan yang agak tinggian.
Hari pertama kerja. Roron sudah punya tekad bulat sebulat pentol langganannya untuk menjadi karyawan yang baik. Pagi-pagi dia udah stand by di kantor. Dan tanpa menunggu perintah, dia udah berinisiatif sendiri untuk membersihkan tempat itu. Seperti membersihkan kaca pintu, kaca jendela, kaca WC, hingga kacamata para pegawai lain juga ikut ia bersihkan(saking rajinnya).
Seminggu sudah ia bekerja di perusahaan yang lumayan terkenal di Banjarbaru itu. Walaupun jadwal kerja agak padat, tapi dia bisa me-managenya agar tidak terbentur dengan jadwal kuliah. Selain itu, pekerjaan baru ini juga berdampak positif, jadi dia tidak menghabiskan waktu untuk berhura-hura layaknya anak-anak muda KuKer, alias kurang kerjaan.
Sabtu siang. Saat itu Roron tengah mengepel lantai di depan ruang direktur perusahaan. Entah kenapa Roron merasa agak gugup jika harus bertemu dengan Pak direktur. Mungkin karena ia merasa auranya kepemimpinannya kalah dengan orang nomor satu di perusahaan itu. Ya iyalah jelas kalah, wong Roron hanya menjadi pemimpin geng anak kecil yang suka nongkrong di warung PS.
Masih dengan wajah serius walaupun ga serius-serius amat, Roron mengepel lantai berkeramik putih. Tiba-tiba..
“Syahron!.” sapa seorang gadis.
“Ti..Tina.” Roron sangat terkejut melihat sosok gadis yang ternyata bernama Tina, gadis yang telah lama ia sukai. Seketika saja sapu yang dipegangnya jatuh ke lantai.
“Kamu kerja di sini?” tanya Tina, sambil memerhatikan seragam biru yang dipakai Roron.
“I..iya.”jawab Roron terbata-bata.
“Oh,, emm.. kamu liat Pak Rudi ga?”tanyanya lagi.
“Pak. Ru..Ru.”
“Iya, Pak Rudi, bukan Ruru. Kamu kenapa sih, kok jadi orang yang ga bisa ngomong gitu?” Tina heran.
“Ga papa, tapi Pak Rudi yang mana ya?”, tiba-tiba saja Roron berbicara dengan lancarnya.
“Masa ga tau, Pak Rudi kan direktur perusahaan ini.”jelas Tina.
Baru saja beberapa detik mereka berbicara, tiba-tiba orang yang dimaksud datang ke arah mereka.
“Tina, ada apa?”
“Ayah.”
Jreng..jreng…AYAH…ternyata Pak direktur yang bernama Rudi itu adalah ayahnya Tina. Seketika saja, Roron merasa ciut di hadapan mereka berdua. Tak bisa ia bayangkan, ternyata selama ini dia mencintai seseorang yang sudah jelas berlevel jauh di atasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tina meninggalkan Roron yang tengah terpatah-patah hatinya. Dramatis!
Malam yang dingin, sedingin hati Roron yang sedang dilanda salju kesedihan. Afri yang saat itu tengah menikmati kopi susunnya terpencing lagi untuk bertanya pada Roron.
“Kenapa Ron?”tanya Afri.
“Lagi murung.” jawab Roron, singkat.
“Murung ga murung sama aj ekspresi muka lu, susah dibedain..hehe.”canda Afri. Namun itu tak bisa membuat Roron tersenyum.
“Gue berangkat kerja dulu ya.”Roron berkata sambil mengambil tas kecilnya dari atas kasur.
“Lu ga mau curhat dulu sama gue?”,
“Ga, gue mau mempersingkat waktu biar ga telat berangkat kerja.”
“Emang waktu bisa dipersingkat ya?hehe” Afri berbicara sendiri sambil memerhatikan Roron yang berjalan keluar hingga bayangannya menghilang dibalik pintu.
Beberapa menit kemudian Roron telah tiba di kantor. Masih dengan wajah yang murung ia meraih peralatan bersih-bersih. Kebetulan malam itu ia ada jadwal piket sebagai pengganti waktu siang yang telah digunakannya untuk kuliah. Kantor tampak sepi, selain Pak satpam yang bertugas di luar, mungkin hanya dia satu-satunya office boy yang bekerja malam hari. Ia baru ingat, mang Ali yang juga mempunyai jadwal piket saat itu, namun ia tidak hadir karena sedang sakit.
Sambil membawa ember berisi air dan pel lantai, Roron menaiki tangga menuju lantai dua. Tiba-tiba ia mendengar suara orang dari salah satu ruangan di sana. Bulu kuduk nya berdiri, nafasnya naik turun. Ingin rasanya Roron kembali ke bawah dan mengurungkan niatnya untuk membersihkan lantai atas. Namun ia tak mau dicap sebagai penakut, secara dia sudah me-reward dirinya sebagai pria gentle dan perkasa. Ia pun meneruskan langkahnya. Suara yang sayup-sayup itu kini terdengar semakin jelas. Dengan ukuran kuping yang agak besar, Roron merasa sangat yakin jika suara itu berasal dari ruang direktur, ruang kerja ayahnya Tina. Hufh..lagi-lagi Tina. Eits, konsentrasi Roron.
“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kalo gue masuk bisa-bisa dimarahin entar. Apa gue ketok aja dulu ya?.” ucap Roron yang masih teringat dengan butir-butir peraturan kepegawaian.
Tok..tok..tok..terdengar suara ketokan pintu dari luar. Namun tak ada respon sama sekali dari dalam.
“Apa jangan-jangan bukan orang kali ya, haduhh mana gelap lagi.”
Tiba-tiba pintu terbuka dan tubuh Roron ditarik masuk oleh tangan seseorang.
“Bawa barangnya kan?” tanya seorang pria yang suaranya terdengar begitu bas.
“Ba..ba..rang apa?”tanya Roron kembali yang masih tak bisa menghilangkan rasa takut dan kagetnya.
“Gue kan menyuruh lo ngambil tas gede, gimana sih?”
“Ampun pak, jangan ambil uang saya. Itu semua untuk gajih karyawan dan lainnya. Bagaimana nanti jika saya tidak bisa membayar hasil keringat mereka?.”
Gleggg.. Roron terdiam. Ia sangat kenal dengan suara pria yang meminta ampun dengan nada memelas tersebut. Dia adalah Pak Rudi. Dengan secepat kucing yang lagi berlari dikejar anjing, Roron bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Ada adegan perampokan dalam ruangan itu. Karena suasana sedang gelap, sehingga perampok itu tak mengenali sosok Roron yang dikira adalah partnernya.
Bukk..bukk.. dengan sigapnya Roron memukuli tubuh perampok itu dengan tongkat pel. Kemudian menggunakan ember yang berisi air untuk menutupi kepala perampok itu. Pokoknya apa aja yang ada diruangan itu Roron gunakan untuk menghabisinya, tanpa peduli apakah itu benda berharga atau tidak.
Selang beberapa jam kemudian. Tempat itu telah dipadati oleh mobil dan kendaraan polisi. Tampak beberapa polisi sedang menggiring om perampok yang wajahnya babak belur serta temannya yang berbicara gagap menuju mobil tahanan. Sambil senyum-senyum ga jelas, Roron hanya memerhatikan mereka dari kejauhan.
“Syahroni.” sapa Pak Rudi.
Roron pun menoleh ke belakang.
“Pak Rudi, Tina!!” ucap Roron terkejut.
“Makasih ya Ron sudah menyelamatkan ayahku dari perampok itu.” kata Tina dengan senyuman yang terlukis di bibir manisnya.
“Sama-sama. Lagi pula tadi itu hanya kebetulan saja.” Roron merendahkan diri.
“Bukan kebetulan, tapi itu merupakan keberuntungan untuk saya. Sebenarnya tadi saya kembali ke kantor untuk mengambil dokumen penting yang ketinggalan di ruang kerja. Tak tahunya ada perampok di sana dan saya langsung di setrap oleh mereka. Tak bisa saya bayangkan jika tadi tidak ada Nak Syahroni, mungkin semua uang dan benda berharga milik perusahaan ludes di ambil mereka.” kata Pak Rudi.
“Alhamdulillah Pak, Allah masih mengulurkan pertolongannya untuk perusahaan ini.” Roron berkata layaknya orang bijak.
“Oh ya, sebagai wujud terimakasih bagaimana kalau saya jadikan kamu sebagai asisten pribadi. Kebetulan asisten saya dulu sedang sakit keras dan hanya kemungkinan kecil untuknya bisa bekerja lagi.” tawar Pak Rudi kapada Roron.
“Alhamdulillah..Laailaahailllah…Subahanallah…terimakasih Pak” seru Roron girang. Kembali ia bersujud syukur hingga berjam-jam lamanya. Dasar Syahroni, gara-gara kecapean karena sudah menjadi sang hero, ia pun tertidur lagi dalam sujudnya.
~ The End ~

