Rabu, 11 Januari 2012

Syahroni Vs Banjarbaru

Namanya Syahroni, paling senang dipanggil Roron. Entah kenapa dan bagaimana orang tuanya bisa memberi nama yang rada mirip dengan penyanyi yang lagi tenar di Indonesia. Tapi Alhamdulillah yah, nama itu mampu bertengger di barisan mahasiswa Unlam Banjarbaru. Do’i merupakan anak perantauan yang berasal dari kampung nan jauh di hulu dan sedang mencoba menyelami kehidupan di Banjarbaru. Tinggal di kota besar yang serba maju, maju pemerintahannya, maju fasilitasnya, maju juga congornya (lho.. ga nyambung) membuat Roron termotivasi untuk mengikuti style ala anak kota. Kalau bicara masalah gaya, Roron yang jadi nomor satunya. Bagaimana tidak, dari rambut sampai ujung kuku kaki selalu ia perhatikan. Entah kenapa anak itu sangat terobsesi untuk menjadi sosok yang mirip dengan tokoh Edward di film Twilight Saga. Kalau dari fisik, bisa dibilang Si Syahroni hampir nyamain si cakep Robert Pattinson itupun jika dilihat dari mahkota patung Liberti saja. Kalau dari dekat, ampun cing, siap-siap pakai kacamata hitam berlapis biar tidak bisa melihat wajah aslinya.
Roni yang aslinya merupakan anak kampung biasa ternyata bisa boros juga. Maklum, dia adalah anak seorang petani sukses di kampungnya sehingga uang bulanan pun terus mengalir kaya derasnya air di kali. Bahkan, kadang-kadang dia dikasih uang lebih untuk membeli pakaian baru plus perlengkapan untuk  perawatan tubuh dari shampo, pembersih wajah, dan lain-lain pokoknya komplit, tapi tetep aja kodrat wajah tidak laku menempel pada dirinya.
Di hari yang tidak panas, tidak dingin, tidak juga keduanya. Terlihat Roron sedang duduk di bangku panjang dengan wajah yang tertunduk lesu.  Tangannya memegang sebungkus kacang kulit rasa bawang. Melihat wajah Roron yang layu kaya pohon lagi kekurangan air memancing temannya Afri untuk mendekat.
“Oi Ron, , busyet dah!!!” ekspresi Afri begitu terkejut melihat Roron yang tengah memakan kulit kacang bawang. “Lu doyan isi kacang apa kulitnya sih?”tanya Afri lagi.
“Hikss..hancur reputasi gua sebagai orang terkeren gara-gara ketahuan suka makan kulit kacang.”Roron berkata dengan lelehan air mata yang menganak sungai.
“Kenapa lu Ron?, ada masalah?”Afri kembali bertanya masih dengan nada heran plus bingung.
“Gue lagi sedih Fri, Emak gue barusan nelpon dan ngasih kabar buruk kalo bisnis abah di kampung gatot, gagal total. Itu sama artinya, uang bulanan gua bakalan makin kering Fri,,.Huaaaaa gue rasanya ga sanggup!!!”tangis Roron makin meledak.
“Ya elah, gara-gara bakal ga dapat uang jajan lebih aja nangisnya kaya anak yang baru lahir.”
“Gimana gue ga nangis Fri, lo tau aja kan gue ini paling seneng shopping, pokoknya apa yang gue butuhin selalu bisa kebeli biar ga ketinggalan sama style anak kota gitu. Lo tau juga kan, itu semua gua lakukan demi bisa mendapatkan si cakep, manis, asem, asin rame rasanya alias  Tina yang gue udah idemin dari zaman baheula.” kata Roron dengan mulut yang masih bersumpal kulit kacang.
“Ah lu Ron, mau-maunya ketipu ma anak-anak kota. Lu ga mikir apa?, pentingan mana si style sama cita-cita elu buat jadi sarjana? kalo cuman mikirin buat ngikutin zaman modern doang mah belum tentu ada untungnya, mendingan elu fokus ke kuliah aja dulu. Buat tuh Abah-Emak lu jadi angkat kerah baju alias bangga sama anak semata kayang kaya lu.”
“Semata wayang kali.”sanggah Roron.”Benar juga kata lu Fri, gue mesti bisa ngebahagiain Mak-Abah gua di kampung. Mungkin gue bisa nyari tambahan ongkos dengan bekerja apa aja, yang penting halalan bang thoyyib.”sambung Roron kembali.
“Bang Thoyyib?, ternyata lu sama oon nya juga kaya gue,,hehe. Ya udah lah Ron, gue setuju aja deh ama jalan hidup yang lo pilih. Gue mah cuman bisa doain aja moga lu  berhasil menjalani tantangan kehidupan di kota besar ini. Biar lebih memotivasi, buat tuh proposal hidup lo dengan judul ‘Syahroni vs Banjarbaru’, isinya lu harus mampu menaklukan kota yang maju ini untuk menjadi seorang yang sukses. Keren kan?”
“Bener juga kata lu, thanks ya sob, lu udah jadi lampu penerang di hidup gue, walaupun kulit lu ga terang-terang amat.” canda Roron sambil mengamati warna kulit Afri yang hitam gelap mirip orang Afrika.
“Dasar lu, Gue mau pergi dulu nih. Eh, kacangnya buat gue aja ya,mubazir kalo lu cuman makan kulitnya doang.” ucap Afri sambil menyabet bungkusan kacang dari tangan Roron. Roron hanya diam dan tersenyum melihat tingkah temannya yang satu itu.
Setelah pulang dari kuliah, Roron langsung menuju kosnya dan memanjat balkon lantai atas. Entah kenapa dia merasa seakan mendapat suntikan semangat dari kata-kata Afri tadi. Dengan penuh emosi dia memasang kuda –kuda layaknya orang yang ingin main silat, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“Ga ada kata menyerah dalam hidup gue buat menaklukan tantangan Banjarbaru, Gue akan berusaha untuk merebut titel sukses dan memajangnya di dada gue, dinding kamar gue, kaca WC gue, atau perlu mading kampus sekalian. Pokoknya duel Syahroni Vs Banjarbaru  bakal gue menangin. Hidup Syahrini, eh Syahroni…!!!”
‘Pletakkk’ tiba-tiba sebuah gayung terbang dengan sasaran yang tepat mengenai dahi Roron.
“Aduh” Roron meringis sambil memegang jidatnya.
“Woy, kalau mau latihan drama jangan teriak-teriak di sini, gue udah cape nidurin anak gue kebangun lagi gara-gara denger suara lo yang cempreng itu. Pergi sana lo!” ucap seorang ibu yang ada di seberang jalan penuh emosi. Mukanya merah padam kaya kepiting rebus.
“Waduhh berabe gue. Cabut dulu ah.” tanpa wajah bersalah, Roron langsung ambil langkah sejuta meninggalkan ibu-ibu yang lubang hidungnya membesar karena marah.
Hari pertama harapan pertama. Dengan pedenya Roron melangkah menelusuri jalan besar Banjarbaru. Bermodalkan ijazah SMA, KTP, uang secukupnya, air mineral, plus minyak kayu putih (takut kalo ntar masuk angin.Eitss buat anak jangan coba-coba), Roron berharap bisa menemukan pekerjaan nantinya. Namun, mencari pekerjaan di kota besar dengan modal ijazah SMA saja tak bisa menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya hari pertama itupun hanya berujung nihil.
Iseng-iseng, Roron mencoba mencari lowongan pekerjaan di koran. Tiba-tiba matanya membulat ketika melihat sebuah tulisan yang tercetak dikolom paling kiri, “DICARI OFFICE BOY”. Tanpa pikir panjang kali lebar, Roron langsung tancap gas menuju alamat yang di maksud.  Sesampainya di TKP, dengan wajah lugu selugu-lugunya, Roron memasuki ruang penerimaan pegawai baru.
“Kamu mahasiswa?, apa kamu ga malu jadi office boy?”, tanya bapak-bapak yang kumisnya tebal. Saking tebelnya Roron jadi geli ketika melihat bapak itu berbicara kumisnya juga ikut bergerak
“Kenapa harus malu Pak, yang penting kan halal.” ucap Roron senyum-senyum dan masih memerhatikan kumis bapak itu. (wah ga konsen ni anak)
“Baiklah nak, Syahrini.”
“Syahroni Pak.”
“Oh iya, Syahroni. Mulai besok kamu sudah bisa menjadi officeboy. Ini ada peraturan kepegawaian di perusahaan, jangan  hanya dibaca, namun juga diterapkan.”ucap bapak itu tegas.
Wah, girang banget tuh si Roron karena sudah diterima kerja walaupun hanya sebagai Office boy. Ga tanggung-tanggung, pas sampai rumah dia langsung sujud syukur 5 jam, alias 5 menit sujud syukurnya sisanya ketiduran. Walaupun agak gengsi, mau tidak mau dia  menerima pekerjaan itu dari pada harus keluyuran gak jelas buat mencari pekerjaan yang agak tinggian.
Hari pertama kerja. Roron sudah punya tekad bulat sebulat pentol langganannya untuk menjadi karyawan yang baik. Pagi-pagi dia udah stand by di kantor. Dan tanpa menunggu perintah, dia udah berinisiatif sendiri untuk membersihkan tempat itu. Seperti membersihkan kaca pintu, kaca jendela, kaca WC, hingga kacamata para pegawai lain juga ikut ia bersihkan(saking rajinnya).
Seminggu sudah ia bekerja di perusahaan yang lumayan terkenal di Banjarbaru itu. Walaupun jadwal kerja agak padat, tapi dia bisa me-managenya agar tidak terbentur dengan jadwal kuliah. Selain itu, pekerjaan baru ini juga berdampak positif, jadi dia tidak menghabiskan waktu untuk berhura-hura layaknya anak-anak muda KuKer, alias kurang kerjaan.
Sabtu siang. Saat itu Roron tengah mengepel lantai di depan ruang direktur perusahaan. Entah kenapa Roron merasa agak gugup jika harus bertemu dengan Pak direktur. Mungkin karena ia merasa auranya kepemimpinannya kalah dengan orang nomor satu di perusahaan itu. Ya iyalah jelas kalah, wong Roron hanya menjadi pemimpin geng anak kecil yang suka nongkrong di warung PS.
Masih dengan wajah serius walaupun ga serius-serius amat, Roron mengepel lantai berkeramik putih. Tiba-tiba..
“Syahron!.” sapa seorang gadis.
“Ti..Tina.” Roron sangat terkejut melihat sosok gadis yang ternyata bernama Tina, gadis yang telah lama ia sukai. Seketika saja sapu yang dipegangnya jatuh ke lantai.
“Kamu kerja di sini?” tanya Tina, sambil memerhatikan seragam biru yang dipakai Roron.
“I..iya.”jawab Roron terbata-bata.
“Oh,, emm.. kamu liat Pak Rudi ga?”tanyanya lagi.
“Pak. Ru..Ru.”
“Iya, Pak Rudi, bukan Ruru. Kamu kenapa sih, kok jadi orang yang ga bisa ngomong gitu?” Tina heran.
“Ga papa, tapi Pak Rudi yang mana ya?”, tiba-tiba saja Roron berbicara dengan lancarnya.
“Masa ga tau, Pak Rudi kan direktur perusahaan ini.”jelas Tina.
Baru saja beberapa detik mereka berbicara, tiba-tiba orang yang dimaksud datang ke arah mereka.
“Tina, ada apa?”
“Ayah.”
Jreng..jreng…AYAH…ternyata Pak direktur yang bernama Rudi itu adalah ayahnya Tina. Seketika saja, Roron merasa ciut di hadapan mereka berdua. Tak bisa ia bayangkan, ternyata selama ini dia mencintai seseorang yang sudah jelas berlevel jauh di atasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tina meninggalkan Roron yang tengah terpatah-patah hatinya. Dramatis!
Malam yang dingin, sedingin hati Roron yang sedang dilanda salju kesedihan. Afri yang saat itu tengah menikmati kopi susunnya terpencing lagi untuk bertanya pada Roron.
“Kenapa Ron?”tanya Afri.
“Lagi murung.” jawab Roron, singkat.
“Murung ga murung sama aj ekspresi muka lu, susah dibedain..hehe.”canda Afri. Namun itu tak bisa membuat Roron tersenyum.
“Gue berangkat kerja dulu ya.”Roron berkata sambil mengambil tas kecilnya dari atas kasur.
“Lu ga mau curhat dulu sama gue?”,
“Ga, gue mau mempersingkat waktu biar ga telat berangkat kerja.”
“Emang waktu bisa dipersingkat ya?hehe” Afri berbicara sendiri sambil memerhatikan Roron yang berjalan keluar hingga bayangannya menghilang dibalik pintu.
Beberapa menit kemudian Roron telah tiba di kantor. Masih dengan wajah yang murung ia meraih peralatan bersih-bersih. Kebetulan malam itu ia ada jadwal piket sebagai pengganti waktu siang yang telah digunakannya untuk kuliah. Kantor tampak sepi, selain Pak satpam yang bertugas di luar, mungkin hanya dia satu-satunya office boy yang bekerja malam hari. Ia baru ingat, mang Ali yang juga mempunyai jadwal piket saat itu, namun ia tidak hadir karena sedang sakit.
Sambil membawa ember berisi air dan pel lantai, Roron menaiki tangga menuju lantai dua. Tiba-tiba ia mendengar suara orang dari salah satu ruangan di sana. Bulu kuduk nya berdiri, nafasnya naik turun. Ingin rasanya Roron kembali ke bawah dan mengurungkan niatnya untuk membersihkan lantai atas. Namun ia tak mau dicap sebagai penakut, secara dia sudah me-reward dirinya sebagai pria gentle dan perkasa.  Ia pun meneruskan langkahnya. Suara yang sayup-sayup itu kini terdengar semakin jelas. Dengan ukuran kuping yang agak besar, Roron merasa sangat yakin jika suara itu berasal dari ruang direktur, ruang kerja ayahnya Tina. Hufh..lagi-lagi Tina. Eits, konsentrasi Roron.
“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kalo gue masuk bisa-bisa dimarahin entar. Apa gue ketok aja dulu ya?.” ucap Roron yang masih teringat dengan butir-butir peraturan kepegawaian.
Tok..tok..tok..terdengar suara ketokan pintu dari luar. Namun tak ada respon sama sekali dari dalam.
“Apa jangan-jangan  bukan orang kali ya, haduhh mana gelap lagi.”
Tiba-tiba pintu terbuka dan tubuh Roron ditarik masuk oleh tangan seseorang.
“Bawa barangnya kan?” tanya seorang pria yang suaranya terdengar begitu bas.
“Ba..ba..rang apa?”tanya Roron kembali yang masih tak bisa menghilangkan rasa takut dan kagetnya.
“Gue kan menyuruh lo ngambil tas gede, gimana sih?”
“Ampun pak, jangan ambil uang saya. Itu semua untuk gajih karyawan dan lainnya. Bagaimana nanti jika saya tidak bisa membayar hasil keringat mereka?.”
Gleggg.. Roron terdiam. Ia sangat kenal dengan suara pria yang meminta ampun dengan nada memelas tersebut. Dia adalah Pak Rudi. Dengan secepat kucing yang lagi berlari dikejar anjing, Roron bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Ada adegan perampokan dalam ruangan itu. Karena suasana sedang gelap, sehingga perampok itu tak mengenali sosok Roron yang dikira adalah partnernya.
Bukk..bukk.. dengan sigapnya Roron memukuli tubuh perampok itu dengan tongkat pel. Kemudian menggunakan ember yang berisi air untuk menutupi kepala perampok itu. Pokoknya apa aja yang ada diruangan itu Roron gunakan untuk menghabisinya, tanpa peduli apakah itu benda berharga atau tidak.
Selang beberapa jam kemudian. Tempat itu telah dipadati oleh mobil dan kendaraan polisi. Tampak beberapa polisi sedang menggiring om perampok yang wajahnya babak belur serta temannya yang berbicara gagap menuju mobil tahanan. Sambil senyum-senyum ga jelas, Roron hanya memerhatikan mereka dari kejauhan.
“Syahroni.” sapa Pak Rudi.
Roron pun menoleh ke belakang.
“Pak Rudi, Tina!!” ucap Roron terkejut.
“Makasih ya Ron sudah menyelamatkan ayahku dari perampok itu.” kata Tina dengan senyuman yang terlukis di bibir manisnya.
“Sama-sama. Lagi pula tadi itu hanya kebetulan saja.” Roron merendahkan diri.
“Bukan kebetulan, tapi itu merupakan keberuntungan untuk saya. Sebenarnya tadi saya kembali ke kantor untuk mengambil dokumen penting yang ketinggalan di ruang kerja. Tak tahunya ada perampok di sana dan saya langsung di setrap oleh mereka. Tak bisa saya bayangkan jika tadi tidak ada Nak Syahroni, mungkin semua uang dan benda berharga milik perusahaan ludes di ambil mereka.” kata Pak Rudi.
“Alhamdulillah Pak, Allah masih mengulurkan pertolongannya untuk perusahaan ini.” Roron berkata layaknya orang bijak.
“Oh ya, sebagai wujud terimakasih bagaimana kalau saya jadikan kamu sebagai asisten pribadi. Kebetulan asisten saya dulu sedang sakit keras dan hanya kemungkinan kecil untuknya  bisa bekerja lagi.” tawar Pak Rudi kapada Roron.
“Alhamdulillah..Laailaahailllah…Subahanallah…terimakasih Pak” seru Roron girang. Kembali ia bersujud syukur hingga berjam-jam lamanya. Dasar Syahroni, gara-gara kecapean karena sudah menjadi sang hero, ia pun  tertidur lagi dalam sujudnya.
~ The End ~

Me and The Story of Banjarbaru




Pertengahan bulan ke tujuh aku berhijrah dari Hulu Sungai Tengah ke kota Banjarbaru demi bisa mereguk ilmu sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kehutanan Unlam. Aku tinggal bersama paman di sebuah kontrakan berukuran sedang yang lengkap dengan dua buah kamar, dapur serta kamar mandi. Sebagai seorang perantau di tanah orang yang baru tentu terasa asing bagiku. Semua keadaan di kota yang dijuluki kota idaman ini terlihat begitu berbeda dengan keadaan sewaktu di kampungku dulu. Jelas bisa dilihat dari sarana dan prasarana, tatanan kota, pendidikan, hingga kedinamisan masyrakatnya.
Paman Komar, begitulah panggilanku kepada adik kandung ibu yang berusia hampir 40 tahun. Dia telah tinggal di kota Banjarbaru selama 5 tahun dan bekerja sebagai seorang mekanik di sebuah dealer kendaraan roda dua. Isteri dan anaknya tidak ikut tinggal di Banjarbaru karena harus menjaga mertuanya yang tengah sakit-sakitan di kampung. Paman Komar pernah berkata kepadaku, “Jika ingin hidup di kota besar saperti ini kita harus pintar-pintar me-manage diri sendiri, entah itu dalam aspek ekonomi, pergaulan, dan hal lainnya. Jangan terkejut dengan perbedaan dan hal baru yang sebelumnya tak pernah kita temui di kampung. Bersikaplah terbuka dengan segala yang ada, tapi dengan syarat harus mampu memasang filter yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam hal yang tak baik.”
Hari ini adalah hari pertama kuliahku di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Bersama dengan temanku Rohim, kami mengendarai kendaraan roda dua untuk menempuh perjalanan menuju kampus. Rohim merupakan penduduk Banjarbaru tulen yang kebetulan juga berstatus sama denganku sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kehutanan. Sesampainya di kampus tercinta, mataku sudah disuguhi oleh pemandangan yang begitu asri serta hembusan udara sejuk yang mampu menenangkan jiwa. Saat pertama tiba di kota Banjarbaru, aku agak kurang bisa beradaptasi dengan suhu udara yang agak panas dan sangat berbeda dari pedesaan. Namun bisa kurasakan megahnya kandungan CO2 yang di produksi pepohonan yang tumbuh begitu makmur di sekitar kampus ini.
Sore hari setelang pulang dari kuliah, aku diajak Rohim untuk singgah di perpustakaan daerah Banjarbaru. Dia ternyata tahu sekali jika aku sangat senang membaca. Perpustakaan yang berdiri di Jalan Komet ini dimiliki oleh pemerintah daerah setempat sebagai tempat bacaan bagi masyarakat umum untuk memperluas wawasan. Akupun tertarik untuk menjadi salah satu anggotanya agar bisa meminjam beberapa buku. Setelah selesai proses registrasi, aku lalu mengambil sebuah buku non fiksi dan duduk tepat di sebelah Rohim yang tengah membaca koran.  Wajahnya tampak serius, bola matanya berjalan dan menjamah satu persatu kata yang tercetak rapi. Tak berselang lama kemudian, Rohim menanyaiku.
“Menurutmu, pantas tidak Banjarbaru dijadikan sebagai ibu kota provinsi Kal-Sel?”
Pertanyaannya membuat keningku berkerut karena aku sendiri tak tau banyak tentang kota yang baru aku diami beberapa bulan ini.
“Pengetahuan ku tentang Banjarbaru kurang begitu luas, jadi aku tidak bisa memberi pendapat yang pasti”, jawabku sekenanya.
“Jujur, aku sendiri masih bingung jika harus diminta tanggapan mengenai hal ini. Sebenarnya Banjarbaru telah lama menyandang status kota administratif sejak 23 tahun lalu. Menurutku, dalam jejak historis pengembangan dan perjuangan status Banjarbaru bukan hanya sekedar mentitelkannya sebagai kotamadia. Bukan pula sebagai ibu kota Kalimantan Selatan. Intinya , baik perjuangan status maupun pengembangan kota mengalir secara bersama sebagai suatu modal bagi pembangunan Banjarbaru ke depan dan sebagai titik berangkat sebuah harapan masyarakat.”
Opini yang keluar dari mulut Rohim membuatku terpukau. Pengetahuannya tentang kota Banjarbaru ternyata sangat dalam.
“Wah, pernyataan yang bagus. Menurutku ada benarnya juga apa yang kamu katakan. Apabila upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakatnya dilakukan dengan program-program yang tepat, maka tentu saja pembangunan yang diharap akan tepat sasaran. Dalam artian perubahan-perubahan yang dilakukan dengan baik akan disertai perkembangan yang baik pula.”aku ikut megutarakan apa yang ada di fikiranku, walaupun aku merasa isinya sendiri kurang berbobot. Akhirnya, kami pun  menghabiskan sore hari itu dengan berpetualang di dunia bacaan.
* * *
Minggu pagi indah yang diwarnai perpaduan semburat kuning sang surya dan belaian udara sejuk yang melewati hidung. Aku menggunakan kesempatan di pagi yang cerah ini untuk berolahraga. Dengan kaos hijau dan celana training, aku pun berlari-lari kecil menyusuri pinggiran jalan tol hingga langkah kaki membawaku ke Lapangan Murjani. Sambil terus berlari kecil, aku memerhatikan orang-orang dengan berbagai aktivitas mereka. Ada yang tengah asyik berlari-lari diselingi jalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang melakukan senam dengan diiringi musik, ada pula yang tengah sibuk mengais rezeki dengan berjualan aneka makanan dan minuman yang menjadi suplai energi bagi orang yang tengah kehabisan tenaga. Jarum jam terus berputar, peluh segar mulai mengalir di tubuhku. Karena rasa haus semakin mengeruk tenggorokan, akhirnya kuputuskan untuk singgah disebuah warung makan yang letaknya tak jauh dari lapangan Murjani.
“Teh hangat bu.” pesanku kepada penjaga warung seraya duduk disebuah bangku panjang.
Ibu penjaga warung itu merespon pesananku dengan senyuman. Tak berselang lama, pesananku pun telah siap, dengan perlahan aku menyeruput teh hangat itu dan merasakan aliran zat gula yang mengisi kembali tenagaku. Tak jauh dariku, duduk dua orang bapak-bapak yang tengah asyik berbincang-bincang. Jelas terdengar olehku isi pembicaraan mereka berdua, lagi-lagi tentang Banjarbaru. Aku pun tertarik untuk bergabung dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Emm, boleh saya bergabung pak, sepertinya pembicaraan bapak berdua tentang Banjarbaru sangat menarik. Kebetulan saya baru beberapa bulan tinggal di Banjarbaru dan belum mengetahui banyak tentang kota ini.” ucapku sambil mengambil tempat  duduk yang berdekatan dengan mereka.
“Silahkan Nak, kebetulan kami sedang membicarakan tentang sejarah Banjarbaru. Ini teman saya Pak Ali, dan saya sendiri Hamid.”ucap salah seorang bapak yang disinyalir bernama Hamid.
Aku pun menegenalkan nama serta statusku sambil berjabat tangan dengan mereka berdua secara bergantian.
“Jadi sebenarnya asal mula Banjarbaru itu bagaimana Pak?”, tanyaku memulai perbincangan.
Bapak yang bernama Ali kemudian membetulkan posisi duduknya dan bersiap menjawab pertanyaanku, “Menurut para tetua , Banjarbaru berasal dari Gunung Apam yang merupakan puncak perbukitan di lintasan jalan Banjarmasin-Martapura dan disana belum terdapat satupun pemukiman. Konon tempat yang strategis itu digunakan oleh seorang pedagang untuk membuka warung yang menjual teh dan kopi dengan wadai (kue) pendamping yaitu apam hingga wadai apam diperuntukan menjadi nama daerah tersebut. Lama kelamaan, warung apam itu menjadi populer hingga mengundang minat beberapa orang untuk mengikuti jejak pewarung itu. Seiring waktu berjalan banyak orang yang mendirikan rumah disekitarnya hingga terbentuklah sebuah perkampungan yang populer disebut Gunung Apam.” Bapak itu berhenti sejenak untuk meminum kopinya yang tampak mulai mendingin. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya. “Pada perkembangannya perkampungan itu mulai ramai. Semasa Murdjani menjadi gubernur Kalimantan yang memerintah pada tahun 1950 hingga 1953 terobsesi memindahkan ibukota Kalimantan ke daerah disekitar Gunung Apam. Hingga akhirnya Gunung Apam berubah namanya menjadi Banjarbaru dan dengan tuntutan masyarakat, pihak eksekutif dan lagislatif yang susul menyusul baru menghasilkan status Banjarbaru sebagai kota adminstratif pada tanggal 11 November 1975. Jadi begitulah kira-kira cikal bakal mulanya kota Banjarbaru.”
Aku tertegun dengan cerita Pak Ali. Satu lagi pengetahuanku tentang kota Banjarbaru bertambah. Akupun tak segan untuk terus bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan tentang Banjarbaru termasuk pertanyaan yang pernah dilontarkan Rohim kepadaku. Dengan senang dan penuh semangat mereka berdua menjawabnya,  kadang Pak Ali dan kadang juga Pak Hamid yang menambahkan. Perbincangan yang menarik itupun kadang diselingi oleh kisah-kisah lucu mereka mengenai dongeng masyarakat yang berlatar di Banjarbaru. Namun tak terasa waktu menghentikan diskusi dan memisahkan kami yang telah larut dalam kebersamaan dan keakraban. Setelah membayar kepada penjaga warung, akupun pulang ke rumah dengan perasaan yang cerah, secerah senyuman matahari yang terus mendaki porosnya. Sungguh pagi yang inpiratif dan menyenangkan.
* * *
Jum’at sore berawan dan berselimut dingin. Hampir sepanjang hari itu kota Banjarbaru dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Sambil duduk di bangku depan teras rumah dengan ditemani secangkir susu hangat, aku membaca buku yang dipinjam beberapa hari lalu di perpustakaan kampus. Tiba-tiba Rohim datang dengan mengendarai sepeda motor abu-abunya.
“Jalan yuk.” ajak Rohim seraya mematikan motor. Ia begitu tampak matching dengan jaket putih dan celana jeans yang dipakainya.
“Kemana?” tanyaku sambil mengamati penampilan Rohim yang agak necis .
“Keliling Banjarbaru sekalian cuci mata. Aku juga ingin menunjukkan tempat-tempat menarik di kota ini. Gimana?”
“Ok, tapi tunggu aku ganti baju dulu. Aku juga ingin tampil necis seperti kamu.” ucapku seakan tak mau kalah. Rohim hanya tertawa kecil menanggapinya.

Selang berapa menit, kami pun siap untuk berpetualang mengelilingi Banjarbaru. Jalan tampak ramai sore itu, apalagi di sekitar Lapangan Murjani dipadati orang yang mayoritas dari kalangan anak muda. Mereka tengah asyik menyaksikan pertunjukan para rider yang mempertontonkan keahlian mereka mengendarai motor. Walaupun terlihat menarik, namun kami tak berminat untuk mampir ke sana. Dengan kecepatan sedang, motor Rahim yang dijulukinya si Silver itu terus membawa kami melewati jalan basah menembus hawa dingin yang semakin pekat. Saat melewati Jalan Komet, Rohim berbicara padaku.
“Kau tau, Banjarbaru telah mengalami perkembangan pesat yang ditandai dengan terpancangnya berbagai bentuk bangunan. Seiring dengan perkembangan itu, ada beberapa tempat, bangunan dan benda yang memiliki nilai historis terhadap Banjarbaru telah berubah dan tergantikan. Apa kau tau salah satu benda bersejarah yang telah berubah itu?”
“Apa?”aku balik bertanya karena rasa penasaran.
“Kau lihat di sana” ucap Rohim sambil menunjukkan jarinya ke sebuah tempat di sebelah rumah.
“Dulu di sana ada kincir angin yang merupakan salah satu ikon kota namun telah dibongkar pada tahun 2008 lalu. Pembongkaran itu diserahkan kepada pemulung. Hal ini menunjukkan seakan  kincir angin komet hanya dianggap tak lebih dari dari besi tua. Tak pernah sedikit pun terlintas di fikiran mereka tentang arti penting nilai sejarah dalam rekam jejak kota Banjarbaru.”jelas Rohim.
“Lantas, tanggapan pemerintah sendiri bagaimana?”tanyaku kembali.
“Mereka terkesan tidak peduli sehingga memberikan peluang kepada warga untuk men-judge sendiri atas benda itu. Sebagian orang hanya melihatnya sebagai benda tak terpakai dan bisa membahayakan keselamatan warga sekitar. Hal ini sama saja dengan menganggap kerdil terhadap suatu sejarah”
Aku terdiam sejenak dan mencoba berhalusinasi tentang bayangan kincir angin itu walaupun tak pernah melihat wujud aslinya.
Hembusan udara sore terus menemani perjalanan kami. Kali ini aku dan Rohim melewati tugu simpang empat yang menurutku terkesan glamor.
“Dulu lambang tugu simpang empat itu intan loh.” ucap Rohim secara tiba-tiba.
“Bukannya intan itu lambang kabupaten Banjar.”sanggahku.
“Memang, tapi itulah sejarahnya.”
“Wah..wah..kita ini seperti mahasiswa jurusan sejarah yang sedang observasi saja.”candaku diiring tawa kecil.
“Haha, tapi asyik kan belajar tentang sejarah. Hitung-hitung menambah wawasan, mungkin saja kau bisa mengambil hikmah dari apa yang aku ceritakan.” Rohim berkata dengan nada yang sok bijaksana, membuatku geli sendiri mendengarnya.

Kini Rohim mengarahkan setir motornya memasuki sebuah jalan, entah kemana anak itu ingin membawaku, aku tak tau. Mungkin saja dia ingin mencari beberapa tempat bersejarah lagi kemudian berkata-kata layaknya seorang pemandu wisata. Tiba-tiba dia menghentikannya motornya di depan sebuah bangunan yang jelas tertulis di pintu gerbangnya “Kolam Renang Idaman.”
“Kau ingin mengajakku berenang Him?”tanyaku sedikit bingung.
“Haha, siapa yang ingin mengajakmu berenang di cuaca yang dinginnya kaya di kutub bumi gini. Aku hanya ingin mengajak kamu makan soto lamongan di sana.”ucap Rohim seraya memanyunkan bibirnya ke sebuah warung kecil.
Akupun tersenyum mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Rohim.
“Traktir ya.”pintaku dengan senyuman yang masih mengambang.
“Ok deh.”balas Rohim.

Tak perlu waktu lama untukku dan Rohim mengahabiskan semangkok soto lamongan yang terkenal dengan kelezatannya itu. Apalagi di cuaca dingin, tentu selera makan makin bertambah. Setelah menyeruput  teh hangat, Rohim memandang ke arahku dan seakan ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun belum sempat Rohim mengeluarkan kalimat dari mulutnya, aku telah berucap terlebih dahulu.
“Ingin bercerita tentang sejarah lagi?.”tebakku.
“Kok bisa tahu duluan?”tanyanya sedikit heran.
“Haha, hanya menebak. Memangnya kau ingin berkata apa?”
“Apakau tidak keberatan jika aku membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan sejarah lagi?” Rohim balik bertanya, ada sedikit gores tak nyaman di wajahnya.
“Tentu saja tidak. Lanjutkan !”ucapku tegas layaknya ucapan para pemimpin partai yang tengah kampanye.
“Hmm.. dulu ada Taman Karang Taruna disini, namun sekarang telah dipadati dengan berbagai bangunan, seperti kantor kelurahan , rumah dinas walikota, dan salah satunya adalah kolam renang yang ada dibelakang kita ini. Dengan adanya banyak bangunan justru mengurangi ruang buka hijau yang sebenarnya juga bernilai sejarah. Selain itu ada juga tempat yang masih menyisakan kenangan, seperti taman bacaan gembira yang berada di depan Hotel Banjarbaru. Saat ini memang ada di rumah salah satu warga dengan nama taman bacaan MGR, namun itupun perlu mendapatkan apresiasi karena setidaknya masih mengingatkan kita akan eksistensi taman bacaan saat itu.”
Rohim kembali meminum tehnya hingga habis. Kemudian melanjutkan bicaranya.
“Selain itu, ada juga beberapa tapak sejarah kota Banjarbaru yang berubah fungsinya. Contohnya Gedung Bina Satria yang dulu menjadi pusat kegiatan pemuda seakan tidak dapt dipertahankan sebagai gedung pemuda. Justru saat ini dialihfungsikan untuk kegiatan lain yang tak begitu begitu berhubungan dengan kepemudaan. Semestinya gedung itu digunakan untuk sentral kegiatan pemuda yang juga bernilai sejarah. Begitu juga dengan proyek besi baja yang ada di sekitar tahun 1960-an yang merupakan PMA dari Rusia, namun saat ini telah berubah menjadi perumahan dan pertokoan. Mengapa kota ini membiarkan sejarahnya dibongkar? Menurutmu sendiri bagaimana?”
“Aku pikir perlu adanya kesadaran dan kepedulian bersama terhadap hal-hal yang bersejarah seperti taman bacaan Karang Taruna atau yang lainnya yang telah kau sebutkan. Tak baik untuk kita apalagi sebagai bangsa Indonesia membiarkan hal-hal yang berbau sejarah hilang ataupun berubah fungsi. Ada pepatah yang mengatakan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Seharusnya warga Banjarbaru tak menjadi patung saja yang hanya bisa melihat sejarahnya dibongkar, karena hal itu sama saja dengan mengubur sejarah Banjarbaru, sejarah warga sendiri.”
“Keren juga opinimu.”Puji Rohim.
“Ah kau ini, justru aku yang kagum padamu. Kamu memiliki wawasan yang luas tentang kota kelahiranmu. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang asal mula tanah kelahiranku.”
“Asal kita terus belajar dan berusaha mencari tahu, kita pasti akan mendapatkan apa yang bisa kita pelajari dan bisa kita bagi dengan sesama.” Rohim berkata dengan nada sedikit tegas.
“Hari hampir gelap Him, pulang yuk.”ajakku kepada Rohim.
Setelah Rohim membayar kepada abang penjual soto lamongan, kami pun berjalan menuju ke arah kendaraan yang terpakir di depan dekat pintu gerbang kolam renang idaman. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil kami dari belakang.
“Nak, tunggu.” Teriak suara bapak-bapak. Kami pun menoleh ke belakang.
“Perkenalkan, saya Abdullah dan saya seorang jurnalis. Saya tertarik dengan perbincangan anda berdua tadi tentang taman bacaan Karang Taruna dan hal lainnya yang berkaitan dengan sejarah di kota Banjarbaru. Bisakah kalian menjadi narasumber untuk bahan berita di koran nanti? Ini akan saya jadikan sebagai berita utama dengan menaruh foto kalian tentunya. bagaimana?”tanya bapak yang sedang memakai jaket kulit dan topi hitam itu.
Mendengar permintaan dari belliau, aku dan Rohim hanya bisa saling memandang satu sama lain kemudian tersenyum bersama. Sungguh sore yang indah di Banjarbaru.