Rabu, 11 Januari 2012

Me and The Story of Banjarbaru




Pertengahan bulan ke tujuh aku berhijrah dari Hulu Sungai Tengah ke kota Banjarbaru demi bisa mereguk ilmu sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kehutanan Unlam. Aku tinggal bersama paman di sebuah kontrakan berukuran sedang yang lengkap dengan dua buah kamar, dapur serta kamar mandi. Sebagai seorang perantau di tanah orang yang baru tentu terasa asing bagiku. Semua keadaan di kota yang dijuluki kota idaman ini terlihat begitu berbeda dengan keadaan sewaktu di kampungku dulu. Jelas bisa dilihat dari sarana dan prasarana, tatanan kota, pendidikan, hingga kedinamisan masyrakatnya.
Paman Komar, begitulah panggilanku kepada adik kandung ibu yang berusia hampir 40 tahun. Dia telah tinggal di kota Banjarbaru selama 5 tahun dan bekerja sebagai seorang mekanik di sebuah dealer kendaraan roda dua. Isteri dan anaknya tidak ikut tinggal di Banjarbaru karena harus menjaga mertuanya yang tengah sakit-sakitan di kampung. Paman Komar pernah berkata kepadaku, “Jika ingin hidup di kota besar saperti ini kita harus pintar-pintar me-manage diri sendiri, entah itu dalam aspek ekonomi, pergaulan, dan hal lainnya. Jangan terkejut dengan perbedaan dan hal baru yang sebelumnya tak pernah kita temui di kampung. Bersikaplah terbuka dengan segala yang ada, tapi dengan syarat harus mampu memasang filter yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam hal yang tak baik.”
Hari ini adalah hari pertama kuliahku di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Bersama dengan temanku Rohim, kami mengendarai kendaraan roda dua untuk menempuh perjalanan menuju kampus. Rohim merupakan penduduk Banjarbaru tulen yang kebetulan juga berstatus sama denganku sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kehutanan. Sesampainya di kampus tercinta, mataku sudah disuguhi oleh pemandangan yang begitu asri serta hembusan udara sejuk yang mampu menenangkan jiwa. Saat pertama tiba di kota Banjarbaru, aku agak kurang bisa beradaptasi dengan suhu udara yang agak panas dan sangat berbeda dari pedesaan. Namun bisa kurasakan megahnya kandungan CO2 yang di produksi pepohonan yang tumbuh begitu makmur di sekitar kampus ini.
Sore hari setelang pulang dari kuliah, aku diajak Rohim untuk singgah di perpustakaan daerah Banjarbaru. Dia ternyata tahu sekali jika aku sangat senang membaca. Perpustakaan yang berdiri di Jalan Komet ini dimiliki oleh pemerintah daerah setempat sebagai tempat bacaan bagi masyarakat umum untuk memperluas wawasan. Akupun tertarik untuk menjadi salah satu anggotanya agar bisa meminjam beberapa buku. Setelah selesai proses registrasi, aku lalu mengambil sebuah buku non fiksi dan duduk tepat di sebelah Rohim yang tengah membaca koran.  Wajahnya tampak serius, bola matanya berjalan dan menjamah satu persatu kata yang tercetak rapi. Tak berselang lama kemudian, Rohim menanyaiku.
“Menurutmu, pantas tidak Banjarbaru dijadikan sebagai ibu kota provinsi Kal-Sel?”
Pertanyaannya membuat keningku berkerut karena aku sendiri tak tau banyak tentang kota yang baru aku diami beberapa bulan ini.
“Pengetahuan ku tentang Banjarbaru kurang begitu luas, jadi aku tidak bisa memberi pendapat yang pasti”, jawabku sekenanya.
“Jujur, aku sendiri masih bingung jika harus diminta tanggapan mengenai hal ini. Sebenarnya Banjarbaru telah lama menyandang status kota administratif sejak 23 tahun lalu. Menurutku, dalam jejak historis pengembangan dan perjuangan status Banjarbaru bukan hanya sekedar mentitelkannya sebagai kotamadia. Bukan pula sebagai ibu kota Kalimantan Selatan. Intinya , baik perjuangan status maupun pengembangan kota mengalir secara bersama sebagai suatu modal bagi pembangunan Banjarbaru ke depan dan sebagai titik berangkat sebuah harapan masyarakat.”
Opini yang keluar dari mulut Rohim membuatku terpukau. Pengetahuannya tentang kota Banjarbaru ternyata sangat dalam.
“Wah, pernyataan yang bagus. Menurutku ada benarnya juga apa yang kamu katakan. Apabila upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakatnya dilakukan dengan program-program yang tepat, maka tentu saja pembangunan yang diharap akan tepat sasaran. Dalam artian perubahan-perubahan yang dilakukan dengan baik akan disertai perkembangan yang baik pula.”aku ikut megutarakan apa yang ada di fikiranku, walaupun aku merasa isinya sendiri kurang berbobot. Akhirnya, kami pun  menghabiskan sore hari itu dengan berpetualang di dunia bacaan.
* * *
Minggu pagi indah yang diwarnai perpaduan semburat kuning sang surya dan belaian udara sejuk yang melewati hidung. Aku menggunakan kesempatan di pagi yang cerah ini untuk berolahraga. Dengan kaos hijau dan celana training, aku pun berlari-lari kecil menyusuri pinggiran jalan tol hingga langkah kaki membawaku ke Lapangan Murjani. Sambil terus berlari kecil, aku memerhatikan orang-orang dengan berbagai aktivitas mereka. Ada yang tengah asyik berlari-lari diselingi jalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang melakukan senam dengan diiringi musik, ada pula yang tengah sibuk mengais rezeki dengan berjualan aneka makanan dan minuman yang menjadi suplai energi bagi orang yang tengah kehabisan tenaga. Jarum jam terus berputar, peluh segar mulai mengalir di tubuhku. Karena rasa haus semakin mengeruk tenggorokan, akhirnya kuputuskan untuk singgah disebuah warung makan yang letaknya tak jauh dari lapangan Murjani.
“Teh hangat bu.” pesanku kepada penjaga warung seraya duduk disebuah bangku panjang.
Ibu penjaga warung itu merespon pesananku dengan senyuman. Tak berselang lama, pesananku pun telah siap, dengan perlahan aku menyeruput teh hangat itu dan merasakan aliran zat gula yang mengisi kembali tenagaku. Tak jauh dariku, duduk dua orang bapak-bapak yang tengah asyik berbincang-bincang. Jelas terdengar olehku isi pembicaraan mereka berdua, lagi-lagi tentang Banjarbaru. Aku pun tertarik untuk bergabung dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Emm, boleh saya bergabung pak, sepertinya pembicaraan bapak berdua tentang Banjarbaru sangat menarik. Kebetulan saya baru beberapa bulan tinggal di Banjarbaru dan belum mengetahui banyak tentang kota ini.” ucapku sambil mengambil tempat  duduk yang berdekatan dengan mereka.
“Silahkan Nak, kebetulan kami sedang membicarakan tentang sejarah Banjarbaru. Ini teman saya Pak Ali, dan saya sendiri Hamid.”ucap salah seorang bapak yang disinyalir bernama Hamid.
Aku pun menegenalkan nama serta statusku sambil berjabat tangan dengan mereka berdua secara bergantian.
“Jadi sebenarnya asal mula Banjarbaru itu bagaimana Pak?”, tanyaku memulai perbincangan.
Bapak yang bernama Ali kemudian membetulkan posisi duduknya dan bersiap menjawab pertanyaanku, “Menurut para tetua , Banjarbaru berasal dari Gunung Apam yang merupakan puncak perbukitan di lintasan jalan Banjarmasin-Martapura dan disana belum terdapat satupun pemukiman. Konon tempat yang strategis itu digunakan oleh seorang pedagang untuk membuka warung yang menjual teh dan kopi dengan wadai (kue) pendamping yaitu apam hingga wadai apam diperuntukan menjadi nama daerah tersebut. Lama kelamaan, warung apam itu menjadi populer hingga mengundang minat beberapa orang untuk mengikuti jejak pewarung itu. Seiring waktu berjalan banyak orang yang mendirikan rumah disekitarnya hingga terbentuklah sebuah perkampungan yang populer disebut Gunung Apam.” Bapak itu berhenti sejenak untuk meminum kopinya yang tampak mulai mendingin. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya. “Pada perkembangannya perkampungan itu mulai ramai. Semasa Murdjani menjadi gubernur Kalimantan yang memerintah pada tahun 1950 hingga 1953 terobsesi memindahkan ibukota Kalimantan ke daerah disekitar Gunung Apam. Hingga akhirnya Gunung Apam berubah namanya menjadi Banjarbaru dan dengan tuntutan masyarakat, pihak eksekutif dan lagislatif yang susul menyusul baru menghasilkan status Banjarbaru sebagai kota adminstratif pada tanggal 11 November 1975. Jadi begitulah kira-kira cikal bakal mulanya kota Banjarbaru.”
Aku tertegun dengan cerita Pak Ali. Satu lagi pengetahuanku tentang kota Banjarbaru bertambah. Akupun tak segan untuk terus bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan tentang Banjarbaru termasuk pertanyaan yang pernah dilontarkan Rohim kepadaku. Dengan senang dan penuh semangat mereka berdua menjawabnya,  kadang Pak Ali dan kadang juga Pak Hamid yang menambahkan. Perbincangan yang menarik itupun kadang diselingi oleh kisah-kisah lucu mereka mengenai dongeng masyarakat yang berlatar di Banjarbaru. Namun tak terasa waktu menghentikan diskusi dan memisahkan kami yang telah larut dalam kebersamaan dan keakraban. Setelah membayar kepada penjaga warung, akupun pulang ke rumah dengan perasaan yang cerah, secerah senyuman matahari yang terus mendaki porosnya. Sungguh pagi yang inpiratif dan menyenangkan.
* * *
Jum’at sore berawan dan berselimut dingin. Hampir sepanjang hari itu kota Banjarbaru dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Sambil duduk di bangku depan teras rumah dengan ditemani secangkir susu hangat, aku membaca buku yang dipinjam beberapa hari lalu di perpustakaan kampus. Tiba-tiba Rohim datang dengan mengendarai sepeda motor abu-abunya.
“Jalan yuk.” ajak Rohim seraya mematikan motor. Ia begitu tampak matching dengan jaket putih dan celana jeans yang dipakainya.
“Kemana?” tanyaku sambil mengamati penampilan Rohim yang agak necis .
“Keliling Banjarbaru sekalian cuci mata. Aku juga ingin menunjukkan tempat-tempat menarik di kota ini. Gimana?”
“Ok, tapi tunggu aku ganti baju dulu. Aku juga ingin tampil necis seperti kamu.” ucapku seakan tak mau kalah. Rohim hanya tertawa kecil menanggapinya.

Selang berapa menit, kami pun siap untuk berpetualang mengelilingi Banjarbaru. Jalan tampak ramai sore itu, apalagi di sekitar Lapangan Murjani dipadati orang yang mayoritas dari kalangan anak muda. Mereka tengah asyik menyaksikan pertunjukan para rider yang mempertontonkan keahlian mereka mengendarai motor. Walaupun terlihat menarik, namun kami tak berminat untuk mampir ke sana. Dengan kecepatan sedang, motor Rahim yang dijulukinya si Silver itu terus membawa kami melewati jalan basah menembus hawa dingin yang semakin pekat. Saat melewati Jalan Komet, Rohim berbicara padaku.
“Kau tau, Banjarbaru telah mengalami perkembangan pesat yang ditandai dengan terpancangnya berbagai bentuk bangunan. Seiring dengan perkembangan itu, ada beberapa tempat, bangunan dan benda yang memiliki nilai historis terhadap Banjarbaru telah berubah dan tergantikan. Apa kau tau salah satu benda bersejarah yang telah berubah itu?”
“Apa?”aku balik bertanya karena rasa penasaran.
“Kau lihat di sana” ucap Rohim sambil menunjukkan jarinya ke sebuah tempat di sebelah rumah.
“Dulu di sana ada kincir angin yang merupakan salah satu ikon kota namun telah dibongkar pada tahun 2008 lalu. Pembongkaran itu diserahkan kepada pemulung. Hal ini menunjukkan seakan  kincir angin komet hanya dianggap tak lebih dari dari besi tua. Tak pernah sedikit pun terlintas di fikiran mereka tentang arti penting nilai sejarah dalam rekam jejak kota Banjarbaru.”jelas Rohim.
“Lantas, tanggapan pemerintah sendiri bagaimana?”tanyaku kembali.
“Mereka terkesan tidak peduli sehingga memberikan peluang kepada warga untuk men-judge sendiri atas benda itu. Sebagian orang hanya melihatnya sebagai benda tak terpakai dan bisa membahayakan keselamatan warga sekitar. Hal ini sama saja dengan menganggap kerdil terhadap suatu sejarah”
Aku terdiam sejenak dan mencoba berhalusinasi tentang bayangan kincir angin itu walaupun tak pernah melihat wujud aslinya.
Hembusan udara sore terus menemani perjalanan kami. Kali ini aku dan Rohim melewati tugu simpang empat yang menurutku terkesan glamor.
“Dulu lambang tugu simpang empat itu intan loh.” ucap Rohim secara tiba-tiba.
“Bukannya intan itu lambang kabupaten Banjar.”sanggahku.
“Memang, tapi itulah sejarahnya.”
“Wah..wah..kita ini seperti mahasiswa jurusan sejarah yang sedang observasi saja.”candaku diiring tawa kecil.
“Haha, tapi asyik kan belajar tentang sejarah. Hitung-hitung menambah wawasan, mungkin saja kau bisa mengambil hikmah dari apa yang aku ceritakan.” Rohim berkata dengan nada yang sok bijaksana, membuatku geli sendiri mendengarnya.

Kini Rohim mengarahkan setir motornya memasuki sebuah jalan, entah kemana anak itu ingin membawaku, aku tak tau. Mungkin saja dia ingin mencari beberapa tempat bersejarah lagi kemudian berkata-kata layaknya seorang pemandu wisata. Tiba-tiba dia menghentikannya motornya di depan sebuah bangunan yang jelas tertulis di pintu gerbangnya “Kolam Renang Idaman.”
“Kau ingin mengajakku berenang Him?”tanyaku sedikit bingung.
“Haha, siapa yang ingin mengajakmu berenang di cuaca yang dinginnya kaya di kutub bumi gini. Aku hanya ingin mengajak kamu makan soto lamongan di sana.”ucap Rohim seraya memanyunkan bibirnya ke sebuah warung kecil.
Akupun tersenyum mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Rohim.
“Traktir ya.”pintaku dengan senyuman yang masih mengambang.
“Ok deh.”balas Rohim.

Tak perlu waktu lama untukku dan Rohim mengahabiskan semangkok soto lamongan yang terkenal dengan kelezatannya itu. Apalagi di cuaca dingin, tentu selera makan makin bertambah. Setelah menyeruput  teh hangat, Rohim memandang ke arahku dan seakan ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun belum sempat Rohim mengeluarkan kalimat dari mulutnya, aku telah berucap terlebih dahulu.
“Ingin bercerita tentang sejarah lagi?.”tebakku.
“Kok bisa tahu duluan?”tanyanya sedikit heran.
“Haha, hanya menebak. Memangnya kau ingin berkata apa?”
“Apakau tidak keberatan jika aku membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan sejarah lagi?” Rohim balik bertanya, ada sedikit gores tak nyaman di wajahnya.
“Tentu saja tidak. Lanjutkan !”ucapku tegas layaknya ucapan para pemimpin partai yang tengah kampanye.
“Hmm.. dulu ada Taman Karang Taruna disini, namun sekarang telah dipadati dengan berbagai bangunan, seperti kantor kelurahan , rumah dinas walikota, dan salah satunya adalah kolam renang yang ada dibelakang kita ini. Dengan adanya banyak bangunan justru mengurangi ruang buka hijau yang sebenarnya juga bernilai sejarah. Selain itu ada juga tempat yang masih menyisakan kenangan, seperti taman bacaan gembira yang berada di depan Hotel Banjarbaru. Saat ini memang ada di rumah salah satu warga dengan nama taman bacaan MGR, namun itupun perlu mendapatkan apresiasi karena setidaknya masih mengingatkan kita akan eksistensi taman bacaan saat itu.”
Rohim kembali meminum tehnya hingga habis. Kemudian melanjutkan bicaranya.
“Selain itu, ada juga beberapa tapak sejarah kota Banjarbaru yang berubah fungsinya. Contohnya Gedung Bina Satria yang dulu menjadi pusat kegiatan pemuda seakan tidak dapt dipertahankan sebagai gedung pemuda. Justru saat ini dialihfungsikan untuk kegiatan lain yang tak begitu begitu berhubungan dengan kepemudaan. Semestinya gedung itu digunakan untuk sentral kegiatan pemuda yang juga bernilai sejarah. Begitu juga dengan proyek besi baja yang ada di sekitar tahun 1960-an yang merupakan PMA dari Rusia, namun saat ini telah berubah menjadi perumahan dan pertokoan. Mengapa kota ini membiarkan sejarahnya dibongkar? Menurutmu sendiri bagaimana?”
“Aku pikir perlu adanya kesadaran dan kepedulian bersama terhadap hal-hal yang bersejarah seperti taman bacaan Karang Taruna atau yang lainnya yang telah kau sebutkan. Tak baik untuk kita apalagi sebagai bangsa Indonesia membiarkan hal-hal yang berbau sejarah hilang ataupun berubah fungsi. Ada pepatah yang mengatakan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Seharusnya warga Banjarbaru tak menjadi patung saja yang hanya bisa melihat sejarahnya dibongkar, karena hal itu sama saja dengan mengubur sejarah Banjarbaru, sejarah warga sendiri.”
“Keren juga opinimu.”Puji Rohim.
“Ah kau ini, justru aku yang kagum padamu. Kamu memiliki wawasan yang luas tentang kota kelahiranmu. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang asal mula tanah kelahiranku.”
“Asal kita terus belajar dan berusaha mencari tahu, kita pasti akan mendapatkan apa yang bisa kita pelajari dan bisa kita bagi dengan sesama.” Rohim berkata dengan nada sedikit tegas.
“Hari hampir gelap Him, pulang yuk.”ajakku kepada Rohim.
Setelah Rohim membayar kepada abang penjual soto lamongan, kami pun berjalan menuju ke arah kendaraan yang terpakir di depan dekat pintu gerbang kolam renang idaman. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil kami dari belakang.
“Nak, tunggu.” Teriak suara bapak-bapak. Kami pun menoleh ke belakang.
“Perkenalkan, saya Abdullah dan saya seorang jurnalis. Saya tertarik dengan perbincangan anda berdua tadi tentang taman bacaan Karang Taruna dan hal lainnya yang berkaitan dengan sejarah di kota Banjarbaru. Bisakah kalian menjadi narasumber untuk bahan berita di koran nanti? Ini akan saya jadikan sebagai berita utama dengan menaruh foto kalian tentunya. bagaimana?”tanya bapak yang sedang memakai jaket kulit dan topi hitam itu.
Mendengar permintaan dari belliau, aku dan Rohim hanya bisa saling memandang satu sama lain kemudian tersenyum bersama. Sungguh sore yang indah di Banjarbaru.

1 komentar:

  1. wah keren bgt tulisan kamu,aku jadi kagum sama kamu dan temen kamu itu..
    Sekarang aku jadi tau sejarah bjb kayak apa. Padahal aku sering bgt seliweran di jalan komet tapi gak pernah liat ada perpustakaan, aku mau nanya dong di perpustakaan itu ada apa aja,ada buku fiksi kyk novel jg gak?

    BalasHapus