Setiap
hari Sabtu tiba, semua pelajar baik dari jenjang dasar hingga menengah atas mengenakan seragam yang berwarna cokelat. Sekarang,
coba amati atau bayangkan sejenak wujud kita yang tengah memakai seragam
cokelat dan dasi merah putih, kemudian renungkan. Ya, perpaduan antara celana
atau rok berwarna cokelat tua dengan kemeja yang juga berwarna cokelat muda
menunjukkan bahwa diri kita adalah seorang pramuka, seorang yang memiliki
pengetahuan dan pengalaman mengenai pramuka, namun bisakah kita mendeklarasikan
bahwa diri kita juga memiliki jiwa pramuka? Bagai pena tak bertinta, seperti
itu jualah pramuka yang tak d isertai dengan penghayatan. Pena yang tak
bertinta pasti tak akan pernah bisa digunakan untuk menggores kata apalagi
sebuah titik. Memakai seragam pramuka dan menggunakan atribut-atributnya yang
lengkap hanyalah sebatas pembicaraan fisik semata yang seakan-akan menunjukkan
bahwa ‘aku adalah seorang pramuka’, namun hal yang demikian tak bisa dikatakan
sebagai manifesto sempurna dalam pramuka.
Sesungguhnya,
penghayatan terhadap pramuka merupakan nyawa dari pramuka itu sendiri, karena
penghayatan melibatkan batin sebagai driver
dalam menunjukkan arah jiwa kita. Penghayatan pramuka disini berarti kita
mencoba untuk memahami, mendalami, menelusuri hingga akar segala hal tentang
pramuka lebih dalam dengan melibatkan perasaan. Jika hal itu dapat kita
lakukan, maka jiwa pramuka akan terwujud dalam diri kita. Jiwa pramuka yang telah bersemayam dalam diri
kita akan memudahkan segala tugas dan kewajiban pramuka yang kita jalani, sehingga
jika ada beban pun, akan berubah menjadi tantangan. Dengan memiliki jiwa
pramuka lah, kita dapat memacu tumbuhnya motivasi dalam diri kita agar bisa
menjadi sosok pramuka yang baik, bermanfaat dan dapat menjadi teladan bagi yang
lainnya.
foto yang dimbil saat kegiatan pramuka di PGSD Unlam Banjarbaru
mahasiswa putra (semester 2 b) tengah memerankan drama yang temanya diangkat dari dasa darma pramuka.
Lalu, bagaimanakah kita
bisa memiliki jiwa pramuka itu? Putarlah kembali gambaran sejarah pramuka di
negara kita. Bagaimana peliknya para remaja dan pemuda di tanah air yang tercinta ini dalam memperjuangkan organisasi
kepanduan karena terhalang oleh bangsa penjajah. Dari masa kolonial Belanda,
masa penjajahan Jepang dan berlanjut
hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dengan semangat
nasionalisme jualah, akhirnya gerakkan pramuka mulai berkembang dan disegani.
Dari sini kita dapat mendalami makna akan semangat nasionalisme yang mendasari
para pemuda saat itu untuk memperjuangkan gerakkan kepanduan, maka dari itulah
rekan-rekanku sekalian, mulai dari sekarang mantapkan tujuan di hati kita dalam
menjalani tugas sebagai seorang pramuka. Teruslah menebar benih kecintaan
pramuka dalam jiwa kita, jangan pernah letih dan gusar akan segala aral
rintangan yang tak pernah absen mewarnai perjalanan kita. Ingatlah wahai
rekan-rekanku sekalian bahwa pramuka sejati tercermin dari jiwanya. Maka dari
itulah, mulai sekarang mari kita bentangkan layar jiwa pramuka dalam hati dan
fikiran ini agar kita semua dapat menjadi insan pramuka yang berhati mulia, berjiwa baja, dan bertingkah
bijaksana.
Jujur,
aku sendiri merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang sering bolos saat
kegiatan pramuka di kampusku PGSD UNLAM Banjarbaru
(wahh..wahh, buka kartu nihh :-P), padahal pramuka merupakan eskul yang wajib
untuk diikuti. Apakah aku belum menemukan noktah jiwa pramuka yang sesungguhnya dalam
diriku?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar