Jumat, 29 Juni 2012

Jiwa Pramuka ~


Setiap hari Sabtu tiba, semua pelajar baik dari jenjang dasar hingga menengah atas  mengenakan seragam yang berwarna cokelat. Sekarang, coba amati atau bayangkan sejenak wujud kita yang tengah memakai seragam cokelat dan dasi merah putih, kemudian renungkan. Ya, perpaduan antara celana atau rok berwarna cokelat tua dengan kemeja yang juga berwarna cokelat muda menunjukkan bahwa diri kita adalah seorang pramuka, seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai pramuka, namun bisakah kita mendeklarasikan bahwa diri kita juga memiliki jiwa pramuka? Bagai pena tak bertinta, seperti itu jualah pramuka yang tak d isertai dengan penghayatan. Pena yang tak bertinta pasti tak akan pernah bisa digunakan untuk menggores kata apalagi sebuah titik. Memakai seragam pramuka dan menggunakan atribut-atributnya yang lengkap hanyalah sebatas pembicaraan fisik semata yang seakan-akan menunjukkan bahwa ‘aku adalah seorang pramuka’, namun hal yang demikian tak bisa dikatakan sebagai manifesto sempurna dalam pramuka.

Sesungguhnya, penghayatan terhadap pramuka merupakan nyawa dari pramuka itu sendiri, karena penghayatan melibatkan batin sebagai driver dalam menunjukkan arah jiwa kita. Penghayatan pramuka disini berarti kita mencoba untuk memahami, mendalami, menelusuri hingga akar segala hal tentang pramuka lebih dalam dengan melibatkan perasaan. Jika hal itu dapat kita lakukan, maka jiwa pramuka akan terwujud dalam diri kita.  Jiwa pramuka yang telah bersemayam dalam diri kita akan memudahkan segala tugas dan kewajiban pramuka yang kita jalani, sehingga jika ada beban pun, akan berubah menjadi tantangan. Dengan memiliki jiwa pramuka lah, kita dapat memacu tumbuhnya motivasi dalam diri kita agar bisa menjadi sosok pramuka yang baik, bermanfaat dan dapat menjadi teladan bagi yang lainnya.

 foto yang dimbil saat kegiatan pramuka  di PGSD Unlam Banjarbaru


mahasiswa putra (semester 2 b) tengah memerankan drama yang temanya diangkat dari dasa darma pramuka.

Lalu, bagaimanakah kita bisa memiliki jiwa pramuka itu? Putarlah kembali gambaran sejarah pramuka di negara kita. Bagaimana peliknya para remaja dan pemuda di tanah air yang  tercinta ini dalam memperjuangkan organisasi kepanduan karena terhalang oleh bangsa penjajah. Dari masa kolonial Belanda, masa penjajahan  Jepang dan berlanjut hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dengan semangat nasionalisme jualah, akhirnya gerakkan pramuka mulai berkembang dan disegani. Dari sini kita dapat mendalami makna akan semangat nasionalisme yang mendasari para pemuda saat itu untuk memperjuangkan gerakkan kepanduan, maka dari itulah rekan-rekanku sekalian, mulai dari sekarang mantapkan tujuan di hati kita dalam menjalani tugas sebagai seorang pramuka. Teruslah menebar benih kecintaan pramuka dalam jiwa kita, jangan pernah letih dan gusar akan segala aral rintangan yang tak pernah absen mewarnai perjalanan kita. Ingatlah wahai rekan-rekanku sekalian bahwa pramuka sejati tercermin dari jiwanya. Maka dari itulah, mulai sekarang mari kita bentangkan layar jiwa pramuka dalam hati dan fikiran ini agar kita semua dapat menjadi insan pramuka yang berhati  mulia, berjiwa baja, dan bertingkah bijaksana.    

Jujur, aku sendiri merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang sering bolos saat kegiatan pramuka di kampusku PGSD UNLAM  Banjarbaru (wahh..wahh, buka kartu nihh :-P), padahal pramuka merupakan eskul yang wajib untuk diikuti. Apakah aku belum menemukan noktah jiwa pramuka yang sesungguhnya dalam diriku? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar