Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting, karena pendidikan bagaikan akar yang mendasari kemajuan suatu bangsa. Pendidikan jualah yang membuat bangsa ini memiliki karakter di mata bangsa lainnya. Di masa sekarang, pendidikan tidak sesulit jaman dahulu. Anak cucu dan sanak saudara kita bisa menikmati berbagai fasilitas canggih nan berkualitas sebagai penunjang dalam kelancaranan proses belajar-mengajar. Di zaman milenium ini pun, tidak ada lagi siswa yang menggunakan daun sebagai pengganti kertas dan lidi sebagai alat tulisnya. Kemajuan peradaban telah mentransformsaikan dunia serta menumbuhkan berbagai inovasi dan kreasi baru dalam berbagai hal termasuk bidang pendidikan.
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, kita sebagai warga negara patut berbangga diri terhadap tanah air ini karena kita memiliki sosok pahlawan sejati, pahlawan yang telah menorehkan jasa besar terhadap dunia pendidikan, dia adalah Ki Hajar Dewantara. Bapak yang terkenal dengan semboyan “ing ngarso sung talada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” telah menyadarkan kita akan pentingnya arti sebuah kata pendidikan. Karena itulah, sebagai wujud atas penghormatan terhadap kerja keras beliau di bidang pendidikan pada tanggal 2 Mei yang juga merupakan hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Berkaitan dengan hari pendidikan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk memaknainya. Salah satunya adalah dengan mengadakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dunia pendidian memiliki peran penting dalam membangun bangsa yang didasarkan atas jati diri. Tentunya hal ini berkaitan dengan sumber daya manusia yang produktif. Pemerintah pun telah mencanangkan berbagai program untuk menyiapkan akses seluas-luasnya kepada anak-anak bangsa agar bisa mengenyam bangku pendidikan. Tentunya perluasan akses tersebut disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Dunia telah mencatat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam buku waktunya berikut dengan akibat yang ditimbulkan yaitu semakin tingginya kebudayaan dan peradaban. Dalam kaitan dengan inilah peran dunia pendidikan sebagai pemacu sekaligus sebagai pengontrol suatu peradaban diperlukan agar tak keluar dari jalur karakter dan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Sudah saatnya kita semua ulurkan tangan, bentuk barisan, dan saling menguatkan dalam upaya bersama untuk membentuk generasi emas Indonesia. Kita disini bukan berarti pemerintah, bukan pula para pihak tertentu, namun makna kita disini adalah seluruh warganegara Indonesia tanpa mengenal titel, asal, maupun kedudukan.
Tanggal 2 Mei ini tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara, namun lebih merupakan sebuah momentum untuk memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa. Kemajuan tingkat pendidikan di negara-negara lain bukan menjadi pagar pembatas namun sebagai cambuk semangat bagi kita agar bisa terus menaiki tanga ketertinggalan. Jika zaman dulu sebagian orang memandang sebelah mata terhadap pendidikan karena kondisi serta belum adanya fakta yang bisa membuktikan, sekarang justru kita harus membuka lebar mata kita dan memberikan pengakuan terhadap pendidikan.
Pendidikan mempunyai arti yang luas. Pendidikan tidak hanya bertitle formal seperti yang ada di sekolah-sekolah, namun juga nonformal yang melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pendidik kepribadian. Dengan pendidikan, kebodohan tersingkirkan, dengan pendidikan, kesejahteraan terciptakan, dan dengan pendidikan pulalah segala cita-cita mampu terwujudkan. Sepatutnyalah kita mengucapkan selamat hari pendidikan nasional kepada seluruh bangsa Indonesia ini, khususnya kepada para tenaga pendidik, peserta didik, serta para pihak yang selalu mengulurkan tangannya dalam upaya memajukan pendidikan di tanah air. Marilah kita bersama-sama membangun tenda kemajuan bangsa dengan tali-tali pendidikan disertai dengan nurani yang bersih. Berikanlah jalan seluas-luasnya kepada anak cucu kita untuk memperoleh pendidikan yang baik nan berkualitas sehingga mampu mewujudkan generasi penerus yang akan membawa obor usaha dan semangat hingga puncak kejayaan.
written by Anugrah Mitria Sari
Minggu, 27 Mei 2012
Kamis, 17 Mei 2012
Saying love Ala Awan
Ini merupakan salah satu naskahku yang malang, (eitss.. dalem banget yawh), maksudnya belum berhasil kepilih wat lolos audisi gitu.. butttttt,, no probeleeemee.. toh apapun hasilnya yang penting usaha to? emang sih, dilihat dari sisi muka-belakang, atas bawah, sampng kiri kanan (kayak benda 3 dimensi aja) cerita ini banyak kekurangannya,, tapi kyu harap this story can amuse whoever read :-)))))
“...Ditambah dengan kebut-kabut tipis pasti view-nya tambah bagus. Beuhh, dijamin
cara gue lebih romantis daripada si Cullen.” Ucap Awan senyam senyum sendiri
sambil memainkan tangannya kesana kemari kaya lagi baca puisi.
Afri
yang dari tadi menjadi pendengar setia akhirnya
angkat bicara juga, “Wan, kalo cara nembak dengan latarnya hutan sih gue
ok-ok aja, tapi yang gua ngerasa ganjil kenapa mesti naik pohon kaya di film Twilight
segala sih? Coba deh mainin logika lo, di film itu mereka makai pengamanan yang
ekstra, nah kalau Lo? Gue berani taruhan, paling
hitungan detik bibir monyong lo
itu bakal nyium tanah.”
Awan
mulai mengambil nafas dalam-dalam dan
siap membalas sanggahan yang dilontarkan Afri ”Fri, di hutan pinus banyak pohon
yang batangnya gede-gede dan mudah untuk dipanjat. Lagian si Lily kan anak
pecinta alam, jadi dia bisa nolongin gue kalo terjadi apa-apa.”
“Itu
namanya ga jantan.” Ketus Afri
“Yee,
siapa bilang gue betina?” balas Awan tak
mau kalah.
“Udah,
daripada ribet mending pake surat aja” sambung emak Awan yang tiba –tiba muncul
dari pintu.
“Surat?
emang sekarang zaman kerajaan Majapahit Mak? Yang modern donk biar ga dibilang
kampungan.” Ujar Awan masih diiringi gerakkan tangannya yang ga mau diam.
“Eh
Wan, gini-gini Emak lebih banyak tau. Kita bisa leluasa menuangkan isi hati
kita melalui tulisan dalam surat. Kita bisa mengurangi rasa gugup kita ketika
ingin menyatakan perasaan pada seseorang melalui surat tanpa harus bertatap
muka. Melalui tulisan, kita juga bisa meluluhkan perasaan wanita dengan bius
kata-kata cinta. Selain itu, surat juga hemat dan praktis.”
Perkataan
emak membuat Awan melongo. Tak disangka, Emaknya yang suka ngomong pakai bahasa bebek yang cas cis cus ternyata
bisa mengucapkan bahasa Indonesia yang sarat dengan sastra.
“Iya,
iya. Surat akan Awan jadiin sebagai alternatif paling akhir dari yang
terakhir.” Celutuk Awan.
Hari
Minggu pukul 07.00 pagi. Rombongan pecinta alam sudah stand by dengan perlangkapan
masing-masing. Tampak Si Awan tengah meliuk-liukkan badannya ke kiri dan kanan sambil ngitung angka sampai tiga doang.
Sebenarnya, Awan sendiri bukan anggota
pecinta alam, tapi karena dia ngotot ditambah lagi pembina eskul PA
adalah pamanya, sehingga dengan mudah Awan mendapat lampu hijau untuk ikut serta
dalam kegiatan penjelajahan hutan pinus itu. Pukul 08.00 pagi, rombongan udah
mulai melakukan perjalanan. Tampak di barisan itu sosok Awan dengan memakai
jaket bergambar angry birds berjalan di samping Lily.
“Ly,
kata pamanku tadi kita disuruh berpasangan untuk mencari pohon besar yang bisa
dipanjat. Aku sama kamu ya?” pinta Awan dengan sepoles senyuman penuh harap.
“Emm,
boleh. Tapi apa kamu bisa manjat pohon?” tanya Lily setengah yakin.
“Oh,
kemampuanku jangan diragukan lagi. Waktu kecil dulu aku seneng banget manjat
batang pohon. Dari batang nangka, batang mangga, batang jambu sampai batang
jemuran Emak juga pernah gue panjat. Yang pasti, asal sama Lily everything will be ok.” Awan mulai
mengeluarkan jurus gombal semester satunya. Liliy hanya menanggapi dengan
senyuman.
Dengan
pedenya matahari pagi itu mengumbar-umbar sinar dan panasnya ke belahan bumi
sebelah timur. Sudah satu jam lebih Awan berjalan menjelajah hutan pinus, rasa
penat pun mulai melorotin semangatnya. Tapi, pantang bagi Awan untuk mengeluh
apalagi hanya sekedar mengatakan cape dengan berbisik karena sekarang ia tengah
berjalan dengan sosok bidadari dihatinya, Lily. Ketika rasa letih dan bosan
sudah membludak di hati Awan, akhirnya Lily pun menghentikan langkah di depan
sebuah pohon yang tinggi dan berbatang besar.
“
Gimana pendapat kamu Wan tentang pohon ini?”
Awan
bergidik melihat ukuran pohon yang ternyata jauh dari bayangannya.
“Emm,
yakin ini pohon yang mau dipanjat?”
“Mau
cari yang lain?” Liliy balik bertanya.
Tawaran
liliy membuat Awan berfikir sejenak. Jika dia tidak memilih pohon itu, maka
perjalanan panjang bin melelahkan akan dilakoninya lagi. Namun, jika ia
memutuskan pohon itu untuk dipanjat, maka tak ada garansi kalau ia bakal pulang
dengan wajah masih utuh. Sebenarnya yang dikatakan Awan mengenai kemampuannya
memanjat hanya sebatas pohon mangga tumbuh subur di gurun alias bohong belaka.
Dengan mengucapkan basmallah, istigfar sepuluh kali dan tak lupa sholawat dan
salam Awan pun mengangguk setuju.
Selang
beberapa waktu kemudian, Awan dan Liliy sudah berada di atas pohon. Lily
terlihat begitu lihai menaiki batang demi batang pohon serta mampu menjaga
keseimbangannya. Sedangkan Awan berada jauh di bawah Lily dan masih sibuk
dengan rasa gugup dan ragu-ragu untuk menggerakkan kaki dan tangan.
“Wan,
kok dari tadi ga naik-naik sih?” tanya Liliy ketika melihat Awan yang masih
setia berdiri di batang pohon paling bawah.
“Eee,
tunggu Ly. Kalau mau manjat pohon yang tinggi aku harus melakukan perhitungan
yang tepat dulu, biar ga salah.” Awan berkilah.
“Ya
udah aku tungguin di sini.”
Mendengar
pernyataan Liliy untuk menunggu membuat Awan jadi merasa ga enak. Tiba-tiba ia
diingatkan akan tujuan awalnya untuk menyatakan cinta pada Liliy. Bagai
tercambuk pedang api, Awan pun mulai bergerak menuju ke batang pohon yang ada
di atasnya tanpa peduli berapa meter sudah ia jauh dari tanah. Dalam hitungan
detik kini sosoknya telah berdiri di dekat Liliy. Jantungnya terpacu dengan
cepat, keringat yang mengguyur tubuhnya karena cuaca panas kini telah berganti
dengan peluh dingin.
“Ayo cepat katakan, Wan. Jangan sia-siain
kesempatan langka ini. Mungkin jarang
atau bahkan ga ada orang yang melakukan sesi penembakan di atas pohon kaya Lo.”
Suara kecil di hati Awan mulai mengeluarkan komandonya.
“Emmm,
Ly.. aku..” Awan mulai berucap, namun terhenti ketika melihat mata indah Liliy
menatapnya.
“Pasti mau bilang kalau kamu seneng dengan pemandangan dari atas sini kan?” potong Lily disertai seukir senyuman manis yang bikin jantung Awan berdisko ga karuan.
“Pasti mau bilang kalau kamu seneng dengan pemandangan dari atas sini kan?” potong Lily disertai seukir senyuman manis yang bikin jantung Awan berdisko ga karuan.
“Oh,
iya.. anu Ly, sebenernya aku pengen ngomong sama kamu kalau aku..”
“Eh,
kira-kira sekarang kita ada di ketinggian berapa meter ya?”
Awan
menarik nafas panjang. Ia merasa Liliy sibuk sendiri dan tak menghiraukan perkataannya. Karena tak
tahan lagi dengan rasa sesak yang membludak ingin keluar dari dadanya, Awan pun
berteriak dengan keras..
“Ly,
aku cinnn....”
“10
meter ! wahh tinggi juga. “ teriak Liliy, berbarengan dengan suara Awan.
“Cinuapppaaa?
10 meter???” Awan tiba-tiba merubah haluan pembicaraannya. Dengan mulut yang
masih menganga karena rasa shock, ia
perlahan menggerakkan bola matanya ke arah bawah dan...’buukk’ terdengar suara
benda lunak jatuh menimpa tanah subur yang selalu setia berwarna cokelat.
* * *
Bau
menyengat dari terasi menari-nari di indera penciuman Awan. Hidungnya mulai
mengendus-endus bau yang membuat perutnya bergoyang gergaji itu.
“Wan,
Wan sadar nak. Ini emak.”
“Huekkk,,
bau apa ini Mak, ga enak banget.” Dengan spontan Awan bangun dari tempat tidur
sambil menutup hidungnya dengan bantal.
“Alhamdulillah,
tuh kan bener apa yang Afri bilang, Awan bakal sadar kalau nyium yang beginian.
Dia kan doyan Mak.”
“Doyan,
doyan, gue tu paling anti ama terasi yang baunya kaya kaos kaki lo itu tau”
Awan menimpuk Afri dengan bantalnya.
“Udah,
udah. Wan, gimana keadaan kamu? Ada yang
sakit ga? Emak kan udah ngingetin, ga usah ikut kegiatan Paman Ucup ngemanjat
pohon karena Mak takut phobia kamu sama ketinggian kambuh lagi.”
Mendengar
perkataan emak membuat Awan hening sejenak. Ia mencoba me-reply rekaman kejadian yang telah lalu. Tiba-tiba, aura wajah Awan
yang pas-pasan itu berubah menjadi lesu.
“Awan
gagal menyatakan perasaan sama Lily Mak.”
“Ga
usah sedih Wan, masih banyak cara untuk menyatakan perasaan sama Liliy. Caranya
emak udah dicoba belum?”
“Surat?”
Awan mengernyitkan alisnya dibalas
dengan anggukkan dari emak.
Awan
pun memutuskan untuk melakukan penembakan melalui surat walaupun fikirannya
kontra terhadap hal itu. Wajah Awan sudah terlanjur terpoles dengan rasa malu
yang amat sangat karena dirinya telah resmi menyandang gelar failed dalam rencana pernyataan cinta.
Singkat cerita, surat cinta Awan pun telah sampai ditangan Lily. Tik tok jarum jam terus berlalu, hingga
pada akhirnya surat yang mulanya berwarna pink ditangan Awan, kini telah
berganti menjadi warna putih. Ya, itu adalah surat balasan dari Lily. Entah
kenapa Liliy menggunakan amplop putih untuk membalas surat cinta darinya,
apakah ini pertanda bahwa cinta Awan harus angkat tangan terhadap takdir?
Jejeran tulisan yang diketik Lily tercetak rapi di atas kertas putih, tiba-tiba
jantung Awan berdegup kencang kala fikirannya mulai menyelami satu persatu
makna kata dalam surat itu.
Dear Awan yang manis dan lucu,
bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik saja.
Wan, maaf selama ini rasa maluku
telah menyusahkan hatimu. Rasa maluku yang membuatmu bersusah payah jatuh bangun
mengejarku. Namun, dengan rasa malu itu pulalah, aku dapat melihat kesungguhan hatimu.
Rasa maluku itu adalah rasa untuk mengakui bahwa aku juga menyukaimu. Aku telah
menyukai sosokmu yang kurasa berbeda dengan lelaki lainnya. Jujur, sangatlah
susah bagiku untuk menyatakan perasaan yang sangat menyesak ini padamu, semua
itu karena tertutup oleh kabut rasa malu dan tak percaya diriku. Namun setelah
menerima surat cinta darimu, aku seakan mendapat kekuatan untuk menyatkan
perasaan ini padamu, rasa yang telah lama menyemai benih kebahagaan dihatiku.
Semoga semua rasa dihati kita dapat terangkai dengan indah
~ Lily ~
Selasa, 15 Mei 2012
MANIFESTO CINTA
I Love You
because of Allah
I don’t hope to make a relationship with you
The relationship was called by boyfriend-girlfriend
I have a dream to be together with you forever
We will pursue a life of violent world together
I have a holly plan, when I have been success of
reaching dream and making my parents happy
And If God make a plan for us to be together,
I will make our relationship to be rightfull of
marriage
Effort and pray are my love forms to you
If you love another person, it’s your right
If you are live with person who you
love, it’s your fate.
Maybe my fate is only love you as long as my soul in
my body,
But it can’t be possessed of you.
Dengan menyebut nama kekasih hatiku yang paling
mulia di atas segalanya, satu-satunya Zat Maha Agung yang mampu membolak-balikkan warna rasa di hati.
Ingin ku lantunkan rangkaian kata yang penuh dengan pujian terhadap nikmat Nya yang
tiada tara. Sebuah anugerah terindah dalam bentuk perasaan fitrah yang dapat
dihirup oleh semua makhluk ciptaan Nya, dia adalah cinta. Ya, cinta. Sebuah kata
yang pendek dilihat dan singkat diucapkan, namun terdapat beribu-ribu makna
yang melambangkan kesejatian dan kesungguhan di dalamnya. Jika aku ditanya
kepada siapa aku jatuh cinta sekarang? Sesungguhnya itu bukanlah pertanyaan
yang tepat untuk diberikan . namun jika ada pertanyaan kenapa aku mencintainya?
Maka dengan lantang aku akan menjawab bahwa aku mencintainya karena Allah SWT,
Zat Pemberi Cinta. Karena sesungguhnya cinta sejati itu adalah cinta kepada
yang mempunyai cinta.
Cintaku tidaklah seperti Hitler yang memaksa dan
menghukum segala hal yang tak sesuai dengan keinginannya. Cintaku tidaklah
harus dirajut dengan sebuah hubungan mengikat namun tak halal di mata Nya,
karena aku tak mau cintaku menjadi hamba sahaya dari nafsu belaka.
Biji-biji cinta tak dapat tumbuh tanpa adanya tanah mimpi dan pupuk harapan. Bukanlah sebuah
sabda yang salah jika kita memiliki keinginan untuk masa depan kehidupan cinta
kita kelak. Begitu pula diriku, yang tak pernah berhenti mengukirkan angan di
atas kanvas doa dan usaha. Setelah aku berhasil meniti jembatan kesuksesan dan
memberikan kendi kebahagiaan kepada kedua orang tuaku, aku ingin membuat istana
cinta bersamamu dalam surga dunia. Tentunya semua itu bisa aku dapatkan setelah
ikrar suci ini berpaut pada tiang yang telah diridhoi-Nya.
Tapi, mungkinkah itu semua terwujud? Mungkinkah aku
dapat merasakan bentuk nyata dari harapan dan mimpi cintaku yang tulus? Kembali hati ini terpaku, fikiranku seakan
merubah halauan. Bagaimana jika kelak takdir ini tak mengiyakan anganku? Bagaimana
jika dirinya mencintai dan hidup bersama insan yang lain? Ahh, pertanyaan-pertanyaan
itu seakan menjadi pedang sejengkal namun mampu mengiris perasaanku hingga
terputus.
Tapi, nurani ini seakan berkilah. Jika memang dia
mencintai orang lain, itu adalah haknya. Jika dia hidup bersama orang lain , itu adalah takdirnya. Ya, kini mata
kesadaranku mulai terbuka. Aku hanyalah seonggok ciptaan lemah, yang jahil akan segala rahasia Tuhan yang sudah
tergoreskan. Adalah hal yang buruk, sungguh sangat buruk, jika aku harus
menikam bayangan –bayangan yang belum jelas adanya dengan sikap suuzanku.
Ini semua hanyalah sebuah rangkaian kata yang kuciptakan
dari rembesan cairan hati. Sebentuk ungkapan rasa yang masih aku penjarakan
dalam palung jiwa.
"Dan di antara tanda-tamda (kebesaran)-Nya ialah Dia
menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung
tentram kepadanya. Dan dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.
Sungguh pada demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang berfikir." (Ar -Rum [30]: 21)
Written by AMS
Teruntuk saudara-saudaraku disana.
Minggu, 13 Mei 2012
Berkah Belajar
|
K
|
ertas
putih bertuliskan cetakkan huruf dan angka remuk dalam remasan tangan Ule.
Namun, sehancurnya kertas itu tak sehancur perasaannya sekarang. Hatinya terasa
begitu gundah dan pikirannya kelam, semua bumbu kesedihan dan kekecewaan bercampur
dalam kendi jiwanya yang rapuh. Sudah ia duga, hari itu akan ada berita tak
menyenangkan menyapa dirinya. Ya, baru saja Ule menerima hasil ulangan umum
yang membuat hatinya menangis. Ini bukan pertama kalinya ia dibuat kecewa
dengan senyuman nilai-nilai yang tertera dalam rapot. Kelemahannya dalam berfikir menjadikannya
mendapat julukan si pungguk yang bodoh. Bahkan tak jarang ia dikucilkan dalam
pergaulan teman-temannya. Ule adalah anak dari keluarga yang kurang mampu,
ayahnya seorang tukang sampah dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Bagi
orang tua mereka, pendidikan bukanlah hal yang utama, yang terpenting adalah
bagaimana bisa mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Namun Ule tak ingin
berfikir dangkal, ia tak mau terus hidup di bawah alur penderitaan. Ia berambisi
besar untuk merubah revolusi hidupnya yang belum secara utuh beredar dalam
garis kebahagiaan. Tiba-tiba, rekaman pembicaraan dari ayahnya terputar begitu
saja di benak Ule.
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang penting itu tekad Le.”
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang penting itu tekad Le.”
Ule
lagi-lagi terkulai. Kata-kata bapaknya seakan menjadi segerombolan hujan yang
memadamkan kobaran api semangat dalam sekejap. Namun dalam gumpalan bara yang
tertinggal, ada seuntai kata-kata sanggahan yang ia ingin lontarkan pada
ayahnya. Sanggahan bahwa dalam pencapaian kesuksesan hidup tidak hanya bermodal
tekad, namun juga usaha yang bisa dijalani melalui jembatan pendidikan. Tapi apalah
daya, rasa hormat kepada ayahnya yang begitu kuat mengalahkan
ketidaksetujuannya.
Ule
masih terikat dalam gelutan kesedihan. Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki
beberapa orang yang berjalan menuju kelasnya diiringi gurauan-gurauan kecil.
Saat langkah-langkah kaki itu mencapai mulut pintu kelas, keheningan tercipta
seketika. Aura tak nyaman dirasakan Ule.
“Heh
Pungguk, apa kabar dengan hasil ulanganmu?” Tanya seorang siswa yang suaranya
tak asing lagi di telinga Ule.
Ule
hanya menanggapinya dengan diam. Namun tiba-tiba, kertas yang ada di
genggamannya ditarik paksa.
“Rio,
kembalikan!!!” Perintah Ule dengan nada sedikit emosi.
“Sudah
kuduga. Semuanya bernilai D. Tapi tak apa, kamu patut berbangga diri, karena
huruf D merupakan lambang yang mampu menggambarkan IQ mu yang rendah. Selamat!”
Ucap Rio dengan angkuhnya seraya melempar kertas hasil ulangan ke wajah Ule.
“Heh
Punggguk. Tak usah terlalu meratapi nilai ulanganmu yang jelek. Toh ujungnya
kamu juga akan menjadi seperti ayahmu. Tapi lain dengan Rio, dia memang pantas
mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh siswa pada ulangan kali ini, itu semua
demi masa depannya sebagai calon pengganti kedudukan ayahnya sebagai komisaris.
Ternyata benar kalau ada pepatah yang
mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Cerca temannya Rio dengan nada
merendahkan.
Ule
mengepal kedua tangannya kuat-kuat, kemudian berucap dengan keras, “Aku ingin
membuktikan bahwa pepatah itu tak berlaku pada diriku.”
Pernyataan
dari Ule membuat Rio dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat
Ule merasa diremehkan dan tak dihargai. Ia seakan menjadi kelinci ditengah para
singa yang angkuh dan sombong dengan kekuatannya. Tiba-tiba, suara pria yang
berdeham menghentikan tawa mereka.
“Ehem,
ada apa ini?”
“Pak
Wisnu.” Serentak Rio dan temannya berucap kaget.
“Bisakah
kalian meninggalkan ruangan ini? ada yang saya ingin bicarakan dengan Ule.”
Pinta Pak Wisnu.
Tanpa
basa basi Rio dan teman-temannya pun meninggalkan ruangan itu.
“Ule,
apa yang mereka katakan padamu?” Tanya
Pak Wisnu seraya menatap wajah Ule yang terlihat lesu.
“Sepertinya
yang dikatakan mereka benar Pak. Aku sadar bahwa aku hanyalah seonggok tanah
liat ditengah lautan emas dan permata. Mustahil bagiku untuk bisa
bertranformasi menjadi bagian dari batu mulia. Aku memang ditakdirkan menjadi
orang bodoh di dunia ini.” Keluh Ule dengan wajah tertunduk.
Mendengar
itu Pak Wisnu menghela nafas panjang, kemudian berucap “Kamu salah Le. Tak
selamanya tanah liat menjadi barang tak bermanfaat, buktinya dengan kecekatan
tangan manusia, tanah liat bisa disulap
menjadi benda-benda yang sangat berharga. Kamu belum memahami itu Le, kamu
masih belum bisa menemukan simbol kepercayaan yang ada dalam dirimu. Mungkin
telah ribuan kali ungkapan bodoh keluar dari fikiran dan mulutmu, tapi tidak
dari hatimu. Itu semua karena kau belum
membuktikannya dengan rasa yakin yang tertanam dalam hati. Ule, ada
sebuah fakta nyata, dua orang yang sama bodohnya menghadapi ujian. Salah
seorang dari mereka mau berusaha dengan belajar, sedangkan seorangnya lagi
tidak. Setelah hasil ujian diumumkan, salah satu dari mereka yang belajar tadi
bisa mendapatkan hasil yang baik
sedangkan satu orangnya lagi tidak, padahal tingkat kebodohan mereka sama. Hal
itu bisa terwujud karena adanya berkah belajar, berkah yang bisa didapat dengan
jalan usaha. Intinya, kamu harus percaya akan adanya berkah belajar itu Le,
kemudian berusaha meniti jembatan untuk mencapainya.”
Perlahan Ule menaikkan kepalanya dan menatap lekat mata Pak Wisnu,”Bapak yakin saya bisa?”
“Bapak
sangat yakin, waktu masih panjang Le, sisa empat bulan lagi. Masih ada
kesempatan untuk merubah susunan puzzle kehidupanmu. Mari kalahkan pasir waktu
yang tak bosan untuk memenuhi ruang di bawahnya. Bapak ada di belakangmu Le.”
Pak Wisnu berucap dengan mantap sambil memegang erat bahu Ule.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Waktu
terus menggoreskan jejaknya. Semenjak mendapat suntikan semangat dari Pak
Wisnu, Ule semakin yakin akan tekadnya dalam belajar. Segala jalan telah ia coba
tempuh, mulai dari rajin mengikuti pembelajaran di sekolah, mengikuti les, dan
pergi ke rumah Pak Wisnu untuk bertanya tentang pelajaran yang belum ia pahami di
setiap waktu luang. Untungnya, ayah Ule tak terlalu membebani Ule dengan
pekerjaan yang berat sehingga Ule memiliki banyak kesempatan untuk mencari ilmu.
Itu semua ia lakukan demi mendapat berkah Nya dari usaha belajar.
Hingga akhirnya hari yang dinanti-nanti pun
telah tiba. Hari dimana Ule akan
bertaruh dan membuktikan sejauh mana batas ukuran usaha yang telah ia lakukan.
Hari dimana mata, tangan , dan fikirannya akan beradu dengan kertas-kertas
ujian. Dengan setancap tekad kuat dan seraut keyakinan, ia mantapkan niat di
hati demi meraih kesuksesan dalam ujian kali itu. Melihat kegigihan dan
semangat yang berkobar-kobar di mata Ule, Pak Wisnu hanya bisa tersenyum dan
berdoa, semoga siswanya yang satu itu tak mengecewakan kepercayaan yang telah
ia berikan.
Pukul
delapan tepat. Panggung sudah tertata rapi dan terlihat mewah dengan perpaduan
berbagai hiasan. Para tamu undangan pun tampak memadati tempat duduk yang telah
di sediakan di bawah tenda berwarna biru. Di tengah-tengah para undangan yang
datang dengan memakai pakaian yang serba bagus, terlihat seorang pria tua dengan
memakai baju biru lusuh dengan sebuah peci hitam di kepalanya. Wajahnya tampak
cemas, sesekali matanya berlarian mencari sosok anaknya yang duduk tak jauh
darinya. Ya, dia adalah ayahnya Ule.
Suara
dengungan dari speaker yang berukuran besar menandakan acara pengumuman hiasil
ujian akan dimulai. Semua wajah siswa mulai menunjukkan berbagai bentuk
ekspresi. Dari gugup, cemas, takut, dan sebagainya. Demikian pula Ule, raut
wajahnya menandakan bahwa ia sekarang tak tenang, semua rasa tak nyaman
bergumpal menjadi satu, mematikan segala asa dan cita dalam hati. Namun ketika
ia mengingat pesan dari Pak Wisnu bahwa
ia pasti bisa mendapatkan hasil baik dengan berkah yang diperoleh dari belajar,
semangat dan rasa yakinnya hidup kembali. Waktu kian berlalu, kini tiba saatnya
pengumuman bagi lima siswa bresprestasi dengan nilai UN tertinggi yang akan
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke universitas negeri terkenal di
Indonesia. Mendengar perkataan itu, mata Ule menatap ke arah Rio, hatinya
berucap bahwa teman yang dulu pernah menghinanya itulah yang kemungkinan besar
akan mendapatkan beasiswa. Semua bayangan masa lalu tentang segala konflik
antaranya dirinya dan Rio tertayang kembali dalam benak Ule. Ia tahu, walaupun
Rio sering bersifat angkuh tapi ia merupakan anak yang pintar dan berprestasi.
Tiba-tiba Ule merasakan ada yang menggoyang-goyang lengannya dari disamping,
setelah dilihat ternyata itu adalah Deni.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Hah,
a..apa yang kamu katakan?” Ule tampak bingung. Ia tak mendengar apa yang telah
dikatakan karena asyik dengan lamunan masa lalu.
“Saya
mohon sekali lagi kepada Ule dan orangtuanya maju ke depan untuk menerima
penghargaan.” Kali ini suara dari pembawa acara terdengar begitu jelas di
telinga Ule. Ule tergagap. Ia seakan merasa melayang-layang di atas ratusan
orang yang hadir. Tapi, ketika ia melihat sosok pria tua berbaju lusuh berjalan
ke arahnya sambil tersenyum, Ule baru sadar, bahwa itu semua bukan mimpi. Ya,
hari itu telah termaktub peristiwa bahagia yang tak terduga dalam kitab kisah
kehidupan Ule. Dia telah mampu mewujudkan segala mimpi-mimpi lampau yang tak
pernah sampai. Dengan langkah penuh suka cita, Ule dan ayahnya menaiki panggung
mewah yang menjadi pusat perhatian setiap mata kala itu. Riuh derai suara
teriakkan dan tepuk tangan menggema ketika Ule menerima penghargaan. Tak terasa
buliran bening keluar perlahan dari sudut matanya. Dipandangnya wajah ayah yang
selama ini begitu ia cintai juga turut meneteskan bentuk rasa harunya. Dari
sudut panggung, tampak pula Pak Wisnu tak ketinggalan ikut menepukkan kedua
tanganya ditambah seukir senyuman bangga.
Hari itu dengan nyata telah didapatkan Ule balasan dari usaha yang telah
ia lakukan dalam mencari berkah-Nya, berkah yang bermula dari niat, berlanjut
dengan tekad, dan bersambung dengan kesungguhan dalam belajar.
”Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah,
hanyalah orang-orang yang kafir”. Al-Qur’an
surah Yusuf (12) ayat 87
Langganan:
Komentar (Atom)



