Minggu, 13 Mei 2012

Berkah Belajar


K

ertas putih bertuliskan cetakkan huruf dan angka remuk dalam remasan tangan Ule. Namun, sehancurnya kertas itu tak sehancur perasaannya sekarang. Hatinya terasa begitu gundah dan pikirannya kelam, semua bumbu kesedihan dan kekecewaan bercampur dalam kendi jiwanya yang rapuh. Sudah ia duga, hari itu akan ada berita tak menyenangkan menyapa dirinya. Ya, baru saja Ule menerima hasil ulangan umum yang membuat hatinya menangis. Ini bukan pertama kalinya ia dibuat kecewa dengan senyuman nilai-nilai yang tertera dalam rapot.  Kelemahannya dalam berfikir menjadikannya mendapat julukan si pungguk yang bodoh. Bahkan tak jarang ia dikucilkan dalam pergaulan teman-temannya. Ule adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, ayahnya seorang tukang sampah dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Bagi orang tua mereka, pendidikan bukanlah hal yang utama, yang terpenting adalah bagaimana bisa mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Namun Ule tak ingin berfikir dangkal, ia tak mau terus hidup di bawah alur penderitaan. Ia berambisi besar untuk merubah revolusi hidupnya yang belum secara utuh beredar dalam garis kebahagiaan. Tiba-tiba, rekaman pembicaraan dari ayahnya terputar begitu saja di benak Ule.
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang  penting itu  tekad Le.”
Ule lagi-lagi terkulai. Kata-kata bapaknya seakan menjadi segerombolan hujan yang memadamkan  kobaran api semangat  dalam sekejap. Namun dalam gumpalan bara yang tertinggal, ada seuntai kata-kata sanggahan yang ia ingin lontarkan pada ayahnya. Sanggahan bahwa dalam pencapaian kesuksesan hidup tidak hanya bermodal tekad, namun juga usaha yang bisa dijalani melalui jembatan pendidikan. Tapi apalah daya, rasa hormat kepada ayahnya yang begitu kuat mengalahkan ketidaksetujuannya.
Ule masih terikat dalam gelutan kesedihan. Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang berjalan menuju kelasnya diiringi gurauan-gurauan kecil. Saat langkah-langkah kaki itu mencapai mulut pintu kelas, keheningan tercipta seketika. Aura tak nyaman dirasakan Ule.
“Heh Pungguk, apa kabar dengan hasil ulanganmu?” Tanya seorang siswa yang suaranya tak asing lagi di telinga Ule.
Ule hanya menanggapinya dengan diam. Namun tiba-tiba, kertas yang ada di genggamannya ditarik paksa.
“Rio, kembalikan!!!” Perintah Ule dengan nada sedikit emosi.
“Sudah kuduga. Semuanya bernilai D. Tapi tak apa, kamu patut berbangga diri, karena huruf D merupakan lambang yang mampu menggambarkan IQ mu yang rendah. Selamat!” Ucap Rio dengan angkuhnya seraya melempar kertas hasil ulangan ke wajah Ule.
“Heh Punggguk. Tak usah terlalu meratapi nilai ulanganmu yang jelek. Toh ujungnya kamu juga akan menjadi seperti ayahmu. Tapi lain dengan Rio, dia memang pantas mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh siswa pada ulangan kali ini, itu semua demi masa depannya sebagai calon pengganti kedudukan ayahnya sebagai komisaris. Ternyata benar  kalau ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Cerca temannya Rio dengan nada merendahkan.
Ule mengepal kedua tangannya kuat-kuat, kemudian berucap dengan keras, “Aku ingin membuktikan bahwa pepatah itu tak berlaku pada diriku.”
Pernyataan dari Ule membuat Rio dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Ule merasa diremehkan dan tak dihargai. Ia seakan menjadi kelinci ditengah para singa yang angkuh dan sombong dengan kekuatannya. Tiba-tiba, suara pria yang berdeham menghentikan tawa mereka.
“Ehem, ada apa ini?”
“Pak Wisnu.” Serentak Rio dan temannya berucap kaget.
“Bisakah kalian meninggalkan ruangan ini? ada yang saya ingin bicarakan dengan Ule.” Pinta Pak Wisnu.
Tanpa basa basi Rio dan teman-temannya pun meninggalkan ruangan itu.
“Ule, apa yang mereka katakan  padamu?” Tanya Pak Wisnu seraya menatap wajah Ule yang terlihat lesu.
“Sepertinya yang dikatakan mereka benar Pak. Aku sadar bahwa aku hanyalah seonggok tanah liat ditengah lautan emas dan permata. Mustahil bagiku untuk bisa bertranformasi menjadi bagian dari batu mulia. Aku memang ditakdirkan menjadi orang bodoh di dunia ini.” Keluh Ule dengan wajah tertunduk.
Mendengar itu Pak Wisnu menghela nafas panjang, kemudian berucap “Kamu salah Le. Tak selamanya tanah liat menjadi barang tak bermanfaat, buktinya dengan kecekatan tangan manusia, tanah liat bisa  disulap menjadi benda-benda yang sangat berharga. Kamu belum memahami itu Le, kamu masih belum bisa menemukan simbol kepercayaan yang ada dalam dirimu. Mungkin telah ribuan kali ungkapan bodoh keluar dari fikiran dan mulutmu, tapi tidak dari hatimu. Itu semua karena kau belum  membuktikannya dengan rasa yakin yang tertanam dalam hati. Ule, ada sebuah fakta nyata, dua orang yang sama bodohnya menghadapi ujian. Salah seorang dari mereka mau berusaha dengan belajar, sedangkan seorangnya lagi tidak. Setelah hasil ujian diumumkan, salah satu dari mereka yang belajar tadi bisa mendapatkan hasil yang  baik sedangkan satu orangnya lagi tidak, padahal tingkat kebodohan mereka sama. Hal itu bisa terwujud karena adanya berkah belajar, berkah yang bisa didapat dengan jalan usaha. Intinya, kamu harus percaya akan adanya berkah belajar itu Le, kemudian berusaha meniti jembatan untuk mencapainya.”

Perlahan Ule menaikkan kepalanya dan menatap lekat mata Pak Wisnu,”Bapak yakin saya bisa?”
“Bapak sangat yakin, waktu masih panjang Le, sisa empat bulan lagi. Masih ada kesempatan untuk merubah susunan puzzle kehidupanmu. Mari kalahkan pasir waktu yang tak bosan untuk memenuhi ruang di bawahnya. Bapak ada di belakangmu Le.” Pak Wisnu berucap dengan mantap sambil memegang erat bahu Ule.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata  Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Waktu terus menggoreskan jejaknya. Semenjak mendapat suntikan semangat dari Pak Wisnu, Ule semakin yakin akan tekadnya dalam belajar. Segala jalan telah ia coba tempuh, mulai dari rajin mengikuti pembelajaran di sekolah, mengikuti les, dan pergi ke rumah Pak Wisnu untuk bertanya tentang pelajaran yang belum ia pahami di setiap waktu luang. Untungnya, ayah Ule tak terlalu membebani Ule dengan pekerjaan yang berat sehingga Ule memiliki banyak kesempatan untuk mencari ilmu. Itu semua ia lakukan demi mendapat berkah Nya dari usaha  belajar.
 Hingga akhirnya hari yang dinanti-nanti pun telah tiba. Hari dimana Ule  akan bertaruh dan membuktikan sejauh mana batas ukuran usaha yang telah ia lakukan. Hari dimana mata, tangan , dan fikirannya akan beradu dengan kertas-kertas ujian. Dengan setancap tekad kuat dan seraut keyakinan, ia mantapkan niat di hati demi meraih kesuksesan dalam ujian kali itu. Melihat kegigihan dan semangat yang berkobar-kobar di mata Ule, Pak Wisnu hanya bisa tersenyum dan berdoa, semoga siswanya yang satu itu tak mengecewakan kepercayaan yang telah ia berikan.
Pukul delapan tepat. Panggung sudah tertata rapi dan terlihat mewah dengan perpaduan berbagai hiasan. Para tamu undangan pun tampak memadati tempat duduk yang telah di sediakan di bawah tenda berwarna biru. Di tengah-tengah para undangan yang datang dengan memakai pakaian yang serba bagus, terlihat seorang pria tua dengan memakai baju biru lusuh dengan sebuah peci hitam di kepalanya. Wajahnya tampak cemas, sesekali matanya berlarian mencari sosok anaknya yang duduk tak jauh darinya. Ya, dia adalah ayahnya Ule.
Suara dengungan dari speaker yang berukuran besar menandakan acara pengumuman hiasil ujian akan dimulai. Semua wajah siswa mulai menunjukkan berbagai bentuk ekspresi. Dari gugup, cemas, takut, dan sebagainya. Demikian pula Ule, raut wajahnya menandakan bahwa ia sekarang tak tenang, semua rasa tak nyaman bergumpal menjadi satu, mematikan segala asa dan cita dalam hati. Namun ketika ia mengingat pesan dari  Pak Wisnu bahwa ia pasti bisa mendapatkan hasil baik dengan berkah yang diperoleh dari belajar, semangat dan rasa yakinnya hidup kembali. Waktu kian berlalu, kini tiba saatnya pengumuman bagi lima siswa bresprestasi dengan nilai UN tertinggi yang akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke universitas negeri terkenal di Indonesia. Mendengar perkataan itu, mata Ule menatap ke arah Rio, hatinya berucap bahwa teman yang dulu pernah menghinanya itulah yang kemungkinan besar akan mendapatkan beasiswa. Semua bayangan masa lalu tentang segala konflik antaranya dirinya dan Rio tertayang kembali dalam benak Ule. Ia tahu, walaupun Rio sering bersifat angkuh tapi ia merupakan anak yang pintar dan berprestasi. Tiba-tiba Ule merasakan ada yang menggoyang-goyang lengannya dari disamping, setelah dilihat ternyata itu adalah Deni.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi  selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Hah, a..apa yang kamu katakan?” Ule tampak bingung. Ia tak mendengar apa yang telah dikatakan karena asyik dengan lamunan masa lalu.
“Saya mohon sekali lagi kepada Ule dan orangtuanya maju ke depan untuk menerima penghargaan.” Kali ini suara dari pembawa acara terdengar begitu jelas di telinga Ule. Ule tergagap. Ia seakan merasa melayang-layang di atas ratusan orang yang hadir. Tapi, ketika ia melihat sosok pria tua berbaju lusuh berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Ule baru sadar, bahwa itu semua bukan mimpi. Ya, hari itu telah termaktub peristiwa bahagia yang tak terduga dalam kitab kisah kehidupan Ule. Dia telah mampu mewujudkan segala mimpi-mimpi lampau yang tak pernah sampai. Dengan langkah penuh suka cita, Ule dan ayahnya menaiki panggung mewah yang menjadi pusat perhatian setiap mata kala itu. Riuh derai suara teriakkan dan tepuk tangan menggema ketika Ule menerima penghargaan. Tak terasa buliran bening keluar perlahan dari sudut matanya. Dipandangnya wajah ayah yang selama ini begitu ia cintai juga turut meneteskan bentuk rasa harunya. Dari sudut panggung, tampak pula Pak Wisnu tak ketinggalan ikut menepukkan kedua tanganya ditambah seukir senyuman bangga.  Hari itu dengan nyata telah didapatkan Ule balasan dari usaha yang telah ia lakukan dalam mencari berkah-Nya, berkah yang bermula dari niat, berlanjut dengan tekad, dan bersambung dengan kesungguhan dalam belajar.

 ”Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”.  Al-Qur’an surah Yusuf (12) ayat 87



Tidak ada komentar:

Posting Komentar