|
K
|
ertas
putih bertuliskan cetakkan huruf dan angka remuk dalam remasan tangan Ule.
Namun, sehancurnya kertas itu tak sehancur perasaannya sekarang. Hatinya terasa
begitu gundah dan pikirannya kelam, semua bumbu kesedihan dan kekecewaan bercampur
dalam kendi jiwanya yang rapuh. Sudah ia duga, hari itu akan ada berita tak
menyenangkan menyapa dirinya. Ya, baru saja Ule menerima hasil ulangan umum
yang membuat hatinya menangis. Ini bukan pertama kalinya ia dibuat kecewa
dengan senyuman nilai-nilai yang tertera dalam rapot. Kelemahannya dalam berfikir menjadikannya
mendapat julukan si pungguk yang bodoh. Bahkan tak jarang ia dikucilkan dalam
pergaulan teman-temannya. Ule adalah anak dari keluarga yang kurang mampu,
ayahnya seorang tukang sampah dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Bagi
orang tua mereka, pendidikan bukanlah hal yang utama, yang terpenting adalah
bagaimana bisa mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Namun Ule tak ingin
berfikir dangkal, ia tak mau terus hidup di bawah alur penderitaan. Ia berambisi
besar untuk merubah revolusi hidupnya yang belum secara utuh beredar dalam
garis kebahagiaan. Tiba-tiba, rekaman pembicaraan dari ayahnya terputar begitu
saja di benak Ule.
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang penting itu tekad Le.”
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang penting itu tekad Le.”
Ule
lagi-lagi terkulai. Kata-kata bapaknya seakan menjadi segerombolan hujan yang
memadamkan kobaran api semangat dalam sekejap. Namun dalam gumpalan bara yang
tertinggal, ada seuntai kata-kata sanggahan yang ia ingin lontarkan pada
ayahnya. Sanggahan bahwa dalam pencapaian kesuksesan hidup tidak hanya bermodal
tekad, namun juga usaha yang bisa dijalani melalui jembatan pendidikan. Tapi apalah
daya, rasa hormat kepada ayahnya yang begitu kuat mengalahkan
ketidaksetujuannya.
Ule
masih terikat dalam gelutan kesedihan. Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki
beberapa orang yang berjalan menuju kelasnya diiringi gurauan-gurauan kecil.
Saat langkah-langkah kaki itu mencapai mulut pintu kelas, keheningan tercipta
seketika. Aura tak nyaman dirasakan Ule.
“Heh
Pungguk, apa kabar dengan hasil ulanganmu?” Tanya seorang siswa yang suaranya
tak asing lagi di telinga Ule.
Ule
hanya menanggapinya dengan diam. Namun tiba-tiba, kertas yang ada di
genggamannya ditarik paksa.
“Rio,
kembalikan!!!” Perintah Ule dengan nada sedikit emosi.
“Sudah
kuduga. Semuanya bernilai D. Tapi tak apa, kamu patut berbangga diri, karena
huruf D merupakan lambang yang mampu menggambarkan IQ mu yang rendah. Selamat!”
Ucap Rio dengan angkuhnya seraya melempar kertas hasil ulangan ke wajah Ule.
“Heh
Punggguk. Tak usah terlalu meratapi nilai ulanganmu yang jelek. Toh ujungnya
kamu juga akan menjadi seperti ayahmu. Tapi lain dengan Rio, dia memang pantas
mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh siswa pada ulangan kali ini, itu semua
demi masa depannya sebagai calon pengganti kedudukan ayahnya sebagai komisaris.
Ternyata benar kalau ada pepatah yang
mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Cerca temannya Rio dengan nada
merendahkan.
Ule
mengepal kedua tangannya kuat-kuat, kemudian berucap dengan keras, “Aku ingin
membuktikan bahwa pepatah itu tak berlaku pada diriku.”
Pernyataan
dari Ule membuat Rio dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat
Ule merasa diremehkan dan tak dihargai. Ia seakan menjadi kelinci ditengah para
singa yang angkuh dan sombong dengan kekuatannya. Tiba-tiba, suara pria yang
berdeham menghentikan tawa mereka.
“Ehem,
ada apa ini?”
“Pak
Wisnu.” Serentak Rio dan temannya berucap kaget.
“Bisakah
kalian meninggalkan ruangan ini? ada yang saya ingin bicarakan dengan Ule.”
Pinta Pak Wisnu.
Tanpa
basa basi Rio dan teman-temannya pun meninggalkan ruangan itu.
“Ule,
apa yang mereka katakan padamu?” Tanya
Pak Wisnu seraya menatap wajah Ule yang terlihat lesu.
“Sepertinya
yang dikatakan mereka benar Pak. Aku sadar bahwa aku hanyalah seonggok tanah
liat ditengah lautan emas dan permata. Mustahil bagiku untuk bisa
bertranformasi menjadi bagian dari batu mulia. Aku memang ditakdirkan menjadi
orang bodoh di dunia ini.” Keluh Ule dengan wajah tertunduk.
Mendengar
itu Pak Wisnu menghela nafas panjang, kemudian berucap “Kamu salah Le. Tak
selamanya tanah liat menjadi barang tak bermanfaat, buktinya dengan kecekatan
tangan manusia, tanah liat bisa disulap
menjadi benda-benda yang sangat berharga. Kamu belum memahami itu Le, kamu
masih belum bisa menemukan simbol kepercayaan yang ada dalam dirimu. Mungkin
telah ribuan kali ungkapan bodoh keluar dari fikiran dan mulutmu, tapi tidak
dari hatimu. Itu semua karena kau belum
membuktikannya dengan rasa yakin yang tertanam dalam hati. Ule, ada
sebuah fakta nyata, dua orang yang sama bodohnya menghadapi ujian. Salah
seorang dari mereka mau berusaha dengan belajar, sedangkan seorangnya lagi
tidak. Setelah hasil ujian diumumkan, salah satu dari mereka yang belajar tadi
bisa mendapatkan hasil yang baik
sedangkan satu orangnya lagi tidak, padahal tingkat kebodohan mereka sama. Hal
itu bisa terwujud karena adanya berkah belajar, berkah yang bisa didapat dengan
jalan usaha. Intinya, kamu harus percaya akan adanya berkah belajar itu Le,
kemudian berusaha meniti jembatan untuk mencapainya.”
Perlahan Ule menaikkan kepalanya dan menatap lekat mata Pak Wisnu,”Bapak yakin saya bisa?”
“Bapak
sangat yakin, waktu masih panjang Le, sisa empat bulan lagi. Masih ada
kesempatan untuk merubah susunan puzzle kehidupanmu. Mari kalahkan pasir waktu
yang tak bosan untuk memenuhi ruang di bawahnya. Bapak ada di belakangmu Le.”
Pak Wisnu berucap dengan mantap sambil memegang erat bahu Ule.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Waktu
terus menggoreskan jejaknya. Semenjak mendapat suntikan semangat dari Pak
Wisnu, Ule semakin yakin akan tekadnya dalam belajar. Segala jalan telah ia coba
tempuh, mulai dari rajin mengikuti pembelajaran di sekolah, mengikuti les, dan
pergi ke rumah Pak Wisnu untuk bertanya tentang pelajaran yang belum ia pahami di
setiap waktu luang. Untungnya, ayah Ule tak terlalu membebani Ule dengan
pekerjaan yang berat sehingga Ule memiliki banyak kesempatan untuk mencari ilmu.
Itu semua ia lakukan demi mendapat berkah Nya dari usaha belajar.
Hingga akhirnya hari yang dinanti-nanti pun
telah tiba. Hari dimana Ule akan
bertaruh dan membuktikan sejauh mana batas ukuran usaha yang telah ia lakukan.
Hari dimana mata, tangan , dan fikirannya akan beradu dengan kertas-kertas
ujian. Dengan setancap tekad kuat dan seraut keyakinan, ia mantapkan niat di
hati demi meraih kesuksesan dalam ujian kali itu. Melihat kegigihan dan
semangat yang berkobar-kobar di mata Ule, Pak Wisnu hanya bisa tersenyum dan
berdoa, semoga siswanya yang satu itu tak mengecewakan kepercayaan yang telah
ia berikan.
Pukul
delapan tepat. Panggung sudah tertata rapi dan terlihat mewah dengan perpaduan
berbagai hiasan. Para tamu undangan pun tampak memadati tempat duduk yang telah
di sediakan di bawah tenda berwarna biru. Di tengah-tengah para undangan yang
datang dengan memakai pakaian yang serba bagus, terlihat seorang pria tua dengan
memakai baju biru lusuh dengan sebuah peci hitam di kepalanya. Wajahnya tampak
cemas, sesekali matanya berlarian mencari sosok anaknya yang duduk tak jauh
darinya. Ya, dia adalah ayahnya Ule.
Suara
dengungan dari speaker yang berukuran besar menandakan acara pengumuman hiasil
ujian akan dimulai. Semua wajah siswa mulai menunjukkan berbagai bentuk
ekspresi. Dari gugup, cemas, takut, dan sebagainya. Demikian pula Ule, raut
wajahnya menandakan bahwa ia sekarang tak tenang, semua rasa tak nyaman
bergumpal menjadi satu, mematikan segala asa dan cita dalam hati. Namun ketika
ia mengingat pesan dari Pak Wisnu bahwa
ia pasti bisa mendapatkan hasil baik dengan berkah yang diperoleh dari belajar,
semangat dan rasa yakinnya hidup kembali. Waktu kian berlalu, kini tiba saatnya
pengumuman bagi lima siswa bresprestasi dengan nilai UN tertinggi yang akan
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke universitas negeri terkenal di
Indonesia. Mendengar perkataan itu, mata Ule menatap ke arah Rio, hatinya
berucap bahwa teman yang dulu pernah menghinanya itulah yang kemungkinan besar
akan mendapatkan beasiswa. Semua bayangan masa lalu tentang segala konflik
antaranya dirinya dan Rio tertayang kembali dalam benak Ule. Ia tahu, walaupun
Rio sering bersifat angkuh tapi ia merupakan anak yang pintar dan berprestasi.
Tiba-tiba Ule merasakan ada yang menggoyang-goyang lengannya dari disamping,
setelah dilihat ternyata itu adalah Deni.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Hah,
a..apa yang kamu katakan?” Ule tampak bingung. Ia tak mendengar apa yang telah
dikatakan karena asyik dengan lamunan masa lalu.
“Saya
mohon sekali lagi kepada Ule dan orangtuanya maju ke depan untuk menerima
penghargaan.” Kali ini suara dari pembawa acara terdengar begitu jelas di
telinga Ule. Ule tergagap. Ia seakan merasa melayang-layang di atas ratusan
orang yang hadir. Tapi, ketika ia melihat sosok pria tua berbaju lusuh berjalan
ke arahnya sambil tersenyum, Ule baru sadar, bahwa itu semua bukan mimpi. Ya,
hari itu telah termaktub peristiwa bahagia yang tak terduga dalam kitab kisah
kehidupan Ule. Dia telah mampu mewujudkan segala mimpi-mimpi lampau yang tak
pernah sampai. Dengan langkah penuh suka cita, Ule dan ayahnya menaiki panggung
mewah yang menjadi pusat perhatian setiap mata kala itu. Riuh derai suara
teriakkan dan tepuk tangan menggema ketika Ule menerima penghargaan. Tak terasa
buliran bening keluar perlahan dari sudut matanya. Dipandangnya wajah ayah yang
selama ini begitu ia cintai juga turut meneteskan bentuk rasa harunya. Dari
sudut panggung, tampak pula Pak Wisnu tak ketinggalan ikut menepukkan kedua
tanganya ditambah seukir senyuman bangga.
Hari itu dengan nyata telah didapatkan Ule balasan dari usaha yang telah
ia lakukan dalam mencari berkah-Nya, berkah yang bermula dari niat, berlanjut
dengan tekad, dan bersambung dengan kesungguhan dalam belajar.
”Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah,
hanyalah orang-orang yang kafir”. Al-Qur’an
surah Yusuf (12) ayat 87

Tidak ada komentar:
Posting Komentar