Jumat, 29 Juni 2012



Jika ditanya apa kenangan yang paling berkesan ketika bersama ibu?. Maka aku akan menjawab “ketika aku dilahirkan ke dunia ini”. Namun, bukankah kenangan itu adalah sesuatu yang membekas di ingatan kita. Sedangkan saat peristiwa dilahirkan kita sama sekali tidak bisa mengingatnya karena belum memiliki akal. Tapi, dari cerita seseorang pun bisa menjadi kenangan. Ketika ibu bercerita tentang kelahiranku, fikiranku menerawang jauh ke masa 19 tahun lalu. Saat dimana malaikat menjadi saksi dan mancatat pahala besar seorang wanita yang berjuang untuk nyawa anaknya.  Nafasnya tertatih, rasa sakit terasa begitu menusuk hingga ke persendian tulang, peluh yang terus menaganak sungai, hingga rasa cemas yang tak henti menggeluti fikirannya. “Tuhan, lahirkan anakku dengan selamat”, itulah setoreh do’a dari hatinya. Do’a dan harapan yang selalu terngiang di alam fikiran tanpa memperdulikan apakah nyawanya saat itu tengah berjalan di atas jembatan baja atau hanya sehelai benang.
            Tuhan, jika saat itu aku juga bisa merasakan begitu dahsyatnya rasa sakit yang ibu derita, mungin aku akan mengibarkan bendera putih lebih dulu untuk menyerahkan ruh kehidupan. Namun ibuku tegar, terus berjuang melewati titian maut. Ketika aku berhasil dikeluarkan dari rahimnya yang diiringi buaian air mata, wajahnya begitu berseri dan penuh bahagia. Rasa sakit dan takut yang menggamit fikiran hilang begitu saja ketika melihat aku menangis di sampingnya.
            “Kamu dulu ketika dilahirkan tidak menangis. Ibu sangat khawatir, takut kamu tak bernyawa lagi. Tapi ketika nenek menutupmu dengan daun  talas, kemudian memukul-mukul lantai papan, barulah tangismu terdengar. Saat itu sedang kemarau panjang, tiba-tiba turun hujan lebat seiring dengan suara tangisanmu. Semua orang yang saat itu sedang berada di sawah begitu gembira menyambut datangnya hujan pemberian tuhan yang tak disangka kedatangannya. Maka dari itulah kamu diberi nama Anugrah.”
Itulah sepenggal cerita kenangan dari ibu yang tak pernah terlupakan. Bagiku, tiada kenangan paling indah selain peristiwa kelahiranku. Ibu, kau pahlawanku…!!!


Jiwa Pramuka ~


Setiap hari Sabtu tiba, semua pelajar baik dari jenjang dasar hingga menengah atas  mengenakan seragam yang berwarna cokelat. Sekarang, coba amati atau bayangkan sejenak wujud kita yang tengah memakai seragam cokelat dan dasi merah putih, kemudian renungkan. Ya, perpaduan antara celana atau rok berwarna cokelat tua dengan kemeja yang juga berwarna cokelat muda menunjukkan bahwa diri kita adalah seorang pramuka, seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai pramuka, namun bisakah kita mendeklarasikan bahwa diri kita juga memiliki jiwa pramuka? Bagai pena tak bertinta, seperti itu jualah pramuka yang tak d isertai dengan penghayatan. Pena yang tak bertinta pasti tak akan pernah bisa digunakan untuk menggores kata apalagi sebuah titik. Memakai seragam pramuka dan menggunakan atribut-atributnya yang lengkap hanyalah sebatas pembicaraan fisik semata yang seakan-akan menunjukkan bahwa ‘aku adalah seorang pramuka’, namun hal yang demikian tak bisa dikatakan sebagai manifesto sempurna dalam pramuka.

Sesungguhnya, penghayatan terhadap pramuka merupakan nyawa dari pramuka itu sendiri, karena penghayatan melibatkan batin sebagai driver dalam menunjukkan arah jiwa kita. Penghayatan pramuka disini berarti kita mencoba untuk memahami, mendalami, menelusuri hingga akar segala hal tentang pramuka lebih dalam dengan melibatkan perasaan. Jika hal itu dapat kita lakukan, maka jiwa pramuka akan terwujud dalam diri kita.  Jiwa pramuka yang telah bersemayam dalam diri kita akan memudahkan segala tugas dan kewajiban pramuka yang kita jalani, sehingga jika ada beban pun, akan berubah menjadi tantangan. Dengan memiliki jiwa pramuka lah, kita dapat memacu tumbuhnya motivasi dalam diri kita agar bisa menjadi sosok pramuka yang baik, bermanfaat dan dapat menjadi teladan bagi yang lainnya.

 foto yang dimbil saat kegiatan pramuka  di PGSD Unlam Banjarbaru


mahasiswa putra (semester 2 b) tengah memerankan drama yang temanya diangkat dari dasa darma pramuka.

Lalu, bagaimanakah kita bisa memiliki jiwa pramuka itu? Putarlah kembali gambaran sejarah pramuka di negara kita. Bagaimana peliknya para remaja dan pemuda di tanah air yang  tercinta ini dalam memperjuangkan organisasi kepanduan karena terhalang oleh bangsa penjajah. Dari masa kolonial Belanda, masa penjajahan  Jepang dan berlanjut hingga proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun dengan semangat nasionalisme jualah, akhirnya gerakkan pramuka mulai berkembang dan disegani. Dari sini kita dapat mendalami makna akan semangat nasionalisme yang mendasari para pemuda saat itu untuk memperjuangkan gerakkan kepanduan, maka dari itulah rekan-rekanku sekalian, mulai dari sekarang mantapkan tujuan di hati kita dalam menjalani tugas sebagai seorang pramuka. Teruslah menebar benih kecintaan pramuka dalam jiwa kita, jangan pernah letih dan gusar akan segala aral rintangan yang tak pernah absen mewarnai perjalanan kita. Ingatlah wahai rekan-rekanku sekalian bahwa pramuka sejati tercermin dari jiwanya. Maka dari itulah, mulai sekarang mari kita bentangkan layar jiwa pramuka dalam hati dan fikiran ini agar kita semua dapat menjadi insan pramuka yang berhati  mulia, berjiwa baja, dan bertingkah bijaksana.    

Jujur, aku sendiri merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang sering bolos saat kegiatan pramuka di kampusku PGSD UNLAM  Banjarbaru (wahh..wahh, buka kartu nihh :-P), padahal pramuka merupakan eskul yang wajib untuk diikuti. Apakah aku belum menemukan noktah jiwa pramuka yang sesungguhnya dalam diriku? 

Rabu, 13 Juni 2012

A Little Note





Complaint, drabness, and unsatisfied are some dark colours of my self. Sometimes, that colours can chase a way the light colours of my soul. I never know, how it came in and resided in my heart.

If I just let it makes full of holes and spread quickly in my heart and mind, Maybe I will be a monster that can destroy my self,,, what a scare it is !

I face Unclear way, there is no light and cold. It’s like all in a pucker that make me feel a fool... I go astern.

But, look !! there is a beautiful light. But it isn’t starlight or moonlight.
It’s a wonderful light that can make us impressed.  

When I try to come a near it, I have just realized that it’s God light,, The light that can make all life to be prosperous and peace...
I bow over it,,

Am I suitable to get it because there are so much dark colours of me???
God,, can I??? Please answer me!!!

I am so dirty with all life dusts.. I am lower than an ant high.
But wait,,
I hear something of You, God. You say that if I return to the fold, correcting my mistakes and never repeat it again, You will forgive me.
It’s like an extraordinary statement for me,,,

You are Almighty, You Are The one,,You Are All Forgiving,,
Without any disafection and resentment, You forgive me.
Thanks God,,
I am proud to be Your slave,,
Allahuakbar !!!










Minggu, 27 Mei 2012

HARDIKNAS ~ my education, my Indonesia

Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting, karena pendidikan bagaikan akar yang mendasari kemajuan suatu bangsa. Pendidikan jualah yang membuat bangsa ini memiliki karakter di mata bangsa lainnya. Di masa sekarang, pendidikan tidak sesulit jaman dahulu. Anak cucu dan sanak saudara kita bisa menikmati berbagai fasilitas canggih nan berkualitas sebagai penunjang dalam kelancaranan proses belajar-mengajar. Di zaman milenium ini pun, tidak ada lagi siswa yang menggunakan daun sebagai pengganti kertas dan lidi sebagai alat tulisnya. Kemajuan peradaban telah mentransformsaikan dunia serta menumbuhkan berbagai inovasi dan kreasi baru dalam berbagai hal termasuk bidang pendidikan.


 Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, kita sebagai warga negara patut berbangga diri terhadap tanah air ini karena kita memiliki sosok pahlawan sejati, pahlawan yang telah menorehkan jasa besar terhadap dunia pendidikan, dia adalah Ki Hajar Dewantara. Bapak yang terkenal dengan semboyan “ing ngarso sung talada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” telah menyadarkan kita akan pentingnya arti sebuah kata pendidikan. Karena itulah, sebagai wujud atas penghormatan terhadap kerja keras beliau di bidang pendidikan pada tanggal 2 Mei yang juga merupakan hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Berkaitan dengan hari pendidikan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk memaknainya. Salah satunya adalah dengan mengadakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dunia pendidian memiliki peran penting dalam membangun bangsa yang didasarkan atas jati diri. Tentunya hal ini berkaitan dengan sumber daya manusia yang produktif. Pemerintah pun telah mencanangkan berbagai program untuk menyiapkan akses seluas-luasnya kepada anak-anak bangsa agar bisa mengenyam bangku pendidikan. Tentunya perluasan akses tersebut disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan. 

Dunia telah mencatat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam buku waktunya berikut dengan akibat yang ditimbulkan yaitu semakin tingginya kebudayaan dan peradaban. Dalam kaitan dengan inilah peran dunia pendidikan sebagai pemacu sekaligus sebagai pengontrol suatu peradaban diperlukan agar tak keluar dari jalur karakter dan jati diri bangsa yang sesungguhnya. Sudah saatnya kita semua ulurkan tangan, bentuk barisan, dan saling menguatkan dalam upaya bersama untuk membentuk generasi emas Indonesia. Kita disini bukan berarti pemerintah, bukan pula para pihak tertentu, namun makna kita disini adalah seluruh warganegara Indonesia tanpa mengenal titel, asal, maupun kedudukan. Tanggal 2 Mei ini tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara, namun lebih merupakan sebuah momentum untuk memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa. Kemajuan tingkat pendidikan di negara-negara lain bukan menjadi pagar pembatas namun sebagai cambuk semangat bagi kita agar bisa terus menaiki tanga ketertinggalan. Jika zaman dulu sebagian orang memandang sebelah mata terhadap pendidikan karena kondisi serta belum adanya fakta yang bisa membuktikan, sekarang justru kita harus membuka lebar mata kita dan memberikan pengakuan terhadap pendidikan.


 Pendidikan mempunyai arti yang luas. Pendidikan tidak hanya bertitle formal seperti yang ada di sekolah-sekolah, namun juga nonformal yang melibatkan keluarga dan masyarakat sebagai pendidik kepribadian. Dengan pendidikan, kebodohan tersingkirkan, dengan pendidikan, kesejahteraan terciptakan, dan dengan pendidikan pulalah segala cita-cita mampu terwujudkan. Sepatutnyalah kita mengucapkan selamat hari pendidikan nasional kepada seluruh bangsa Indonesia ini, khususnya kepada para tenaga pendidik, peserta didik, serta para pihak yang selalu mengulurkan tangannya dalam upaya memajukan pendidikan di tanah air. Marilah kita bersama-sama membangun tenda kemajuan bangsa dengan tali-tali pendidikan disertai dengan nurani yang bersih. Berikanlah jalan seluas-luasnya kepada anak cucu kita untuk memperoleh pendidikan yang baik nan berkualitas sehingga mampu mewujudkan generasi penerus yang akan membawa obor usaha dan semangat hingga puncak kejayaan.


written by Anugrah Mitria Sari

Kamis, 17 Mei 2012

Saying love Ala Awan


Ini merupakan salah satu naskahku yang malang, (eitss.. dalem banget yawh), maksudnya belum berhasil kepilih wat lolos audisi gitu.. butttttt,, no probeleeemee.. toh apapun hasilnya yang penting usaha to? emang sih, dilihat dari sisi muka-belakang, atas bawah, sampng kiri kanan (kayak benda 3 dimensi aja) cerita ini banyak kekurangannya,, tapi kyu harap this story can amuse whoever read  :-)))))


 “...Ditambah dengan kebut-kabut tipis pasti view-nya tambah bagus. Beuhh, dijamin cara gue lebih romantis daripada si Cullen.” Ucap Awan senyam senyum sendiri sambil memainkan tangannya kesana kemari kaya lagi baca puisi.
Afri yang dari tadi menjadi pendengar setia akhirnya  angkat bicara juga, “Wan, kalo cara nembak dengan latarnya hutan sih gue ok-ok aja, tapi yang gua ngerasa ganjil kenapa mesti naik pohon kaya di film Twilight segala sih? Coba deh mainin logika lo, di film itu mereka makai pengamanan yang ekstra, nah kalau Lo? Gue berani taruhan,  paling  hitungan detik  bibir monyong lo itu bakal nyium tanah.”
Awan mulai mengambil  nafas dalam-dalam dan siap membalas sanggahan yang dilontarkan Afri ”Fri, di hutan pinus banyak pohon yang batangnya gede-gede dan mudah untuk dipanjat. Lagian si Lily kan anak pecinta alam, jadi dia bisa nolongin gue kalo terjadi apa-apa.”
“Itu namanya ga jantan.” Ketus Afri
“Yee, siapa bilang  gue betina?” balas Awan tak mau kalah.
“Udah, daripada ribet mending pake surat aja” sambung emak Awan yang tiba –tiba muncul dari pintu.
“Surat? emang sekarang zaman kerajaan Majapahit Mak? Yang modern donk biar ga dibilang kampungan.” Ujar Awan masih diiringi gerakkan tangannya yang  ga mau diam.
“Eh Wan, gini-gini Emak lebih banyak tau. Kita bisa leluasa menuangkan isi hati kita melalui tulisan dalam surat. Kita bisa mengurangi rasa gugup kita ketika ingin menyatakan perasaan pada seseorang melalui surat tanpa harus bertatap muka. Melalui tulisan, kita juga bisa meluluhkan perasaan wanita dengan bius kata-kata cinta. Selain itu, surat juga hemat dan praktis.”
Perkataan emak membuat Awan melongo. Tak disangka, Emaknya yang suka ngomong  pakai bahasa bebek yang cas cis cus ternyata bisa mengucapkan bahasa Indonesia yang sarat dengan sastra.
“Iya, iya. Surat akan Awan jadiin sebagai alternatif paling akhir dari yang terakhir.” Celutuk Awan.
Hari Minggu pukul 07.00 pagi. Rombongan pecinta alam sudah stand  by dengan perlangkapan masing-masing. Tampak Si Awan tengah meliuk-liukkan badannya ke kiri dan  kanan sambil ngitung angka sampai tiga doang. Sebenarnya, Awan sendiri bukan anggota  pecinta alam, tapi karena dia ngotot ditambah lagi pembina eskul PA adalah pamanya, sehingga dengan mudah Awan mendapat lampu hijau untuk ikut serta dalam kegiatan penjelajahan hutan pinus itu. Pukul 08.00 pagi, rombongan udah mulai melakukan perjalanan. Tampak di barisan itu sosok Awan dengan memakai jaket bergambar angry birds berjalan di samping Lily.
“Ly, kata pamanku tadi kita disuruh berpasangan untuk mencari pohon besar yang bisa dipanjat. Aku sama kamu ya?” pinta Awan dengan sepoles senyuman penuh harap.
“Emm, boleh. Tapi apa kamu bisa manjat pohon?” tanya Lily setengah yakin.
“Oh, kemampuanku jangan diragukan lagi. Waktu kecil dulu aku seneng banget manjat batang pohon. Dari batang nangka, batang mangga, batang jambu sampai batang jemuran Emak juga pernah gue panjat. Yang pasti, asal sama Lily everything will be ok.” Awan mulai mengeluarkan jurus gombal semester satunya. Liliy hanya menanggapi dengan senyuman.
Dengan pedenya matahari pagi itu mengumbar-umbar sinar dan panasnya ke belahan bumi sebelah timur. Sudah satu jam lebih Awan berjalan menjelajah hutan pinus, rasa penat pun mulai melorotin semangatnya. Tapi, pantang bagi Awan untuk mengeluh apalagi hanya sekedar mengatakan cape dengan berbisik karena sekarang ia tengah berjalan dengan sosok bidadari dihatinya, Lily. Ketika rasa letih dan bosan sudah membludak di hati Awan, akhirnya Lily pun menghentikan langkah di depan sebuah pohon yang tinggi dan berbatang besar.
“ Gimana pendapat kamu Wan tentang pohon ini?”
Awan bergidik melihat ukuran pohon yang ternyata jauh dari bayangannya.
“Emm, yakin ini pohon yang mau dipanjat?”
“Mau cari yang lain?” Liliy balik bertanya.
Tawaran liliy membuat Awan berfikir sejenak. Jika dia tidak memilih pohon itu, maka perjalanan panjang bin melelahkan akan dilakoninya lagi. Namun, jika ia memutuskan pohon itu untuk dipanjat, maka tak ada garansi kalau ia bakal pulang dengan wajah masih utuh. Sebenarnya yang dikatakan Awan mengenai kemampuannya memanjat hanya sebatas pohon mangga tumbuh subur di gurun alias bohong belaka. Dengan mengucapkan basmallah, istigfar sepuluh kali dan tak lupa sholawat dan salam Awan pun mengangguk setuju.
Selang beberapa waktu kemudian, Awan dan Liliy sudah berada di atas pohon. Lily terlihat begitu lihai menaiki batang demi batang pohon serta mampu menjaga keseimbangannya. Sedangkan Awan berada jauh di bawah Lily dan masih sibuk dengan rasa gugup dan ragu-ragu untuk menggerakkan kaki dan tangan.
“Wan, kok dari tadi ga naik-naik sih?” tanya Liliy ketika melihat Awan yang masih setia berdiri di batang pohon paling bawah.
“Eee, tunggu Ly. Kalau mau manjat pohon yang tinggi aku harus melakukan perhitungan yang tepat dulu, biar ga salah.” Awan berkilah.
“Ya udah aku tungguin di sini.”
Mendengar pernyataan Liliy untuk menunggu membuat Awan jadi merasa ga enak. Tiba-tiba ia diingatkan akan tujuan awalnya untuk menyatakan cinta pada Liliy. Bagai tercambuk pedang api, Awan pun mulai bergerak menuju ke batang pohon yang ada di atasnya tanpa peduli berapa meter sudah ia jauh dari tanah. Dalam hitungan detik kini sosoknya telah berdiri di dekat Liliy. Jantungnya terpacu dengan cepat, keringat yang mengguyur tubuhnya karena cuaca panas kini telah berganti dengan peluh dingin.
Ayo cepat katakan, Wan. Jangan sia-siain kesempatan langka ini.  Mungkin jarang atau bahkan ga ada orang yang melakukan sesi penembakan di atas pohon kaya Lo.” Suara kecil di hati Awan mulai mengeluarkan komandonya.
“Emmm, Ly.. aku..” Awan mulai berucap, namun terhenti ketika melihat mata indah Liliy menatapnya.
“Pasti mau bilang kalau kamu seneng dengan pemandangan dari atas sini kan?” potong Lily disertai seukir senyuman manis yang bikin jantung Awan berdisko ga karuan.
“Oh, iya.. anu Ly, sebenernya aku pengen ngomong sama kamu kalau aku..”
“Eh, kira-kira sekarang kita ada di ketinggian berapa meter ya?”
Awan menarik nafas panjang. Ia merasa Liliy sibuk sendiri dan  tak menghiraukan perkataannya. Karena tak tahan lagi dengan rasa sesak yang membludak ingin keluar dari dadanya, Awan pun  berteriak dengan keras..
“Ly, aku cinnn....”
“10 meter ! wahh tinggi juga. “ teriak Liliy, berbarengan dengan suara Awan.
“Cinuapppaaa? 10 meter???” Awan tiba-tiba merubah haluan pembicaraannya. Dengan mulut yang masih menganga karena rasa shock, ia perlahan menggerakkan bola matanya ke arah bawah dan...’buukk’ terdengar suara benda lunak jatuh menimpa tanah subur yang selalu setia berwarna cokelat.
* * *
Bau menyengat dari terasi menari-nari di indera penciuman Awan. Hidungnya mulai mengendus-endus bau yang membuat perutnya bergoyang gergaji itu.
“Wan, Wan sadar nak. Ini emak.”
“Huekkk,, bau apa ini Mak, ga enak banget.” Dengan spontan Awan bangun dari tempat tidur sambil  menutup hidungnya dengan bantal.
“Alhamdulillah, tuh kan bener apa yang Afri bilang, Awan bakal sadar kalau nyium yang beginian. Dia kan doyan Mak.”
“Doyan, doyan, gue tu paling anti ama terasi yang baunya kaya kaos kaki lo itu tau” Awan menimpuk Afri dengan bantalnya.
“Udah, udah. Wan, gimana keadaan kamu?  Ada yang sakit ga? Emak kan udah ngingetin, ga usah ikut kegiatan Paman Ucup ngemanjat pohon karena Mak takut phobia kamu sama ketinggian kambuh lagi.”
Mendengar perkataan emak membuat Awan hening sejenak. Ia mencoba me-reply rekaman kejadian yang telah lalu. Tiba-tiba, aura wajah Awan yang pas-pasan itu berubah menjadi lesu.
“Awan gagal menyatakan perasaan sama Lily Mak.”
“Ga usah sedih Wan, masih banyak cara untuk menyatakan perasaan sama Liliy. Caranya emak udah dicoba belum?”
“Surat?” Awan  mengernyitkan alisnya dibalas dengan anggukkan dari emak.
Awan pun memutuskan untuk melakukan penembakan melalui surat walaupun fikirannya kontra terhadap hal itu. Wajah Awan sudah terlanjur terpoles dengan rasa malu yang amat sangat karena dirinya telah resmi menyandang gelar failed dalam rencana pernyataan cinta. Singkat cerita, surat cinta Awan pun telah sampai ditangan  Lily. Tik tok jarum jam terus berlalu, hingga pada akhirnya surat yang mulanya berwarna pink ditangan Awan, kini telah berganti menjadi warna putih. Ya, itu adalah surat balasan dari Lily. Entah kenapa Liliy menggunakan amplop putih untuk membalas surat cinta darinya, apakah ini pertanda bahwa cinta Awan harus angkat tangan terhadap takdir? Jejeran tulisan yang diketik Lily tercetak rapi di atas kertas putih, tiba-tiba jantung Awan berdegup kencang kala fikirannya mulai menyelami satu persatu makna kata dalam surat itu.

Dear Awan yang manis dan lucu, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik saja.
 Wan, maaf selama ini rasa maluku telah menyusahkan hatimu. Rasa maluku yang membuatmu bersusah payah jatuh bangun mengejarku. Namun, dengan rasa malu itu pulalah, aku dapat melihat kesungguhan hatimu. Rasa maluku itu adalah rasa untuk mengakui bahwa aku juga menyukaimu. Aku telah menyukai sosokmu yang kurasa berbeda dengan lelaki lainnya. Jujur, sangatlah susah bagiku untuk menyatakan perasaan yang sangat menyesak ini padamu, semua itu karena tertutup oleh kabut rasa malu dan tak percaya diriku. Namun setelah menerima surat cinta darimu, aku seakan mendapat kekuatan untuk menyatkan perasaan ini padamu, rasa yang telah lama menyemai benih kebahagaan dihatiku.
Semoga semua  rasa dihati kita dapat terangkai dengan indah
 ~ Lily ~

Selasa, 15 Mei 2012

MANIFESTO CINTA



I Love You  because of Allah
I don’t hope to make a relationship with you
The relationship was called by boyfriend-girlfriend
I have a dream to be together with you forever
We will pursue a life of violent world together
I have a holly plan, when I have been success of reaching dream and making my parents happy
And If God make a plan for us to be together,
I will make our relationship to be rightfull of marriage
Effort and pray are my love forms to you
If you love another person, it’s your right

If  you are live with person who you love, it’s your fate.

Maybe my fate is only love you as long as my soul in my body,
But it can’t be possessed of you.

Dengan menyebut nama kekasih hatiku yang paling mulia di atas segalanya, satu-satunya Zat Maha Agung yang mampu membolak-balikkan warna rasa di hati. Ingin ku lantunkan rangkaian kata yang penuh dengan pujian terhadap nikmat Nya yang tiada tara. Sebuah anugerah terindah dalam bentuk perasaan fitrah yang dapat dihirup oleh semua makhluk ciptaan Nya, dia adalah cinta. Ya, cinta. Sebuah kata yang pendek dilihat dan singkat diucapkan, namun terdapat beribu-ribu makna yang melambangkan kesejatian dan kesungguhan di dalamnya. Jika aku ditanya kepada siapa aku jatuh cinta sekarang? Sesungguhnya itu bukanlah pertanyaan yang tepat untuk diberikan . namun jika ada pertanyaan kenapa aku mencintainya? Maka dengan lantang aku akan menjawab bahwa aku mencintainya karena Allah SWT, Zat Pemberi Cinta. Karena sesungguhnya cinta sejati itu adalah cinta kepada yang mempunyai cinta.

Cintaku tidaklah seperti Hitler yang memaksa dan menghukum segala hal yang tak sesuai dengan keinginannya. Cintaku tidaklah harus dirajut dengan sebuah hubungan mengikat namun tak halal di mata Nya, karena aku tak mau cintaku menjadi hamba sahaya dari nafsu belaka.

Biji-biji cinta tak dapat tumbuh tanpa adanya  tanah mimpi dan pupuk harapan. Bukanlah sebuah sabda yang salah jika kita memiliki keinginan untuk masa depan kehidupan cinta kita kelak. Begitu pula diriku, yang tak pernah berhenti mengukirkan angan di atas kanvas doa dan usaha. Setelah aku berhasil meniti jembatan kesuksesan dan memberikan kendi kebahagiaan kepada kedua orang tuaku, aku ingin membuat istana cinta bersamamu dalam surga dunia. Tentunya semua itu bisa aku dapatkan setelah ikrar suci ini berpaut pada tiang yang telah diridhoi-Nya.

Tapi, mungkinkah itu semua terwujud? Mungkinkah aku dapat merasakan bentuk nyata dari harapan dan mimpi cintaku yang tulus?  Kembali hati ini terpaku, fikiranku seakan merubah halauan. Bagaimana jika kelak takdir ini tak mengiyakan anganku? Bagaimana jika dirinya mencintai dan hidup bersama insan yang lain? Ahh, pertanyaan-pertanyaan itu seakan menjadi pedang sejengkal namun mampu mengiris perasaanku hingga terputus.  

Tapi, nurani ini seakan berkilah. Jika memang dia mencintai orang lain, itu adalah haknya. Jika dia hidup bersama orang  lain , itu adalah takdirnya. Ya, kini mata kesadaranku mulai terbuka. Aku hanyalah seonggok ciptaan lemah, yang jahil  akan segala rahasia Tuhan yang sudah tergoreskan. Adalah hal yang buruk, sungguh sangat buruk, jika aku harus menikam bayangan –bayangan yang belum jelas adanya dengan sikap suuzanku.



Ini semua hanyalah sebuah rangkaian kata yang kuciptakan dari rembesan cairan hati. Sebentuk ungkapan rasa yang masih aku penjarakan dalam palung jiwa.



"Dan di antara tanda-tamda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung tentram kepadanya. Dan dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh pada demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir." (Ar -Rum [30]: 21)



Written by AMS
Teruntuk saudara-saudaraku disana. 


Minggu, 13 Mei 2012

Berkah Belajar


K

ertas putih bertuliskan cetakkan huruf dan angka remuk dalam remasan tangan Ule. Namun, sehancurnya kertas itu tak sehancur perasaannya sekarang. Hatinya terasa begitu gundah dan pikirannya kelam, semua bumbu kesedihan dan kekecewaan bercampur dalam kendi jiwanya yang rapuh. Sudah ia duga, hari itu akan ada berita tak menyenangkan menyapa dirinya. Ya, baru saja Ule menerima hasil ulangan umum yang membuat hatinya menangis. Ini bukan pertama kalinya ia dibuat kecewa dengan senyuman nilai-nilai yang tertera dalam rapot.  Kelemahannya dalam berfikir menjadikannya mendapat julukan si pungguk yang bodoh. Bahkan tak jarang ia dikucilkan dalam pergaulan teman-temannya. Ule adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, ayahnya seorang tukang sampah dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Bagi orang tua mereka, pendidikan bukanlah hal yang utama, yang terpenting adalah bagaimana bisa mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Namun Ule tak ingin berfikir dangkal, ia tak mau terus hidup di bawah alur penderitaan. Ia berambisi besar untuk merubah revolusi hidupnya yang belum secara utuh beredar dalam garis kebahagiaan. Tiba-tiba, rekaman pembicaraan dari ayahnya terputar begitu saja di benak Ule.
“Kamu itu tidak perlu susah-susah belajar Le. Pak Wejo yang sekarang jadi pengusaha baja sukses, dulu hanya lulusan SD. Sedangkan di negara kita sekarang banyak lulusan-lulusan S1, tapi semuanya sama-sama menyandang gelar SP, alias sarjana pengangguran. Intinya yang  penting itu  tekad Le.”
Ule lagi-lagi terkulai. Kata-kata bapaknya seakan menjadi segerombolan hujan yang memadamkan  kobaran api semangat  dalam sekejap. Namun dalam gumpalan bara yang tertinggal, ada seuntai kata-kata sanggahan yang ia ingin lontarkan pada ayahnya. Sanggahan bahwa dalam pencapaian kesuksesan hidup tidak hanya bermodal tekad, namun juga usaha yang bisa dijalani melalui jembatan pendidikan. Tapi apalah daya, rasa hormat kepada ayahnya yang begitu kuat mengalahkan ketidaksetujuannya.
Ule masih terikat dalam gelutan kesedihan. Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang berjalan menuju kelasnya diiringi gurauan-gurauan kecil. Saat langkah-langkah kaki itu mencapai mulut pintu kelas, keheningan tercipta seketika. Aura tak nyaman dirasakan Ule.
“Heh Pungguk, apa kabar dengan hasil ulanganmu?” Tanya seorang siswa yang suaranya tak asing lagi di telinga Ule.
Ule hanya menanggapinya dengan diam. Namun tiba-tiba, kertas yang ada di genggamannya ditarik paksa.
“Rio, kembalikan!!!” Perintah Ule dengan nada sedikit emosi.
“Sudah kuduga. Semuanya bernilai D. Tapi tak apa, kamu patut berbangga diri, karena huruf D merupakan lambang yang mampu menggambarkan IQ mu yang rendah. Selamat!” Ucap Rio dengan angkuhnya seraya melempar kertas hasil ulangan ke wajah Ule.
“Heh Punggguk. Tak usah terlalu meratapi nilai ulanganmu yang jelek. Toh ujungnya kamu juga akan menjadi seperti ayahmu. Tapi lain dengan Rio, dia memang pantas mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh siswa pada ulangan kali ini, itu semua demi masa depannya sebagai calon pengganti kedudukan ayahnya sebagai komisaris. Ternyata benar  kalau ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Cerca temannya Rio dengan nada merendahkan.
Ule mengepal kedua tangannya kuat-kuat, kemudian berucap dengan keras, “Aku ingin membuktikan bahwa pepatah itu tak berlaku pada diriku.”
Pernyataan dari Ule membuat Rio dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Ule merasa diremehkan dan tak dihargai. Ia seakan menjadi kelinci ditengah para singa yang angkuh dan sombong dengan kekuatannya. Tiba-tiba, suara pria yang berdeham menghentikan tawa mereka.
“Ehem, ada apa ini?”
“Pak Wisnu.” Serentak Rio dan temannya berucap kaget.
“Bisakah kalian meninggalkan ruangan ini? ada yang saya ingin bicarakan dengan Ule.” Pinta Pak Wisnu.
Tanpa basa basi Rio dan teman-temannya pun meninggalkan ruangan itu.
“Ule, apa yang mereka katakan  padamu?” Tanya Pak Wisnu seraya menatap wajah Ule yang terlihat lesu.
“Sepertinya yang dikatakan mereka benar Pak. Aku sadar bahwa aku hanyalah seonggok tanah liat ditengah lautan emas dan permata. Mustahil bagiku untuk bisa bertranformasi menjadi bagian dari batu mulia. Aku memang ditakdirkan menjadi orang bodoh di dunia ini.” Keluh Ule dengan wajah tertunduk.
Mendengar itu Pak Wisnu menghela nafas panjang, kemudian berucap “Kamu salah Le. Tak selamanya tanah liat menjadi barang tak bermanfaat, buktinya dengan kecekatan tangan manusia, tanah liat bisa  disulap menjadi benda-benda yang sangat berharga. Kamu belum memahami itu Le, kamu masih belum bisa menemukan simbol kepercayaan yang ada dalam dirimu. Mungkin telah ribuan kali ungkapan bodoh keluar dari fikiran dan mulutmu, tapi tidak dari hatimu. Itu semua karena kau belum  membuktikannya dengan rasa yakin yang tertanam dalam hati. Ule, ada sebuah fakta nyata, dua orang yang sama bodohnya menghadapi ujian. Salah seorang dari mereka mau berusaha dengan belajar, sedangkan seorangnya lagi tidak. Setelah hasil ujian diumumkan, salah satu dari mereka yang belajar tadi bisa mendapatkan hasil yang  baik sedangkan satu orangnya lagi tidak, padahal tingkat kebodohan mereka sama. Hal itu bisa terwujud karena adanya berkah belajar, berkah yang bisa didapat dengan jalan usaha. Intinya, kamu harus percaya akan adanya berkah belajar itu Le, kemudian berusaha meniti jembatan untuk mencapainya.”

Perlahan Ule menaikkan kepalanya dan menatap lekat mata Pak Wisnu,”Bapak yakin saya bisa?”
“Bapak sangat yakin, waktu masih panjang Le, sisa empat bulan lagi. Masih ada kesempatan untuk merubah susunan puzzle kehidupanmu. Mari kalahkan pasir waktu yang tak bosan untuk memenuhi ruang di bawahnya. Bapak ada di belakangmu Le.” Pak Wisnu berucap dengan mantap sambil memegang erat bahu Ule.
Ule tersenyum lebar setelah mendengar kata-kata  Pak Wisnu yang seakan menjadi setetes air di tengah gersangnya padang pasir.
Waktu terus menggoreskan jejaknya. Semenjak mendapat suntikan semangat dari Pak Wisnu, Ule semakin yakin akan tekadnya dalam belajar. Segala jalan telah ia coba tempuh, mulai dari rajin mengikuti pembelajaran di sekolah, mengikuti les, dan pergi ke rumah Pak Wisnu untuk bertanya tentang pelajaran yang belum ia pahami di setiap waktu luang. Untungnya, ayah Ule tak terlalu membebani Ule dengan pekerjaan yang berat sehingga Ule memiliki banyak kesempatan untuk mencari ilmu. Itu semua ia lakukan demi mendapat berkah Nya dari usaha  belajar.
 Hingga akhirnya hari yang dinanti-nanti pun telah tiba. Hari dimana Ule  akan bertaruh dan membuktikan sejauh mana batas ukuran usaha yang telah ia lakukan. Hari dimana mata, tangan , dan fikirannya akan beradu dengan kertas-kertas ujian. Dengan setancap tekad kuat dan seraut keyakinan, ia mantapkan niat di hati demi meraih kesuksesan dalam ujian kali itu. Melihat kegigihan dan semangat yang berkobar-kobar di mata Ule, Pak Wisnu hanya bisa tersenyum dan berdoa, semoga siswanya yang satu itu tak mengecewakan kepercayaan yang telah ia berikan.
Pukul delapan tepat. Panggung sudah tertata rapi dan terlihat mewah dengan perpaduan berbagai hiasan. Para tamu undangan pun tampak memadati tempat duduk yang telah di sediakan di bawah tenda berwarna biru. Di tengah-tengah para undangan yang datang dengan memakai pakaian yang serba bagus, terlihat seorang pria tua dengan memakai baju biru lusuh dengan sebuah peci hitam di kepalanya. Wajahnya tampak cemas, sesekali matanya berlarian mencari sosok anaknya yang duduk tak jauh darinya. Ya, dia adalah ayahnya Ule.
Suara dengungan dari speaker yang berukuran besar menandakan acara pengumuman hiasil ujian akan dimulai. Semua wajah siswa mulai menunjukkan berbagai bentuk ekspresi. Dari gugup, cemas, takut, dan sebagainya. Demikian pula Ule, raut wajahnya menandakan bahwa ia sekarang tak tenang, semua rasa tak nyaman bergumpal menjadi satu, mematikan segala asa dan cita dalam hati. Namun ketika ia mengingat pesan dari  Pak Wisnu bahwa ia pasti bisa mendapatkan hasil baik dengan berkah yang diperoleh dari belajar, semangat dan rasa yakinnya hidup kembali. Waktu kian berlalu, kini tiba saatnya pengumuman bagi lima siswa bresprestasi dengan nilai UN tertinggi yang akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke universitas negeri terkenal di Indonesia. Mendengar perkataan itu, mata Ule menatap ke arah Rio, hatinya berucap bahwa teman yang dulu pernah menghinanya itulah yang kemungkinan besar akan mendapatkan beasiswa. Semua bayangan masa lalu tentang segala konflik antaranya dirinya dan Rio tertayang kembali dalam benak Ule. Ia tahu, walaupun Rio sering bersifat angkuh tapi ia merupakan anak yang pintar dan berprestasi. Tiba-tiba Ule merasakan ada yang menggoyang-goyang lengannya dari disamping, setelah dilihat ternyata itu adalah Deni.
“Selamat Ya Le, aku tak menyangka kamu bisa mendapatkan beasiswa itu. Sekali lagi  selamat.” Ucap Deni bersemangat seraya menggenggam kuat telapak tangan Ule.
“Hah, a..apa yang kamu katakan?” Ule tampak bingung. Ia tak mendengar apa yang telah dikatakan karena asyik dengan lamunan masa lalu.
“Saya mohon sekali lagi kepada Ule dan orangtuanya maju ke depan untuk menerima penghargaan.” Kali ini suara dari pembawa acara terdengar begitu jelas di telinga Ule. Ule tergagap. Ia seakan merasa melayang-layang di atas ratusan orang yang hadir. Tapi, ketika ia melihat sosok pria tua berbaju lusuh berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Ule baru sadar, bahwa itu semua bukan mimpi. Ya, hari itu telah termaktub peristiwa bahagia yang tak terduga dalam kitab kisah kehidupan Ule. Dia telah mampu mewujudkan segala mimpi-mimpi lampau yang tak pernah sampai. Dengan langkah penuh suka cita, Ule dan ayahnya menaiki panggung mewah yang menjadi pusat perhatian setiap mata kala itu. Riuh derai suara teriakkan dan tepuk tangan menggema ketika Ule menerima penghargaan. Tak terasa buliran bening keluar perlahan dari sudut matanya. Dipandangnya wajah ayah yang selama ini begitu ia cintai juga turut meneteskan bentuk rasa harunya. Dari sudut panggung, tampak pula Pak Wisnu tak ketinggalan ikut menepukkan kedua tanganya ditambah seukir senyuman bangga.  Hari itu dengan nyata telah didapatkan Ule balasan dari usaha yang telah ia lakukan dalam mencari berkah-Nya, berkah yang bermula dari niat, berlanjut dengan tekad, dan bersambung dengan kesungguhan dalam belajar.

 ”Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”.  Al-Qur’an surah Yusuf (12) ayat 87



Rabu, 11 Januari 2012

Syahroni Vs Banjarbaru

Namanya Syahroni, paling senang dipanggil Roron. Entah kenapa dan bagaimana orang tuanya bisa memberi nama yang rada mirip dengan penyanyi yang lagi tenar di Indonesia. Tapi Alhamdulillah yah, nama itu mampu bertengger di barisan mahasiswa Unlam Banjarbaru. Do’i merupakan anak perantauan yang berasal dari kampung nan jauh di hulu dan sedang mencoba menyelami kehidupan di Banjarbaru. Tinggal di kota besar yang serba maju, maju pemerintahannya, maju fasilitasnya, maju juga congornya (lho.. ga nyambung) membuat Roron termotivasi untuk mengikuti style ala anak kota. Kalau bicara masalah gaya, Roron yang jadi nomor satunya. Bagaimana tidak, dari rambut sampai ujung kuku kaki selalu ia perhatikan. Entah kenapa anak itu sangat terobsesi untuk menjadi sosok yang mirip dengan tokoh Edward di film Twilight Saga. Kalau dari fisik, bisa dibilang Si Syahroni hampir nyamain si cakep Robert Pattinson itupun jika dilihat dari mahkota patung Liberti saja. Kalau dari dekat, ampun cing, siap-siap pakai kacamata hitam berlapis biar tidak bisa melihat wajah aslinya.
Roni yang aslinya merupakan anak kampung biasa ternyata bisa boros juga. Maklum, dia adalah anak seorang petani sukses di kampungnya sehingga uang bulanan pun terus mengalir kaya derasnya air di kali. Bahkan, kadang-kadang dia dikasih uang lebih untuk membeli pakaian baru plus perlengkapan untuk  perawatan tubuh dari shampo, pembersih wajah, dan lain-lain pokoknya komplit, tapi tetep aja kodrat wajah tidak laku menempel pada dirinya.
Di hari yang tidak panas, tidak dingin, tidak juga keduanya. Terlihat Roron sedang duduk di bangku panjang dengan wajah yang tertunduk lesu.  Tangannya memegang sebungkus kacang kulit rasa bawang. Melihat wajah Roron yang layu kaya pohon lagi kekurangan air memancing temannya Afri untuk mendekat.
“Oi Ron, , busyet dah!!!” ekspresi Afri begitu terkejut melihat Roron yang tengah memakan kulit kacang bawang. “Lu doyan isi kacang apa kulitnya sih?”tanya Afri lagi.
“Hikss..hancur reputasi gua sebagai orang terkeren gara-gara ketahuan suka makan kulit kacang.”Roron berkata dengan lelehan air mata yang menganak sungai.
“Kenapa lu Ron?, ada masalah?”Afri kembali bertanya masih dengan nada heran plus bingung.
“Gue lagi sedih Fri, Emak gue barusan nelpon dan ngasih kabar buruk kalo bisnis abah di kampung gatot, gagal total. Itu sama artinya, uang bulanan gua bakalan makin kering Fri,,.Huaaaaa gue rasanya ga sanggup!!!”tangis Roron makin meledak.
“Ya elah, gara-gara bakal ga dapat uang jajan lebih aja nangisnya kaya anak yang baru lahir.”
“Gimana gue ga nangis Fri, lo tau aja kan gue ini paling seneng shopping, pokoknya apa yang gue butuhin selalu bisa kebeli biar ga ketinggalan sama style anak kota gitu. Lo tau juga kan, itu semua gua lakukan demi bisa mendapatkan si cakep, manis, asem, asin rame rasanya alias  Tina yang gue udah idemin dari zaman baheula.” kata Roron dengan mulut yang masih bersumpal kulit kacang.
“Ah lu Ron, mau-maunya ketipu ma anak-anak kota. Lu ga mikir apa?, pentingan mana si style sama cita-cita elu buat jadi sarjana? kalo cuman mikirin buat ngikutin zaman modern doang mah belum tentu ada untungnya, mendingan elu fokus ke kuliah aja dulu. Buat tuh Abah-Emak lu jadi angkat kerah baju alias bangga sama anak semata kayang kaya lu.”
“Semata wayang kali.”sanggah Roron.”Benar juga kata lu Fri, gue mesti bisa ngebahagiain Mak-Abah gua di kampung. Mungkin gue bisa nyari tambahan ongkos dengan bekerja apa aja, yang penting halalan bang thoyyib.”sambung Roron kembali.
“Bang Thoyyib?, ternyata lu sama oon nya juga kaya gue,,hehe. Ya udah lah Ron, gue setuju aja deh ama jalan hidup yang lo pilih. Gue mah cuman bisa doain aja moga lu  berhasil menjalani tantangan kehidupan di kota besar ini. Biar lebih memotivasi, buat tuh proposal hidup lo dengan judul ‘Syahroni vs Banjarbaru’, isinya lu harus mampu menaklukan kota yang maju ini untuk menjadi seorang yang sukses. Keren kan?”
“Bener juga kata lu, thanks ya sob, lu udah jadi lampu penerang di hidup gue, walaupun kulit lu ga terang-terang amat.” canda Roron sambil mengamati warna kulit Afri yang hitam gelap mirip orang Afrika.
“Dasar lu, Gue mau pergi dulu nih. Eh, kacangnya buat gue aja ya,mubazir kalo lu cuman makan kulitnya doang.” ucap Afri sambil menyabet bungkusan kacang dari tangan Roron. Roron hanya diam dan tersenyum melihat tingkah temannya yang satu itu.
Setelah pulang dari kuliah, Roron langsung menuju kosnya dan memanjat balkon lantai atas. Entah kenapa dia merasa seakan mendapat suntikan semangat dari kata-kata Afri tadi. Dengan penuh emosi dia memasang kuda –kuda layaknya orang yang ingin main silat, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“Ga ada kata menyerah dalam hidup gue buat menaklukan tantangan Banjarbaru, Gue akan berusaha untuk merebut titel sukses dan memajangnya di dada gue, dinding kamar gue, kaca WC gue, atau perlu mading kampus sekalian. Pokoknya duel Syahroni Vs Banjarbaru  bakal gue menangin. Hidup Syahrini, eh Syahroni…!!!”
‘Pletakkk’ tiba-tiba sebuah gayung terbang dengan sasaran yang tepat mengenai dahi Roron.
“Aduh” Roron meringis sambil memegang jidatnya.
“Woy, kalau mau latihan drama jangan teriak-teriak di sini, gue udah cape nidurin anak gue kebangun lagi gara-gara denger suara lo yang cempreng itu. Pergi sana lo!” ucap seorang ibu yang ada di seberang jalan penuh emosi. Mukanya merah padam kaya kepiting rebus.
“Waduhh berabe gue. Cabut dulu ah.” tanpa wajah bersalah, Roron langsung ambil langkah sejuta meninggalkan ibu-ibu yang lubang hidungnya membesar karena marah.
Hari pertama harapan pertama. Dengan pedenya Roron melangkah menelusuri jalan besar Banjarbaru. Bermodalkan ijazah SMA, KTP, uang secukupnya, air mineral, plus minyak kayu putih (takut kalo ntar masuk angin.Eitss buat anak jangan coba-coba), Roron berharap bisa menemukan pekerjaan nantinya. Namun, mencari pekerjaan di kota besar dengan modal ijazah SMA saja tak bisa menjamin untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya hari pertama itupun hanya berujung nihil.
Iseng-iseng, Roron mencoba mencari lowongan pekerjaan di koran. Tiba-tiba matanya membulat ketika melihat sebuah tulisan yang tercetak dikolom paling kiri, “DICARI OFFICE BOY”. Tanpa pikir panjang kali lebar, Roron langsung tancap gas menuju alamat yang di maksud.  Sesampainya di TKP, dengan wajah lugu selugu-lugunya, Roron memasuki ruang penerimaan pegawai baru.
“Kamu mahasiswa?, apa kamu ga malu jadi office boy?”, tanya bapak-bapak yang kumisnya tebal. Saking tebelnya Roron jadi geli ketika melihat bapak itu berbicara kumisnya juga ikut bergerak
“Kenapa harus malu Pak, yang penting kan halal.” ucap Roron senyum-senyum dan masih memerhatikan kumis bapak itu. (wah ga konsen ni anak)
“Baiklah nak, Syahrini.”
“Syahroni Pak.”
“Oh iya, Syahroni. Mulai besok kamu sudah bisa menjadi officeboy. Ini ada peraturan kepegawaian di perusahaan, jangan  hanya dibaca, namun juga diterapkan.”ucap bapak itu tegas.
Wah, girang banget tuh si Roron karena sudah diterima kerja walaupun hanya sebagai Office boy. Ga tanggung-tanggung, pas sampai rumah dia langsung sujud syukur 5 jam, alias 5 menit sujud syukurnya sisanya ketiduran. Walaupun agak gengsi, mau tidak mau dia  menerima pekerjaan itu dari pada harus keluyuran gak jelas buat mencari pekerjaan yang agak tinggian.
Hari pertama kerja. Roron sudah punya tekad bulat sebulat pentol langganannya untuk menjadi karyawan yang baik. Pagi-pagi dia udah stand by di kantor. Dan tanpa menunggu perintah, dia udah berinisiatif sendiri untuk membersihkan tempat itu. Seperti membersihkan kaca pintu, kaca jendela, kaca WC, hingga kacamata para pegawai lain juga ikut ia bersihkan(saking rajinnya).
Seminggu sudah ia bekerja di perusahaan yang lumayan terkenal di Banjarbaru itu. Walaupun jadwal kerja agak padat, tapi dia bisa me-managenya agar tidak terbentur dengan jadwal kuliah. Selain itu, pekerjaan baru ini juga berdampak positif, jadi dia tidak menghabiskan waktu untuk berhura-hura layaknya anak-anak muda KuKer, alias kurang kerjaan.
Sabtu siang. Saat itu Roron tengah mengepel lantai di depan ruang direktur perusahaan. Entah kenapa Roron merasa agak gugup jika harus bertemu dengan Pak direktur. Mungkin karena ia merasa auranya kepemimpinannya kalah dengan orang nomor satu di perusahaan itu. Ya iyalah jelas kalah, wong Roron hanya menjadi pemimpin geng anak kecil yang suka nongkrong di warung PS.
Masih dengan wajah serius walaupun ga serius-serius amat, Roron mengepel lantai berkeramik putih. Tiba-tiba..
“Syahron!.” sapa seorang gadis.
“Ti..Tina.” Roron sangat terkejut melihat sosok gadis yang ternyata bernama Tina, gadis yang telah lama ia sukai. Seketika saja sapu yang dipegangnya jatuh ke lantai.
“Kamu kerja di sini?” tanya Tina, sambil memerhatikan seragam biru yang dipakai Roron.
“I..iya.”jawab Roron terbata-bata.
“Oh,, emm.. kamu liat Pak Rudi ga?”tanyanya lagi.
“Pak. Ru..Ru.”
“Iya, Pak Rudi, bukan Ruru. Kamu kenapa sih, kok jadi orang yang ga bisa ngomong gitu?” Tina heran.
“Ga papa, tapi Pak Rudi yang mana ya?”, tiba-tiba saja Roron berbicara dengan lancarnya.
“Masa ga tau, Pak Rudi kan direktur perusahaan ini.”jelas Tina.
Baru saja beberapa detik mereka berbicara, tiba-tiba orang yang dimaksud datang ke arah mereka.
“Tina, ada apa?”
“Ayah.”
Jreng..jreng…AYAH…ternyata Pak direktur yang bernama Rudi itu adalah ayahnya Tina. Seketika saja, Roron merasa ciut di hadapan mereka berdua. Tak bisa ia bayangkan, ternyata selama ini dia mencintai seseorang yang sudah jelas berlevel jauh di atasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tina meninggalkan Roron yang tengah terpatah-patah hatinya. Dramatis!
Malam yang dingin, sedingin hati Roron yang sedang dilanda salju kesedihan. Afri yang saat itu tengah menikmati kopi susunnya terpencing lagi untuk bertanya pada Roron.
“Kenapa Ron?”tanya Afri.
“Lagi murung.” jawab Roron, singkat.
“Murung ga murung sama aj ekspresi muka lu, susah dibedain..hehe.”canda Afri. Namun itu tak bisa membuat Roron tersenyum.
“Gue berangkat kerja dulu ya.”Roron berkata sambil mengambil tas kecilnya dari atas kasur.
“Lu ga mau curhat dulu sama gue?”,
“Ga, gue mau mempersingkat waktu biar ga telat berangkat kerja.”
“Emang waktu bisa dipersingkat ya?hehe” Afri berbicara sendiri sambil memerhatikan Roron yang berjalan keluar hingga bayangannya menghilang dibalik pintu.
Beberapa menit kemudian Roron telah tiba di kantor. Masih dengan wajah yang murung ia meraih peralatan bersih-bersih. Kebetulan malam itu ia ada jadwal piket sebagai pengganti waktu siang yang telah digunakannya untuk kuliah. Kantor tampak sepi, selain Pak satpam yang bertugas di luar, mungkin hanya dia satu-satunya office boy yang bekerja malam hari. Ia baru ingat, mang Ali yang juga mempunyai jadwal piket saat itu, namun ia tidak hadir karena sedang sakit.
Sambil membawa ember berisi air dan pel lantai, Roron menaiki tangga menuju lantai dua. Tiba-tiba ia mendengar suara orang dari salah satu ruangan di sana. Bulu kuduk nya berdiri, nafasnya naik turun. Ingin rasanya Roron kembali ke bawah dan mengurungkan niatnya untuk membersihkan lantai atas. Namun ia tak mau dicap sebagai penakut, secara dia sudah me-reward dirinya sebagai pria gentle dan perkasa.  Ia pun meneruskan langkahnya. Suara yang sayup-sayup itu kini terdengar semakin jelas. Dengan ukuran kuping yang agak besar, Roron merasa sangat yakin jika suara itu berasal dari ruang direktur, ruang kerja ayahnya Tina. Hufh..lagi-lagi Tina. Eits, konsentrasi Roron.
“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Kalo gue masuk bisa-bisa dimarahin entar. Apa gue ketok aja dulu ya?.” ucap Roron yang masih teringat dengan butir-butir peraturan kepegawaian.
Tok..tok..tok..terdengar suara ketokan pintu dari luar. Namun tak ada respon sama sekali dari dalam.
“Apa jangan-jangan  bukan orang kali ya, haduhh mana gelap lagi.”
Tiba-tiba pintu terbuka dan tubuh Roron ditarik masuk oleh tangan seseorang.
“Bawa barangnya kan?” tanya seorang pria yang suaranya terdengar begitu bas.
“Ba..ba..rang apa?”tanya Roron kembali yang masih tak bisa menghilangkan rasa takut dan kagetnya.
“Gue kan menyuruh lo ngambil tas gede, gimana sih?”
“Ampun pak, jangan ambil uang saya. Itu semua untuk gajih karyawan dan lainnya. Bagaimana nanti jika saya tidak bisa membayar hasil keringat mereka?.”
Gleggg.. Roron terdiam. Ia sangat kenal dengan suara pria yang meminta ampun dengan nada memelas tersebut. Dia adalah Pak Rudi. Dengan secepat kucing yang lagi berlari dikejar anjing, Roron bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Ada adegan perampokan dalam ruangan itu. Karena suasana sedang gelap, sehingga perampok itu tak mengenali sosok Roron yang dikira adalah partnernya.
Bukk..bukk.. dengan sigapnya Roron memukuli tubuh perampok itu dengan tongkat pel. Kemudian menggunakan ember yang berisi air untuk menutupi kepala perampok itu. Pokoknya apa aja yang ada diruangan itu Roron gunakan untuk menghabisinya, tanpa peduli apakah itu benda berharga atau tidak.
Selang beberapa jam kemudian. Tempat itu telah dipadati oleh mobil dan kendaraan polisi. Tampak beberapa polisi sedang menggiring om perampok yang wajahnya babak belur serta temannya yang berbicara gagap menuju mobil tahanan. Sambil senyum-senyum ga jelas, Roron hanya memerhatikan mereka dari kejauhan.
“Syahroni.” sapa Pak Rudi.
Roron pun menoleh ke belakang.
“Pak Rudi, Tina!!” ucap Roron terkejut.
“Makasih ya Ron sudah menyelamatkan ayahku dari perampok itu.” kata Tina dengan senyuman yang terlukis di bibir manisnya.
“Sama-sama. Lagi pula tadi itu hanya kebetulan saja.” Roron merendahkan diri.
“Bukan kebetulan, tapi itu merupakan keberuntungan untuk saya. Sebenarnya tadi saya kembali ke kantor untuk mengambil dokumen penting yang ketinggalan di ruang kerja. Tak tahunya ada perampok di sana dan saya langsung di setrap oleh mereka. Tak bisa saya bayangkan jika tadi tidak ada Nak Syahroni, mungkin semua uang dan benda berharga milik perusahaan ludes di ambil mereka.” kata Pak Rudi.
“Alhamdulillah Pak, Allah masih mengulurkan pertolongannya untuk perusahaan ini.” Roron berkata layaknya orang bijak.
“Oh ya, sebagai wujud terimakasih bagaimana kalau saya jadikan kamu sebagai asisten pribadi. Kebetulan asisten saya dulu sedang sakit keras dan hanya kemungkinan kecil untuknya  bisa bekerja lagi.” tawar Pak Rudi kapada Roron.
“Alhamdulillah..Laailaahailllah…Subahanallah…terimakasih Pak” seru Roron girang. Kembali ia bersujud syukur hingga berjam-jam lamanya. Dasar Syahroni, gara-gara kecapean karena sudah menjadi sang hero, ia pun  tertidur lagi dalam sujudnya.
~ The End ~