Oh Annisa ku…!!!
Rahmat Illahi turun berupa butiran-butiran cairan bening, membasahi tanah bumi Banjarmasin di sore hari . Matahari pun terlihat masih enggan menampakkan wajahnya. Hawa dingin menjalari setiap sudut tempat yang diberi gelar kota seribu sungai itu. Hewan-hewan amfibi pun ikut berpadu suara menyambut gemercik air yang turun. Duduk seorang wanita yang memakai jilbab putih di atas sebuah kursi roda. Wajahnya putih bersih, bibirnya tipis kemerah-merahan, alisnya terukir indah, pipinya merah merona .Namun yang paling menarik dari itu semua adalah matanya. Warna matanya yang indah dan bening menyempurnakan kecantikan wajahnya. Wanita itu bernama Annisa.
Sudah hampir 2 jam Annisa duduk di teras rumahnya. Hal ini selalu ia lakukan setiap sore ba’da ashar. Ya, beginilah Annisa, yang setia menunggu dan ingin menyambut suaminya sehabis pulang bekerja. Annisa tak pernah jenuh walaupun iya harus menunggu lama sekalipun sampai kaki dan punggungnya sakit. Ini semua karena rasa sayang dan cinta yang begitu besar pada belahan jiwa yang telah resmi menjadi muhrim sekaligus imamnya 7 tahun lalu.
“Tuan Haris belum pulang juga Bu?”, tanya seorang perempuan tua yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Annisa memalingkan wajahnya dan tersenyum ‘’Belum Bi, mungkin sebentar lagi,”
“Lebih baik Bu Annisa masuk kedalam, udara di luar dingin sekali. Nanti bisa masuk angin”, bujuk pembantu paruh baya itu
“tidak apa-apa Bi, saya baik-baik saja”Jawab Annisa masih dengan senyumnya yang manis.
“Bibi bawakan teh hangat sama kue ya “
Annisa pun membalas tawaran itu lagi-lagi dengan senyuman yang khas. Senyuman yang mampu membuat teduh hati semua orang yang melihatnya.
Tak berselang lama datang lah pembantu itu dengan sepiring kue dan teh hangat di atas nampan yang terbuat dari kaca bening. Nampan itu kemudian diletakkan di atas meja kecil bundar yang berbahan dasar jati, tepat di sebelah kursi roda yang Annisa duduki.
“Ini teh nya Bu, “
Annisa pun menyambut teh dari tangan pembantunya dengan meraba-raba permukaan gelasnya. Kemudian Meminumnya dengan pelan, mengalirlah cairan hangat itu ke dalam tubuhnya mengusir rasa dingin yang sedari tadi menggerayapinya.
“Bi Sumi”, panggil Annisa kepada pembantunya yang telah setia bersamanya hampir 6 tahun .
“Ada apa Bu?”, Tanya Bi Sumi
“Menurut bibi, apakah aku ini istri yang baik?”
Bi Sumi mengerutkan kening karena merasa heran ketika mendengar pertanyaan dari majikannya itu. Dia diam sejenak kemudian berucap, “ Maksud Ibu apa?, Bagi bibi, Ibu adalah wanita yang paling baik dan tercantik yang pernah bibi temui. Ibu adalah wanita sholehah yang tunduk dan patuh pada suami. Lelaki mana yang tidak ingin punya istri seperti Ibu Annisa?”,
“Begitukah menurut bibi?, Istri yang baik adalah istri yang bisa membahagiakan suaminya. Tapi aku masih merasa belum bisa memberi kebahagiaan penuh untuk suami ku, Bi. Semua lelaki muslim pasti ingin memiliki istri yang sholehah, baik dan bisa menyenangkan hati suaminya. Tapi apakah mereka tentu mau dengan wanita lumpuh dan buta seperti ku ?, sangat jarang di dunia ini orang yang merasa sempurna mau menerima orang yang serba kekurangan. Mereka akan lebih senang menjauhinya dan membuang jauh dari kehidupan mereka, bahkan bayang-bayangnya sekalipun ingin mereka musnahkan. Aku takut jika Mas Haris termasuk seperti orang-orang itu Bi. Aku takut dia pergi dan mencampakkan ku. Aku takut dia mencoret kertas cinta kami yang suci. Aku takut mahligai cinta yang telah kami buat dengan susah payah runtuh. Aku takut kehilangan dia, dan aku takut di murkai Allah”. Tak terasa mata Annisa berkaca-kaca dan satu persatu butiran air pun turun mengalir di pipi nya yang kemerah-merahan.
Hati Bi Sumi tersentuh . Ia lalu menyapu aliran air bening yang membasahi pipi Annisa dengan jari-jarinya yang mulai keriput.
“Jangan berkata begitu . Tidak semua lelaki seperti yang ibu katakan. Bibi yakin . tuan haris adalah lelaki baik yang Allah takdirkan untuk mendampingi dan mencintai ibu. Buanglah jauh-jauh fikiran yang buruk itu. Berdoalah kepada Gusti Allah, serahkan semuanya pada –Nya”,nasihat Bi Sumi kepada Annisa yang masih tenggelam dalam kesedihan.
Begitulah Annisa, dia selalu bersedih ketika mengingat suaminya dan keadaannya sekarang.Semua berawal sejak 3 tahun lalu. Saat itu Annisa dan Haris sudah dikarunia seorang puteri bernama Zulfa yang hampir berumur 4 tahun. Sejak awal pernikahan hingga saat itu rumah tangga mereka berjalan harmonis. Namun takdir Illahi berkata lain. Musibah datang menimpa Annisa, ia diserang penyakit yang mengakibatkan dirinya menderita lumpuh dan buta. Haris merasa sangat sedih meliahat keadaan istri yang sangat dicintainya. Berbagai cara pengobatan telah ia coba kepada istrinya, namun tak ada satu pun yang mampu dan berhasil. Haris hanya bisa pasrah dan membiarkannya.
1 tahun berlalu setelah Annisa menderita penyakit yang menggenasakan itu. Selama itu pulalah Haris mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang suami. Namun seutuh-utuhnya batu karang, pasti kan rapuh diterjang kerasnya ombak. Haris mulai merasa jenuh dengan keadaan rumah tangganya. Dia pun mencari kebahagiaan lain di luar sana tanpa sepengetahuan Annisa. Berawal dari pertemuannya dengan seorang wanita muda ,cantik, cerdas, dan mandiri bernama Diana. Haris pun tertarik untuk menjalin bisnis dengannya, namun lama kelamaan ketertarikan itu berubah menjadi rasa suka. Entah kenapa kebersamaan dengan Diana membuat Haris merasakan sesuatu yang baru, sesuatu yang telah lama dia inginkan, sesuatu yang pernah dia dapatkan dari Annisa dalam waktu yang hanya terukur dengan jari.
Haris mulai larut dalam permainan cinta yang ia ciptakan sendiri. Sesungguhnya Diana bukanlah sesosok wanita yang sempurna, memang dilihat dari fisik dan cara berfikirnya dia seperti peri yang mampu membuat semua hati takjub . Tapi jauh dalam dirinya, dia adalah seorang yang tak lebih dari binatang. Hatinya tak pernah menyebut nama tuhan, akhlak nya diselubungi kabut hitam. Dunia malam, free sex, materialistik adalah segelintir warna kehidupannya. Cintanya pada Haris hanya sebatas cinta di kertas buram. Bukan ketulusan namun kemunafikan. Dibalik itu semua dia mempunyai sebuntalan rencana jahat terhadap Haris dan perusahaanya. Jikalau saja Haris bukan pengusaha sukses dan tampan, takkan pernah sudi dirinya berpura-pura bersikap manis dan sopan layaknya permaisuri kerajaan.
* * *
Awan kelabu telah digantikan goresan-goresan jingga di ufuk barat. Annisa masih ditemani kursi roda yang selalu setia menopang tubuhnya. Semilir angin senja berhembus pelan menggerakkan ujung jilbab nya yang putih, seputih hatinya. ‘’aku kan setia menunggumu Mas”, bisik Annisa pelan.
“Bu,” panggil Bi Sumi dengan lembut.
“Ya” Sahut Annisa dengan tatapan yang tetap lurus kedepan.
“Tadi Tuan Haris menelepon, katanya beliau kerja lembur hari ini, jadi tidak pulang sore”, jelas Bi Sumi.
“Oh ya, apakah dia kan pulang malam Bi?” Tanya Annisa.
Kemungkinan besar iya Bu, tapi mudahan saja pekerjaan Tuan cepat selesai, jadi bisa pulang ke rumah. Ayo kita masuk ke dalam Bu, sebentar lagi adzan maghrib”.
Annisa pun masuk ke rumah dengan dibantu Bi Sumi yang mendorong kursi rodanya.
***
Dukk…suara dari koper yang dijatuhkan kelantai. Haris menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di kamar tidurnya. Dia mencoba tuk memejamkan matanya namun tak bisa. Tiba-tiba Annisa muncul dari pintu kamar dengan memutar sendiri kursi rodanya.
“Mas sudah pulang?”Tanya Annisa
Haris hanya diam.
“Mau aku buatkan teh hangat?”tawar Annisa.
“Tidak usah”, jawab Haris singkat.
“Mas sepertinya kelelahan, Mas udah sholat juga khan tadi? Sebaiknya sekarang istirahat dulu,”ucap Annisa dengan kelemah lembutannya.
“Annisa, besok aku mau pergi ke Roma”.
Perkataan Haris mengagetkan Annisa.
“Roma?, buat apa Mas?”
“Ada urusan bisnis. Aku harus stand by di bandara jam 7 pagi”, jelas Haris.
“Kenapa jauh sekali mas? Setahuku Mas tak pernah melakukan perjalanan bisnis sampai ke luar negeri.”
“Aku memiliki investor asing dari Roma. Dia memintaku untuk mengunjungi salah satu perusahaannya di sana. Dengan begitu, aku bisa mempelajari program dan strategi , lalu kan kuterapkan pada perusahaan di sini agar bisa lebih sukses.” Haris memperjelas maksudnya.
“Berapa lama mas pergi?”Tanya Annisa kembali.
“Kira-kira satu minggu”
“Selama itu kah?”Annisa kembali tak percaya.
“Itu tak lama, semua ini aku lakukan demi bisnis. Memangnya tahu apa kau tentang perusahaan? Kerjaan mu hanya diam di rumah saja. Ahh,,sudahlah, aku lelah. aku mau tidur”, Haris kemudian membalikkan badannya dari hadapan Annisa dengan wajah yang tampak kesal.
“Hati-hati lah di sana Mas, luangkan lah waktu untuk beribadah, jangan hanya menggunakan waktu untuk bekerja dan bekerja. Allah akan dekat dengan kita apabila kita selalu ingat padanya. Jaga kesehatan mu juga mas. Aku kan minta bi Sumi menyiapkan beberapa obat untuk di bawa nanti. Mungkin cuaca di sana berbeda dengan di sini, hal itu bisa berdampak pada kondisi fisik mu. Selamat beristirahat mas, jangan lupa berdoa sebelum tidur.”
Annisa lalu berlalu dari ruangan itu. Tangannya menyapu butiran air yang jatuh di pipinya. Ia menangis. Tangisan yang entahlah apa artinya. Mungkin karena ia akan ditinggal suaminya dalam waktu lama, atau karena suatu perubahan pada diri Haris. Namun Annisa tak mau terus larut dalam kesedihan yang semakin deras alirannya. Di sepertiga malam, saat cahaya bulan terlihat semakin terang. Ia duduk di atas permadani berlukis rumah tuhan. Tangannya memegang kumpulan kertas suci berisi kalam ilahi. Segala isi hati ia tumpahkan kehadapan sang Maha Mendengar malam itu.
***
3 hari setelah perjalanan bisnis ke Roma. Tampak Haris terlibat pembicaraan serius dengan seorang wanita yang tak lain adalah Diana. Sebenarnya tujuannya pergi ke Roma tidak sepenuhnya untuk keperluan bisnis. Namun demi mewujudkan keinginan Diana semata untuk berlibur ke Roma, negeri yang penuh dengan sejarah itu.
“Aku serius dengan ucapan ku,” ucap Haris, tegas.
“Aku tau, tapi tidak bisa secepat itu. Wanita mana di dunia ini yang senang dimadu?, aku akan mau menikah dengan mu setelah kau menceraikan istri mu”,
Haris terdiam setelah mendengar pernyataan dari Diana. Sejenak terlintas dibenaknya wajah sayu Annisa. Wanita yang selama ini setia serta tulus mencintainya dan patuh padanya. Namun tiba-tiba, Diana memecah lamunan itu.
“Kau tau kan, aku ini adalah seorang wanita karir. Aku masih betah dengan status ku sekarang, karena ini berhubungan dengan prospek cerah dalam pekerjaan ku. Aku masih tak mau menikah di usia muda. Tapi kalau kau tetap tidak mau menceraikan isteri mu. Lebih baik kita menjalin hubungan ini secara diam-diam . Asalkan kita bisa menjaga rahasia ini, semuanya akan baik-baik saja “,tawar Diana dengan senyumnya yang menggoda,.Tangannya kemudian menarik lengan Haris dengan pelan. Permaianan Iblis telah dimulai. Haris pun telah resmi menjadi pamain utama dalam permainan yang terkutuk itu. Dia telah lupa segalanya,dengan tuhan , dengan dirinya sendiri, bahkan dengan istrinya, Annisa.
***
Senin pagi berselimut sejuk. Annisa duduk di depan komputer di ruang kerja suaminya. Tangannya bergerak dengan lincah menekan satu persatu huruf yang tersusun di atas keyboard. Dia memang tak bisa melihat, namun dia hapal betul letak huruf yang diciptakan oleh Christoper itu, sehingga tak ada kesulitan baginya untuk mengetik. Maklum, Annisa sendiri dulu pernah belajar di salah satu perguruan tinggi ternama di Banjarmasin dengan jurusan ilmu komputer.
Rangakaian kata yang terpampang di layar datar itu telah selesai. Annisa kemudian menarik otot-otot jari tangannya yang terasa beku. Hampir satu jam lebih ia menguntai kata demi kata yang tersusun menjadi paragraf hingga menjadi lembaran- lembaran kertas. Ia pun tersenyum puas dengan apa yang telah ia kerjakan.
“Bunda, Zulfa mau pergi sekolah”, suara dari seorang anak kecil yang tiba-tiba berada di samping Annisa.
“Oh, sudah mau pergi ya?, bisa bantu bunda sebentar ga sayang?” pinta Annisa kepada buah hatinya yang baru duduk di kelas 1 sekolah dasar itu.
“Ngapain bunda?”Tanya Zulfa.
“Bunda pengen Zulfa menulis di atas amplop merah ini, Bisa kan?”
Zulfa memandang lekat amplop merah yang sedang di pegang oleh Annisa.
“itu amplop untuk siapa Bunda?’’ Tanya Zulfa kembali dangan ekspresi penasaran.
“Ini buat ayah, bunda mau ngasih kejutan pas ayah pulang nanti”jelas Annisa
Zulfa tersenyum manis ketika mendengar penjelasan dari bundanya.
“Iya deh, Zulfa tulisin. Tapi tulisannya jelek bunda.” Celoteh Zulfa.
“Tulisan Zulfa bagus koq. Walaupun bunda tak bisa melihatnya dengan mata, tapi hati bunda yakin kalau tulisan Zulfa ga kalah bagusnya sama tulisan Bunda dan ayah. Zulfa harus terus belajar menulis supaya nanti tulisan nya lebih bagus lagi.” Puji Annisa.
Zulfa pun akhirnya mau memenuhi permintaan bundanya. Ia kemudian mengambil pulpen yang berada dekat keyboard lalu menulis huruf demi huruf yang di ejakan oleh Annisa. “Untuk Mas Haris Tersayang “, begitulah tulisan yang tertera di atas amplop berwarna merah cerah, secerah hati Annisa yang bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pujaan hatinya, cinta hakikinya,Muhammad Haris Abdullah.
###
Ruangan berwarna biru itu tampak buram. Tercium jelas bau-bauan dari bahan kimia sejenis obat-obatan. Rasa sakit masih menggelayuti kepala dan seluruh badannya. Perlahan ia gerakkan bola mata menyisir ruangan yang berukuran tak terlalu besar itu. Pandangannya kemudian berhenti pada seorang pria muda yang duduk di sampingnya.
“Alhamdulillah, mas Haris sudah sadar ,“ucap pria muda itu.
“ka..kamu siapa?, ke..kenapa bisa tahu nama ku?”, tanya Haris dengan sedikit terbata
“Perkenalkan mas, nama saya Sholihin, saya salah satu mahasiswa dari Indonesia yang sekolah di Universitas Sapienza Roma. Saya tahu nama mas dari kartu idenitas yang saya temukan.”
“Kenapa aku bisa ada di sini?” Tanya Haris kembali, sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
“Tadi saya menemukan mas tak sadarkan diri di kamar mandi hotel lalu saya membawa mas kemari“, jelas pria yang bernama Sholihin itu.
Haris terdiam sejenak. Ia mencoba mengingat beberapa kejadian yang telah berlalu. Tergambar di fikirannya pertengkaran heboh antara dirinya dengan Diana. Kemudian percobaan pembunuhan yang ingin dilakukan Diana terhadap dirinya, namun ia berhasil melarikan diri menuju toilet sampai akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
“wanita licik itu telah menipuku”, ucap Haris sedikit berbisik.
“Kenapa Mas?”, Tanya Sholihin.
“Tidak apa-apa. Oh ya?, bolehkah aku pulang sekarang?”pinta Haris.
“Dokter sudah membolehkan mas untuk pulang, katanya luka yang mas alami tidak terlalu parah,hanya saja mas harus banyak istirahat”,
Haris kemudian membangunkan badannya perlahan dari ranjang yang bersprei hijau.
“mas mau kemana?”. Sholihin mencoba menopang tubuh Haris yang terlihat sempoyongan.
‘’aku ingin membayar biaya perawatan ini, lalu pulang ke hotel”, terang Haris dengan tubuhnya yang masih lemas dan suaranya yang masih lemah.
“Biaya perawatan sudah aku bayar mas. Kalau mau pulang ke hotel sekalian saja dengan saya, karena saya juga menginap di sana”
Haris tersenyum lebar mendengar perkataan pria muda yang berbudi luhur itu.
“Terimakasih Sholihin kau telah membantuku. Nanti akan ku ganti uang mu. Kebetulan sekali kita menginap di tempat yang sama, jadi aku tak perlu khawatir dalam perjalanan pulang”
Sesampainya di hotel, tepatnya di kamar yang telah dipesan beberapa hari lalu. Haris tertunduk sedih di atas sofa berwarna biru malam, sebiru perasaannya sekarang. Perasaan bersalah menggentayangi hati dan fikirannya. Bersalah kepada dirinya sendiri, kapada Tuhan, dan keluarganya terutama terhadap istrinya, Annisa. Rasa penyesalan pun tak mau ketinggalan menghantuinya, membuat dirinya merasa bodoh, lebih bodoh daripada seekor binatang. Diana adalah wanita licik yang telah mempermainkan cintanya dan menukarnya dengan kepalsuan janji. Diana ternyata berkerjasama dengan pihak lain untuk menjatuhkan perusahaan Haris dan proyek-proyeknya. Sekarang semuanya telah hilang, terbayang oleh Haris bagaimana masa depan perusahaannya nanti, bagaimana wajah-wajah karyawannya ketika menerima surat pemecatan, dan masih banyak lagi resiko-resiko berat yang akan menjadi tanggungannya. Semuanya bayangan-bayangan itu bercampur menjadi satu menjadi gumpalan hitam yang menutup fikirannya. Namun ketika dia mengingat tentang Annisa, wanita yang begitu setia mencintainya, fikiran dan hatinya terasa terang kembali. Haris pun kembli tenggelam dalam kesedihannya, air matanya mengalir dengan deras. Bayangan wajah Annisa yang sayu tergambar jelas dalam benaknya. Ia merasa telah menyia-nyiakan seorang wanita suci yang selama ini telah menjadi pendamping hidupnya, melayani dirinya dengan baik, memberikan perhatian dan nasihat yang bisa mengarahkannya ke jalan yang benar saat ia tersesat. Annisa lah yang membuatnya sukses dalam menjalankan perusahaan. Annisa lah yang selalu setia menemani dirinya kala senang maupun duka. Annisa lah bidadari tak bersayap yang terlihat sempurna dalam segala kekurangannya.
* * *
Sayup-sayup suara angin bertiup di siang hari yang berbalut awan mendung. Dengan pakaian yang serba putih, dan jilbab yang terurai panjang membuat Annisa tampak anggun saat itu. Ia duduk di dalam rumah Allah yang suci nan megah dan larut dalam zikir, memuji sang Pencipta yang Maha Agung dengan segala kebesaran dan kekuasaa-Nya. Tampak di tangannya, sebuah amplop merah dan setangkai mawar indah berwarna putih kemerah-merahan.
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang menusuk dan menyakitkan di dadanya. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengucur deras membasahi kening yang selalu ia tundukkan saat sujud kepada Illahi. Walaupun rasa itu semakin membuatnya menderita, ia tetap tenang dalam kesyahduan zikirnya, seperti tenangnya air yang mengalir di sungai Nil .
* * *
“Tuan..!!”, ucap Bi Sumi dengan setengah teriak karena terkejut melihat kedatangan Haris.
“Mana Annisa ?”Tanya Haris dengan nada tak sabar
“Ibu sedang ada di Masjid Sabilal Muhtadin , dia sedang menunggu tuan di sana dan katanya…”
Belum sempat Bi Sumi menyelesaikan pembicaraanya, Haris telah pergi menuju masjid dimana Annisa sekarang, masjid yang dulu pernah menjadi saksi bisu ikatan suci mereka.
* * *
Marcedes hitam itu terpacu dengan cepat, menembus jalan yang bernaung awan mendung, memecah butiran-butiran udara yang terasa dingin, berkejaran dengan waktu yang tak bosan untuk berputar. Tibalah Haris di depan serambi masjid berkubah putih itu. Jantungnya berdetak dengan cepat, darahnya mengalir deras ke segala penjuru saraf. Ingin rasanya ia segera menemui Annisa, memandang lekat wajahnya, memeluknya erat, dan membisikkan kalimat di telinganya, “maafkan segala kesalahan ku, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu wahai bidadari ku” .
Haris melangkahkan kakinya dengan cepat, membentuk bekas telapak kaki yang tak terlihat di atas lantai yang krim itu. Tiba-tiba ada seorang pria tua yang tergopoh-gopoh berjalan ke luar masjid. Haris pun menyempatkan diri untuk bertanya pada pria tua yang memakai peci hitam dan sarung hijau itu.
“Ada apa Pak?”
“Ada seorang wanita muda yang jatuh pingsan di dalam sana, aku harus melaporkan ini kepada warga setempat, takut terjadi apa-apa”,
Kakek-kakek itu pun lalu berlalu dengan cepat. Nampak di wajah Haris rasa penasaran yang bercampur dengan rasa khawatir. Ia pun bergegas menuju ke dalam masjid demi membuktikan perkataan kakek-kakek tadi.
Setibanya di dalam masjid yang berukuran sangat luas, mata Haris bergerak ke sana kemari mengelilingi ruangan itu, seakan sedang mencari seseuatu yang tersembunyi. Tiba-tiba pandangannya dihentikan oleh sesosok wanita berbaju putih terbaring di dekat tiang masjid yang berukuran besar. Haris pun berlari kearah wanita itu. Saat langkahnya semakin dekat, betapa terkejutnya Haris ternyata wanita yang terbaring itu adalah isterinya sendiri, Annisa. Dengan cepat ia rangkul tubuh istrinya,kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya.
“Annisa,,,Annisaa,,,,Kamu kenapa?”, Haris mencoba membangunkan Annisa, tapi tidak ada jawaban dari dirinya. Ia pun meraba pergelangan tangan Annisa, tak ada detak. Kemudian memeriksa nafas nya, tak ada hembusan. Saat itu lah Haris berteriak sangat kencang menyebut nama Annisa di iringi tangisnya yang keras membahana ke seluruh ruangan masjid berkubah cokelat itu, saksi bisu ikatan cinta mereka 7 tahun lalu. Annisa telah pergi meninggalkan Haris ‘tuk selamanya. Annisa telah kembali kepelukan sang Illahi yang menciptkannya. Walaupun sosok dirinya telah tiada, namun kesetiaan dan ketaatannya sebagai seorang istri masih selalu berkubang didalam hati dan jiwa Haris.
* * *
Tetesan-tetesan hujan turun secara bergantian dari atas genteng merah itu. Perlahan Angin dingin berhembus menggerakkan kertas putih yang sedang di pegang Haris. Ya, itu adalah surat yang diketik oleh Annisa beberapa hari sebelum kematiannya. Surat disertai bunga mawar putih yang telah ia persiapkan sebagai kejutan ketika Haris pulang dari Roma. Namun sayangnya, Annisa tak sempat mengucapkan selamat datang dan menyambut Haris, karena ia terlebih dahulu telah disambut oleh Sang Khalik di surga-Nya.
Haris mulai membaca satu persatu kata yang tercetak di atas selembar kertas berukuran kuarto yang sebelumnya telah terbungkus dengan rapi oleh amplop berwarna merah dan bertuliskan, “Untuk Mas Haris Tersayang”.
Kepada suamiku tercinta,
Muhammad Haris Abdullah
Assalamu’alaikum wr. wb
Kusampaikan zikir, pujian dan kekaguman ku kepada Yang Maha Agung, Maha Mendengar, dan Maha Melihat ,Allah Swt. Tak lupa ku untai Sholawat dan salam kepada kekasih dari yang terkasih, Nabi Muhammad Saw.
Mas Haris, suami dan imam ku yang kusayangi. Kau pasti merasa heran kenapa aku menulis surat seperti ini. Padahal aku bisa megatakan segala yang ingin aku sampaikan secara langsung kepada mu atau via telepon. Namun masih ingatkah kau akan segala kenangan kita di masjid Sabilal Muhtadin? Masjid yang paling terkenal di kota tempat di mana aku dan kau dilahirkan. Kita bertemu kemudian saling mengenal di masjid itu. Kita sering mendengarkan ceramah-ceramah agama dan mengikuti berbagai kegiatan remaja masjid di sana. Sampai akhirnya, pertemuan itu menghantarkan kita ke jalan cinta. Tepat hari Kamis, tanggal 24 Agustus 2004, sehabis acara bakti sosial di masjid itu, ku menemukan sebuah amplop merah dan setangkai bunga mawar berwarna putih di dalam tas ku. Saat ku amati amplop itu, tertulis jelas namamu di sana. Hatiku semakin bahagia dan berbunga-bunga kala aku membaca isi surat nya. Kata-kata cinta teruntai dengan indahnya. Bisa kulihat keseriusan hati mu mencintaiku, bisa kurasakan ketulusan perasaanmu kepadaku.
Berawal dari surat beramplop merah dan setangkai bunga mawar putih, tibalah kesepakatan antara kita berdua untuk mengikat tali cinta suci ini dengan pernikahan. Satu hari yang paling aku ingat dan takkan pernah terlupakan, dimana kau duduk di sebelah ku, dengan mantapnya kau genggam tangan penghulu, dengan lantangnya kau ucapkan ijab Qabul hingga saat kau menyelesaikannya, bergemalah ucapan hamdalah, memenuhi ruangan masjid yang berkubah cokelat dan berdiri kokoh di jantung kota Banjaramsin, masjid Sabilal Muhtadin.
Mas haris, suami dan imamku yang kucintai. Ingin rasanya sekali lagi aku mengulang kebahagiaan-kebahagiaan kita yang pernah terukir menjadi sejarah di masjid itu. Namun, rasanya itu terlalu sulit bagi ku. Annisa sekarang berbeda dengan yang dulu. Annisa sekarang tak selincah seperti Annisa yang dulu. Annisa sekarang tak se aktif Annisa yang dulu, dan Annisa sekarang tak sesempurna seperti Annisa yang dulu. Namun, Annisa sekarang lebih banyak memiliki cinta di hatinya dibandingkan Annisa yang dulu. Cinta itu semakin tumbuh memenuhi ruangan hati dan fikirinnya. Cinta itu adalah cinta hakiki dari Tuhan, dan tersalurkan kapada belahan jiwa.Tapi cinta itu seakan hanya diam, karena teman cintanya yang paling disayanginya mulai menjauh dan tak peduli. Namun Annisa sekarang yakin, dengan segala do’a dan harapan yang selalu ia panjatkan kepada Sang Pemberi Cinta akan mengembalikan cinta yang menjauh itu.
Mas haris, suami dan imamku yang terkasih. Sebelum ku menutup surat ini, aku ingin meminta ampun dan maaf serta ridho mu atas segala kesalahan dan kekurangan ku selama ini. Bila suatu saat nanti aku tak ada lagi, aku mohon kepada mu mas, jagalah buah hati kita , Zulfa . Bimbinglah dia agar bisa menjadi muslimah sejati dan kelak akan menjadi istri sholehah untuk suaminya. Aku juga berpesan kepada mu mas, jagalah dirimu baik-baik. Gunakan sisa waktu dalam umurmu untuk beribadah kepada-Nya. Lakukan apapun yang terbaik dalam hidup mu, karena itu juga merupakan bagian dari ibadah dan akan mendapat ganjaran yang baik di akhirat kelak.
Kucukupkan sampai di sini dulu surat dariku. Maafkan aku, jika terdapat kata-kata yang menyinggung perasaanmu.
Salam sayang dan cinta selalu
Annisa Maulida Hijriani
* * *
Cerpen ke 2 oleh Anugrah Mitria Sari
Mulai ditulis tanggal 23 Okt 2011
Dan diselesaikan tanggal 29 Okt 2011