Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

Uhh,,,Sungguh

Uhh,,,sungguh jauh
Kala melihatnya kaki terasa lumpuh
Hati ini telah lama lusuh
Diri ini tertumpuk dosa yang penuh
Fikiran pun ingkar tak mau patuh

Uhh,,,sungguh lelah
Mencari jalan namun tak terarah
Naik ke tebing curam  jatuh ke lembah
Dosa  apa yang membuatku salah
Terhimpit dalam gelap hilang cerah


Uhh,,,sungguh hitam
Kala pikiran dan hati terbuai dalam kelam
Kemaksiatan  mewarnai siang malam
Turun derajat  jatuh  tenggelam
Di mata Tuhan raja sealam

Uhh,,, sungguh pedih
Terbayang air neraka yang mendidih
Badan remuk batu menindih
Siksaan datang tak pernah letih
Membuat derita teramat perih


Uhh,,, sungguh benar
Penyesalan  tumbuh berakar- akar 
Mata pun terbuka oleh sadar
Jika cahaya taubat masih berbinar
Bisakah ku hapus dosa yang terlalu lebar ?


Martapura , 1 November 2011
Ditulis kala hujan membasahi atap rumahku, diiringi gelegar suara petir yang memecah kesunyian langit…^_^

Minggu, 30 Oktober 2011

Hening Malam







Hening malam sunyi tak bernada. Duduk seorang wanita di sudut redupnya cahaya bulan. Tertunduk dengan hati yang rapuh tak tersangga. Butiran –butiran kristal bening dari hatinya mengalir menuju sisi matanya yang sembab. Dinginnya malam dan rasa kantuk tak mampu kalahkan keinginan hatinya untuk betah berlama-lama duduk dalam diam. Waktu terus berputar, namun dia masih tertunduk lesu dalam buaian nestapa tak berkesudahan. 
Hening malam sunyi tak bernada. Namun seru deru suara dalam hatinya terus bergejolak, tak pernah tenang. Membuatnya merasa terkurung dalam jeruji besi berlapis baja dan berduri. Hati dan pikirannya bergejolak mendengar kalimat beracun dari mulut-mulut disekelilingnya. Dia jatuh, dan semakin jatuh ke dalam, jauh ke tempat gelap tak beradasar.
Hening malam sunyi tak bernada. Dunia menertawakannya. Mengarahkan jari-jari telunjuk mereka ke arah wajahnya yang semakin kusut. Dunia yang congkak berkata, “ Hei wanita jalang!!! Rasakan tipu daya kami. Kubangan lumpur memang tempat yang pantas untuk mu.” Dunia yang berperangai buruk pun ikut menyahut, “ Sepandai-pandainya dirimu, jika tak hati-hati pasti ‘kan terbuai dengan kefanaan kami”. Gelak tawa mereka membuat wanita itu ingin menutup seluruh pendengarannya . Namun tak bisa, tak ada gunanya. Semakin dia menutup telinga, semakin tajam cercaan-ceracaan yang menusuk jantung, mengunci saraf, dan mematikan hati.
Hening malam sunyi tak bernada. Masih dalam haru biru penderitaan. Wanita itu merintih pelan dengan suara datar,“Andai waktu bisa diputar, andai detik,jam, hari, bulan dan tahun bisa diulang. ‘kan kuciptakn  cahaya, walupun hanya secercah. Takkan ku biarkan benda apapun memadamkan cahaya itu. Ku bersumpah seumur hidup, kan ku jaga cahaya itu hingga jiwa ini lepas dari jasadnya. Namun kini cahaya yang berharga itu telah sirna karena kecerobohan ku sendiri. Aku terbenam jauh dalam kegelapan. Tak ada lagi pemandangan indah dari gemerlap cahaya  nan suci. Yang ada hanyalah pandangan hitam pekat yang menyakitkan. Oh, andai bisa kudapatkan cahaya itu kembali.”

Di tulis oleh Anugrah Mitria Sari
Terinspirasi setelah membaca buku “ MasyaAllah Remaja”

Imam Cinta ku....

Wahai imam ku, imam cintaku
Dikala matahari menyusup di kaki langit barat
Dikala lantunan adzan menggema dengan syahdunya
Kau datang dengan cahaya hatimu
Menuntun tangan ku, membimbing hatiku
Menegakkan niat dalam rukuk dan sujud pada Illahi
Memautkan hati pada Zat Yang Kekal dan Abadi

Wahai imam ku, imam cintaku
Tak pernah kau katakan iya dikala ku salah
Tak pernah kau katakan tidak dikala ku benar
Untaian kata bermakna dari mulutmu bagaikan obor bagiku
Yang mampu memberikan cahaya di pekatnya hitam malam
Hangatnya tutur kata dan budimu
Luluhkan jiwaku yang beku dan lumpuhkan rasa dingin di hatiku

Wahai imam ku, imam cintaku
Setiap hari kau goreskan tinta-tinta cinta
Tanpa jenuh kau rangkai tulisan-tulisan itu
Membuatku merasa terpacu kalahkan waktu
Berikan ku secercah semangat tanpa ragu
‘Tuk hadapi hari-hari yang bermula tanpa pasti

Wahai Imam ku, imam cintaku
Tuntunlah hatiku di jalan cinta-Nya
Jangan sampai ku terjerat oleh tali-tali musuh-Nya
Satukanlah irama di hatimu dengan nada di hatiku
‘Tuk ciptakan melodi yang ‘kan kita nyanyikan nanti
Di atas megahnya mahligai cinta yang suci dan diridhoi Illahi
Demi tercapainya tujuan abadi dan cinta hakiki


Martapura, 29 Oktober 2011
Tertulis di kala senja menghiasi jagad raya